Selalu ada momen ketika kamu merasa bangga dengan diri sendiri karna segala sesuatu yang udah kamu lakukan, tapi ngebuat kamu jadi “anak yang sibuk, jadi introvert, dan jadi teman yg jarang nongkrong”
Inti point nya adalah : All things have a cost, who you're becoming will cost Who you were.
Guys, di tengah ribuan influencer saham yang kerjanya pamer mobil mewah, flexing porto, dan jualan kelas dengan klaim "sudah kaya" ada satu kisah yang menurut gue jauh lebih layak untuk diperhatikan.
Tidak ada konten.
Tidak ada kelas berbayar.
Tidak ada flexing di media sosial.
Hanya hasil yang berbicara sendiri.
Trader yang namanya ditemukan bukan karena dia promosi tapi karena datanya ketahuan:
dalam keterbukaan informasi kepemilikan saham diatas 1 %
Ada satu nama yang muncul sebagai pemegang saham di atas 1% pada sebuah emiten.
Bulan Maret lalu dia memborong saham itu sebanyak Rp13 miliar.
Tanpa pengumuman.
Tanpa konten.
Tanpa berita apapun yang membahasnya.
Kepemilikannya bahkan sudah mendekati kepemilikan Fidelity Fund dan dua reksa dana lokal. Dan tidak ada satu pun orang yang tahu sampai tools analisis itu menemukannya.
Di akhir April harga saham tersebut sudah bergerak naik.
Ada kemungkinan dia sudah keluar dan menikmati hasilnya lagi-lagi tanpa perlu memberitahu siapapun.
Namanya disebut di kolom komentar:
Bekti Sutikna
Komunitas mengenalinya. Beberapa komentar menyebutnya sebagai "Trader Paling Humble." Yang lain mengingatnya sebagai pemenang lomba trading Mirae Asset di era COVID.
Wong Jogja yang tidak banyak bicara tapi hasilnya nyata.
Dan ada satu komentar dari seorang trader yang menurut gue adalah kalimat paling jujur yang bisa ditulis seseorang tentang perjalanan di pasar saham:
Seseorang yang sangat saya hormati, saya jadikan panutan, jatuh bangun sendiri dari 2008, mulai dari scalping dana kecil hingga seperti sekarang.
Beliau tidak cuma mengajarkan bahwa dunia itu bukan hanya tentang saham saja namun itulah cara untuk tetap bisa khusyuk dalam ibadah dan dekat dengan keluarga."
Yang membuat sosok ini berbeda dan ini yang paling penting untuk dipahami:
Di era di mana algoritma media sosial menguntungkan orang yang paling keras berteriak trader seperti ini adalah anomali.
Dia tidak butuh validasi dari followers.
Tidak butuh tepuk tangan dari komunitas.
Tidak butuh siapapun tahu berapa porto-nya.
Beli diam-diam.
Cuan dinikmati sendiri.
Cut loss pun ditanggung sendiri.
Tidak ada drama.
Tidak ada excuses.
Tidak ada yang disalahkan kalau salah.
Dan justru itulah yang membuatnya bisa bertahan dan berkembang selama belasan tahun sejak 2008 ketika banyak trader lain yang lebih berisik sudah lama menghilang dari pasar.
Kontras yang paling menohok dan ini realita yang perlu lo hadapi:
Di satu sisi ada influencer saham yang hidupnya konten pamer Lamborghini, pamer porto hijau, jual kelas dengan harga jutaan, ajak followers beli saham yang sebenarnya sedang mereka jual.
Di sisi lain ada trader yang memborong Rp13 miliar diam-diam dan baru ketahuan karena datanya muncul di laporan kepemilikan saham yang harus dilaporkan secara regulasi.
dulu beliau di kenal punya padepokan saham di jojgaa tapi ditutup
punya beberapa murid
dan pernah ada murid yang menggukan nama beliau
untuk jualan saham
dengna menunjukkan porto beliau untuk dijual
sampai akhirnya ditutup karna banyak miss
Salut untuk mereka yang kerja diam-diam.
Yang jatuh bangun tanpa penonton.
Yang belajar dari kekalahan tanpa mengeluh di media sosial.
Dan yang akhirnya duduk tenang sambil menikmati hasil dari kesabaran yang sangat panjang.
@LambeSahamjja WAKAKAKAKAK THE BEST SCALPER OF YP MISTER BEK TI SU TIK NAAAAAAAA
Dan Murid yg bikin jdi tutup inisialnya B kan? Kek nama kota di AS wakakakak
Update porto timoti di $BBCA
Kepemilikan: 112.076 lot = 11.207.600 lembar
Modal beli (harga 8.325) 11.207.600 × 8.355 ≈ Rp 93.639.498.000 ( Rp 93,64 M)
Nilai sekarang (harga 5950) 11.207.600 × 5.950 ≈ Rp 66.685.220.000 (Rp 66,69 M)
Kerugian (floating loss) = Rp 26,95 Miliar
atau sekitar -29%
dengan dividen yang pernah diterima
616. 418.000
cuan 616 juta tapi loss hampir 27 miliar
tiap BBCA Trun 1 tik atau 25 poin
porto timoti minus Rp 280,19 juta
atau simpelnya
tiap Turun 100 poin mius Rp 1,12 M
tiap Turun 1.000 poin minus Rp 11,2 M
begitu pula sebaliknya