Aku menoleh, suara yang sangat familiar di telinga ku kembali terdengar.
Seperti disambar petir, tubuhku kaku tak bisa bergerak. Suara, senyuman, bahkan wajahnya masih terlihat sama.
Kilatan memori kembali berputar, memenuhi setiap fikiranku.
"Hai, sudah lama tidak bertemu"
Aku menatap matanya dengan lekat, namun sesuatu mengganggu pemandanganku. Tangan kecil itu menggenggam jari telunjuk nya dengan erat.
"Sangat mirip dengan wajahmu, cantik" Ujarku dengan tatapan yang teduh.
Selama ini aku berfikir sudah menghapus tentangmu dari hidup ini. Ternyata salah.
Otakku hanya memanipulasi ini semua agar aku tetap melanjutkan hidup, seakan-akan memori tentangmu tidak pernah ada.
Aku menoleh, suara yang sangat familiar di telinga ku kembali terdengar.
Seperti disambar petir, tubuhku kaku tak bisa bergerak. Suara, senyuman, bahkan wajahnya masih terlihat sama.
Kilatan memori kembali berputar, memenuhi setiap fikiranku.
"Bahkan aku belum mengatakan selamat datang, namun kamu sudah berucap selamat tinggal"
Gumamku dan kembali menatap punggung nya. Semesta seolah tau apa yang terjadi. Angin kencang datang, membuat suasana ini semakin dramatis.
"Aku mencintaimu selamanya"
"Hai, sudah lama tidak bertemu"
Aku menatap matanya dengan lekat, namun sesuatu mengganggu pemandanganku. Tangan kecil itu menggenggam jari telunjuk nya dengan erat.
"Sangat mirip dengan wajahmu, cantik" Ujarku dengan tatapan yang teduh.
Dia tersenyum, membuat dadaku kembali nyeri.
"Terima kasih pujiannya, kalau begitu, aku permisi. Aku harap kamu bahagia"
Ia berlalu, melewatiku begitu saja. Aku berbalik menatap punggungnya. Suaraku tertahan, ada sesuatu yang mengganjal.