Udah lama gak mampir t*ku en siang ini pengen ngopi, ternyata baristanya inget dan tanya "tumben kak gak pagi datangnya?". Kebiasaan kmrn2 mampir pagi sebelum ngantor 🤣🤣
#LovelyRunner (2024)
After crossing countless timelines to save Sunjae, Sol finally got her happy ending with him. Rather than being erased, the memories they shared across different timelines became one, ultimately leading them back to each other and allowing them to be together at last.
#YumisCells3 (2026)
After experiencing countless heartbreaks while pursuing her dream of becoming a writer, Yumi finally found her way to Soonrok. He was the last man in her life the man who loved her unconditionally and always made her his priority. At long last, Yumi got the happy ending she deserved with a man who never hesitated to love her, choose her, and spend the rest of his life growing old by her side.
and i blame you dumb b¡tches telling each other exactly cause how is this song an hymn for god or christian music instead of a homage to seoul and his lowkeypseudohomoeroticfriendship with haechan? https://t.co/9o9IELDcfm
Lo mungkin ga baper, tapi bisa jadi si cowok memendam rasa.
Soalnya gue tim yg belum bisa percaya cowok sama cewek bisa sahabatan lama kecuali 2 hal:
1. Cowoknya ga berani mengungkapkan perasaan
2. Tedy.
Kalian adakah yg sampai bener2 sedeket itu tapi cuma sahabatan?
Anehnya Rifaldy Fajar dan Prihantini ini kan bukan dokter, bukan perawat, bukan apoteker, bukan nakes, gak pernah studi kesehatan atau kedokteran. Tapi kok bisa dapat puluhan travel grant selama 2-3 tahun di bidang spesialis kedokteran semua.(?) apa gak heran orang-orang dari sana?
pun perbuatan ini bener bener mencoreng nama baik pendidikan Indonesia loh, pendidikan kita (khususnya kedokteran) udah dipandang sebelah mata, ditambah ada pemalsuan kelas dunia begini apa ga amsyong
Salah satu kutipan yang aku kutip dari buku The Little Prince
''Melupakan teman itu menyedihkan. Tidak semua orang memiliki teman. Dan kalau aku melupakannya, aku mungkin akan menjadi seperti orang dewasa yang tidak tertarik pada apa pun kecuali angka."
Itu kenapa aku nggak bisa benar-benar cutoff orang lain, meski kadang ingin sekali.
Bukan karena aku lupa rasa kecewa, bukan juga karena semua perlakuan bisa dibenarkan.
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
WHEN YAH WHEN YAH 😭😭😭
GIMANA CARANYA DAPAT SPEK BEGINI 🥹 DITOLAK BUKANNYA MUNDUR MALAH CONFESS DUA KALI, CEWENYA RAGU MALAH DIYAKININ 🥺
MAU YANG KECINTAAN BEGINI 😭😭
#Yumiscells3
"Aku dateng pas livenya TY juga dulu, jadi mungkin kaya' ini buat imageku sendiri tapi aslinya engga kok, aku datang karena bener2 tulus mau datang. Jadwalku hari ini juga cukup berat (habis syuting)"🥹
sedih loh sampe dia disclaimer sendiri :(