La hawla wala quwwata illa billah...
NASA shared images of space from Mars.
In the face of the magnificence of His infinite and supreme power, even spending a whole lifetime in prostration (Sujood) to Allah would not be enough.
Guys lu pada penasaran kagak
kenapa laki-laki bisa selingkuh bahkan dengan perempuan yang secara fisik di bawah istrinya
Jadi begini menurut seorang dokter yang udah 27 tahun nanganin orang bermasalah
dia bilang begini :
Masalahnya bukan di cantik atau jelek
tapi di kebutuhan yang nggak terpenuhi
Banyak orang salah kaprah.
Ngira selingkuh itu karena tergoda fisik.
Padahal menurut penjelasan:
yang dicari itu bukan wajah, tapi rasa.
Di rumah:
Istri sibuk, capek, atau nggak ngerti bahasa cinta suami
Suami ngerasa nggak dihargai
nggak dilayani
atau nggak dianggap penting
Di luar:
Ada perempuan yang nge-serve total
Manja, nurut, perhatian, bikin laki-laki ngerasa jadi raja
Jadi walaupun secara fisik kalah, secara “rasa” dia menang telak.
Cewek selingkuhan itu main di psikologi, bukan logika
Perempuan selingkuhan biasanya:
Lebih manja (padahal pura-pura)
Lebih mengagungkan laki-laki (biar egonya naik)
Lebih “siap melayani” (act of service full)
Sementara istri di rumah:
Sudah jadi “realita” (urus anak, rumah, capek)
Kadang komunikasi keras
Kadang lupa nge-charge “baterai kasih sayang”
Akhirnya laki-laki lari ke tempat yang bikin dia merasa:
dihargai, dibutuhkan, dan jadi penting.
Ini yang paling brutal:
laki-laki butuh merasa jadi hero
Ada bagian otak laki-laki yang pengen:
gue ini pahlawan buat perempuan gue
Nah…
Kalau di rumah dia sering disalahkan → jatuh
Di luar dia dipuja → naik
Dan cewek selingkuhan ngerti banget cara main di sini.
jadi kenapa sering kelihatan “lebih jelek”?
Jawaban jujurnya:
Karena yang dijual bukan tampang, tapi:
perhatian
pelayanan
ego boost
kepatuhan (walau fake)
Sementara banyak istri:
unggul di kualitas nyata
tapi kalah di cara menyampaikan rasa
Selingkuh itu bukan karena:
istri kurang cantik
cewek di luar sana lebih menarik
Tapi karena:
kebutuhan emosional yang kosong
bahasa cinta yang nggak nyambung
ego laki-laki yang nggak keisi di rumah
Laki-laki itu jarang selingkuh karena ketemu yang lebih bagus…
tapi karena ketemu yang bikin dia merasa lebih hidup
kata beliau
Ia kehilangan dirinya secara sopan dan perlahan
lewat senyum yang dipaksakan dan kata-kata yg diperankan
Kini ia adalah orang asing yang paling ramah
Dalam tubuh yg merekah
Ia menang, sebagai orang lain
Guys kata Tom Lembong di podcast Malaka dan ini salah satu yang paling jujur yang gw dengar dari mantan pejabat Indonesia soal kondisi sekarang.
Dia bilang kebijakan luar negeri Indonesia sekarang paling berantakan sejak 1965.
Bukan sejak 1998. B
ukan sejak reformasi. Tapi sejak 1965.
Dan dia kasih contoh konkret yang bikin gw tidak bisa bantah.
Beberapa minggu lalu Indonesia bergabung ke Board of Peace yang diketuai Amerika dan Israel.
Seminggu setelah itu Amerika dan Israel menyerang Iran.
Sekarang Indonesia ngemis ke Iran minta kapal tanker kita boleh lewat Hormuz.
Dan Iran dalam kondisi marah besar habis diserang mau simpati ke kita?
Itu konsekuensi langsung dari kebijakan luar negeri yang tidak berprinsip.
Soal energi ini yang paling bikin gw ngeri.
Stok BBM dan LPG nasional kita hanya ekuivalen dengan 20 sampai 25 hari konsumsi.
Itu saja.
Kalau Hormuz tidak buka dalam 25 hari puluhan kota di Indonesia bisa kehabisan bensin dan gas.
Ibu ibu tidak bisa masak.
Logistik lumpuh.
Bukan skenario jauh.
Itu risiko yang menurut Tom Lembong sangat nyata dan sangat dekat.
Bandingkan dengan Jepang yang stoknya 250 hari. China yang stoknya 1,3 miliar barel.
Mereka sudah siap dari jauh jauh hari.
Kita masih 20 hari dan tidak ada rencana darurat yang jelas.
Dan ini yang paling menyakitkan dari semua yang dia bilang.
Tahun lalu harga minyak dunia lagi murah.
Surplus 2 juta barel per hari.
Itu saat yang sempurna untuk borong dan nambah cadangan nasional.
Tapi tidak dilakukan.
Uangnya dialihkan ke program program lain yang multiplier effect-nya kecil yang kita sudah tau semua itu yaps EMBEGE
Soal tarif Trump Indonesia panik duluan. Buru buru negosiasi. Dapat kesepakatan tarif 19%. Eh satu hari kemudian Mahkamah Agung Amerika batalkan tarif itu karena ilegal. Negara yang tidak panik sekarang cukup bayar 10%. Kita yang paling semangat negosiasi malah kena 19%.
Tom Lembong bilang ini pelajaran lama yang terus diulang. Kalau kita tinggalkan prinsip demi keuntungan jangka pendek hasilnya selalu buruk. Selalu.
Dan kata dia satu satunya hal yang bisa dilakukan masyarakat sekarang hemat. Kencangkan ikat pinggang. Nabung. Dan mulai pikirin alternatif kalau LPG benar benar langka.
Karena pemerintah sendiri belum punya solusinya.