buset sekelas pertamina, bumn, bergerak di sektor energi yg saingannya bisa dibilang minim, memonopoli pasar dalam negeri, mendapat dukungan dari negara tapi menggaji manusia 1.8 juta????????????
aku selalu berperinsip kalo temenku karirnya lebih bagus, gajinya lebih banyak, sering jalan2 ya good for them dan aku ikutan happy karna jatuh bangunnya kan ga mungkin diposting, mereka bisa sampe dititik itu jg pasti pake air mata jd knp harus iri?
Kasus mas-mas Tenue alias Rahman ini jadi pembelajaran sih buat semua business owner.
Gak boleh ketergantungan sama 1 orang. Brand bisa goyang pas si content creator resign, bahkan redup seketika.
Redup di sini bukan berarti penjualan menurun. Bisa saja stabil, tapi pamor di medsos anjlok. Karena wajah brand melekat sama si content creator.
Kalau jadi business owner, gue bakal siapkan 2 opsi:
1. Gue yang ngonten
Pemilik usaha harus mulai berani in frame. Biar wajah lu sekaligus jadi representasi brand. Rekrut tim buat bantu produksi di belakang layar.
Ini juga cocok banget buat bisnis skala UMKM. Orang-orang berpotensi lebih tertarik sama produk lu karena yang ngonten si owner langsung.
2. Semua karyawan ngonten
Jangan pakai format konten yang nge-highlight 1 orang. Libatkan semua karyawan untuk masuk dalam konten brand.
Tugas tim content main di belakang layar untuk buat ide, script, dan lain-lain. Gak lagi dibebankan ke satu orang buat gendong medsos.
Nanti audience bakal ngelihat orang-orang berbeda dengan value yang sama. Yang kesorot “Brand apa sih ini? Seru gini karyawannya. Jual apa ya mereka?”
Andai lu jadi business owner, apa yang bakal dilakukan biar kasus kek gini gak terulang? Yuk kita diskusi bareng.
Gue termasuk tim kasih kabar. 😎
Bukan karena posesif, bukan juga karena pengen laporan kegiatan per 15 menit kayak absensi sekolah.
Tapi karena menurut gue, ngasih kabar itu bentuk paling sederhana dari rasa peduli.
"Aku telepon ya nanti." "Aku kabarin kalau udah sampai." "Aku lagi sibuk bentar, nanti chat lagi."
Kalimat-kalimat receh kayak gitu mungkin cuma butuh 5 detik buat diketik, tapi efeknya bisa bikin orang yang nunggu jadi tenang berjam-jam.
Lucunya, banyak orang yang sanggup nonton story 27 orang, scroll timeline 3 jam, bahkan sempet debat sama orang asing di internet, tapi ngirim pesan "aku masih kerja ya" terasa seperti misi NASA.
Menurut gue, kasih kabar itu bukan soal kontrol. Itu soal menghargai waktu dan perasaan orang yang peduli sama kita.
Karena nunggu tanpa kejelasan itu capek. Apalagi kalau yang ditunggu terakhir bilang, "sebentar ya," terus hilangnya lebih lama dari masa jabatan presiden. 😜
Makanya gue selalu nganggep komunikasi itu bukan tentang intensitas, tapi konsistensi.
Lo gak harus chat tiap menit. Tapi kalau ada orang yang sayang dan peduli sama lo, jangan dibiarin nebak-nebak nasib kayak lagi baca ramalan zodiak.
Kalau buat gue, ngasih kabar itu bare minimum.
Kalau kalian gimana? Tim "aku kabarin ya" atau tim "kalau penting juga nanti muncul sendiri"? 😁