Kini, ia menyimpan tanya yang tak pernah ia kirimkan. Apakah mungkin, di seberang sana, diamnya serupa? Yang sesekali masih mendengar riak kecil dari kenangan, meski samar, meski tak bersama.
Wajah yang kerap singgah di sela lengang, seperti bayangan yang enggan benar-benar hilang. Dulu, datang bersama tergesa usia, terlalu muda untuk tahu bagaimana menahan, terlalu riuh untuk mengerti arti diam. Maka perpisahan lahir bukan dari dendam.
Kemudian, persua yang tak diminta: dua pasang mata saling singgah, namun lidah memilih bungkam. Ada getar yang tak sempat menjadi sapa, ada rindu yang hanya jadi gema di dalam dada. Seolah-olah udara pun turut malu menyinggungkan kata.