Satu menit rasanya seperti satu jam. Dalam kepalanya ingin, namun dalam hatinya menolak. Bagaimana kalau ilmunya kurang? Bagaimana kalau dirinya membuat perusahaan merugi? Bagaimana jika perusahaan itu bangkrut? Gila pikirnya.
"Harus banget sekarang, Pi? Papi mau pensiun?"
'Jadi...' suara itu memecah keheningan rumah bernuansa Eropa.
Ayah dan anak duduk berdampingan, satu moment langka yang terjadi di hari ini. Bukankah ini merupakan keajaiban?
"Jadi apa, Pi?" si bungsu menatap bingung.
'Mengambil alih perusahaan cabang.'
Bisu. Lidahnya kelu.