Sepakat dengan poin dari mas Ramzy dan temen-temen @rememberpersib di sini.
Bahwa sepak bola tidak selalu soal hitam dan putih terutama dalam beberapa hal. Serta poin soal menit bermain adalah kebutuhan personal dan jaminan yang harusnya bisa terpenuhi secara maksimal sebagai seorang atlit professional selain aspek finansial.
Seperti yang dilansir oleh @nielsdijkhuizen, baru-baru ini terdengar kabar soal Tim Geypens yang tidak menemui titik temu dengan FC Emmen dalam hal perpanjangan kontrak.
Bahkan, tawaran dengan nilai lebih rendah pun dinilai tidak memadai, sehingga menyebabkan keduanya resmi berpisah.
Dan rumornya Bali United siap memakai jasa dari Tim. Dalam konteks sepak bola, saya rasa ini adalah hal yang wajar. Amat, sangat, wajar.
Saya memahami keresahan temen-temen yang peduli dengan Timnas dan para pemain keturunan-nya. Tapi, rasanya untuk membakar bola api dan mengeluarkan statement yang tendensius juga gak bikin masalahnya jadi hilang.
Jangan lupa, semua klub professional di manapun berhak untuk kontrak siapapun pemain-nya selama kesepakatan professional terjadi antara kedua belah pihak.
Bahwa Liga Indonesia ini masih banyak kurangnya adalah sebuah hal yang harus diakui. Tapi, kita pun tidak bisa memungkiri jika Liga Indonesia adalah salah satu Liga "terpanas" yang ada di Asia.
Pendiskreditan yang terjadi pada Liga Indonesia ini saya rasa sudah terlalu berlebihan. Bahkan saya merasa kalo hal-hal tersebut malah seakan menghambat perkembangan dari Liga Indonesia dan bahkan Sepakbola Indonesia secara keseluruhan.
Kaya... Dukung Tim Nasional tapi terus-menerus mendiskreditkan Liga-nya tuh buat saya jadi hal aneh yang muncul dari mereka yang menyebut dirinya peduli pada sepak bola Indonesia. Hal-hal tersebut pada akhirnya membuat saya ingin berucap... "Ari sia cageur?!"
"Jika timnas-nya bagus, itu hanya akan menjadi modal Politik; Tapi jiga sepak bola-nya yang baus, itu bisa menjadi modal sosial."
Saya rasa kutipan dari Zen RS soal sepak bola tersebut akan selalu mempunyai makna dan korelasi terhadap kondisi persepakbolaan di negara ini. Terlebih lagi di kondisi Sosial-Politik seperti sekarang.
Juga... rasanya penggunaan diksi "Liga Kangkung, Lig Ang, Liga antah-berantah" dari para Influencer ulung-pun menjadi salah satu alasan kenapa polemik soal pemain keturunan yang memilih untuk bermain di Liga 1 ini selalu jadi hal panas yang gak pernah berhenti.
Yang uniknya, liga yang sering mereka anggap sebagai "Liga yang buruk" malah menjadi salah satu ladang pendapatan yang cukup besar untuk pribadinya masing-masing. Sebuah ironi yang saya rasa sudah bukan hal aneh lagi di Indonesia.
Terlepas dari itu semua, semenjak Persib Bandung berhasil meraih titel Juara selama tiga tahun berturut-turut, saya rasa pada akhirnya Liga Indonesia mulai memiliki daya tawar dan mendorong tim-tim pesaingnya di Liga untuk berada di level yang lebih baik lagi.
Dari Shin Tae Yong yang mulai menahkodai Persija Jakarta, hingga Johnny Jansen yang sekarang memasuki tahun kedua-nya bersama Bali United. Belum lagi Layvin Kurzawa yang secara tidak langsung mengangkat nama Liga Indonesia menjadi lebih dikenal oleh publik yang lebih luas. Bahkan soal rumor kedatangan Ante Rebic ke Persija Jakarta yang ramai belakangan.
Saya rasa, itu semua terjadi bukan hanya karena sebuah kebetulan. Tapi memang perlahan, nilai dan daya saing dari Liga Indonesia perlahan menuju ke sisi yang lebih baik. (meskipun emang masih banyak kurangnya, but hey! It's a good thing!)
Sebagai penutup, izinkan saya untuk mengutop cuitan Coach @ardynshufi di salah satu tulisannya.
"Jika para pemain dan nama-nama besar dapat melihat dan menilai bahwa Liga Indonesia mampu menjadi kompetisi yang menjaga performa sekaligus meningkatkan kualitas dirinya, kenapa kita tidak?"
@NOT_MOTD So? Set pieces are part of the plays too and the goals from set pieces counted too. Champions are determined by the team who got the most points at the end of campaign, not the team who scored the most
@realmadridindo1 Dikritik sama fans klub tuh harusnya bayar lunas sama penampilan di lapangan, dikritik fans malah pundung ganti bio di sosmed & ngadu ke presiden klub
If you haven't seen Micky van de Ven's solo goal yet watch this! 😱
...and if you have seen Micky van de Ven's solo goal watch it again! 🤯
#UCLGOTD | @Heineken
@WhatHellSaid@SpieltagIndo Kayaknya tergantung skema & taktik pelatihnya itu sih, basically pemain jebolan bundesliga gak kalah jauh kualitasnya sama liga eropa lain