Yamal a 19 ans
Il porte le numéro 19
La finale de la Coupe du monde c’est est le 19
Et il va jouer contre Messi 19 ans après être lavé par celui ci et qui portait le numero 19 à l’époque
Momen yang sangat apa!
UNICEF sendiri akhirnya mengonfirmasi bahwa foto ini adalah NYATA!
Tepat beberapa hari sebelum keduanya bertemu di final Piala Dunia 🥹🇦🇷🇪🇸
1-0 kok parkir bis kocak
Mesir yang udah 2-0 parkir bis aja kena geprek.
itu Argentina isinya supir bis damri semua, lu parkir bis, dipindahin sama mereka
Apa yg dalam kemasan, adalah sama dengan apa yg ditampilkan di luar kemasan. Dalam fiqh muamalah, inilah yg dimaksud dengan ‘khitman’ (larangan menyembunyikan, khususnya cacat) dan bebas dari ‘gharar’ (ketidakjelasan objek transaksi).
REKTOR ITB KE KOMISI X DPR:
KAMI CUMA DIBIAYAI APBN 18%, UKT 26%, SISANYA CARI SENDIRI!
INI KAMI SANGAT BERAT!
DI MALAYSIA, KAMPUS DIBIAYAI APBN 45%.
DI CHINA, 70-80%.
DI SINGAPURA, ANGGARANNYA 10x ITB, 50% DARI APBN.
KITA KAYA KAMPUS DI AMERIKA YANG CUMA 10% APBN.
Artis yang bener-bener nampak kuliahnya itu mas Anang Hijau. Beliau ikut kerja kelompok, patungan banner sampaiii ikutan trend lepas lakban di spanduk 😆🤣
Jejak digital ga bohong, yang spill kawan-kawan kuliahnya😬
Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhari. Intinya, "Menyerahkan suatu urusan, keputusan, atau tanggung jawab kepada seseorang yang bukan ahlinya (tidak memiliki kompetensi/ilmu) adalah sebuah bentuk pengkhianatan amanah yang akan berujung pada kekacauan dan kehancuran".
Dalam psikologi sosial, sentimen kelompok kognitif rendah terhadap kognitif tinggi, bisa disebut dengan Anti-Intelektualisme. Kelompok yang merasa tertinggal secara kognitif atau pendidikan sering kali mengembangkan rasa tidak percaya atau permusuhan terhadap kelompok "elit intelektual."
Menurut Social Identity Theory (Tajfel & Turner), setiap kelompok berusaha mempertahankan citra positif tentang diri mereka. Ketika kelompok kognitif tinggi dianggap sebagai standar "kesuksesan," kelompok lain mungkin merasa terancam secara psikologis.
Kelompok kognitif rendah sering memandang kelompok kognitif tinggi sebagai sosok yang sombong, tidak praktis, atau tidak peka terhadap realitas hidup orang biasa. Hal ini menciptakan jarak emosional yang memicu kebencian.
Untuk menyeimbangkan rasa rendah diri kognitif, kelompok ini sering menekankan nilai-nilai lain seperti "moralitas," "kejantanan," "akal sehat (common sense)," atau "kepatuhan pada tradisi" sebagai bentuk keunggulan mereka atas kelompok intelektual.
Penelitian oleh Hodson dan Busseri (2012) menunjukkan adanya korelasi antara kemampuan kognitif yang lebih rendah dengan tingkat prasangka yang lebih tinggi terhadap "outgroups" (kelompok luar).
Hal ini dikarenakan individu dengan kognitif rendah cenderung lebih menyukai struktur yang kaku dan hierarki sosial yang jelas untuk merasa aman di dunia yang kompleks.
Kritik yang logis memaksa seseorang untuk berpikir lebih keras (cognitive strain). Menyingkirkan pengkritik intelektual adalah cara termudah bagi kognitif rendah untuk kembali ke kondisi "nyaman" di mana keyakinan mereka tidak dipertanyakan.
Jika dominasi kelompok rendah didasarkan pada dogma atau narasi tertentu, maka intelektualitas adalah ancaman eksistensial. Menyingkirkan intelektual adalah bentuk mekanisme pertahanan diri kelompok.
Kelompok kognitif tinggi akan diberi label negatif seperti "elitis," "sok tahu," "tidak nasionalis," atau "pengkhianat rakyat." Ini bertujuan untuk merusak kredibilitas mereka di mata publik sebelum argumen mereka sempat didengar.
Dalam organisasi atau pemerintahan, kelompok mayoritas mungkin menerapkan sistem seleksi yang lebih mengutamakan loyalitas dan keseragaman daripada kompetensi atau kecerdasan. Orang-orang cerdas yang kritis sengaja tidak diberi ruang agar tidak "mengganggu" arus utama.
Ketika kelompok kognitif rendah berhasil menyingkirkan pengaruh kelompok kognitif tinggi, masyarakat tersebut biasanya mengalami fenomena yang disebut The Race to the Bottom atau kemunduran standar.
Karena kritik dianggap sebagai gangguan, tidak ada ruang untuk perbaikan. Kesalahan yang sama diulang terus-menerus karena tidak ada yang berani (atau mampu) mengoreksinya.
Individu-individu cerdas di dalam kelompok tersebut akan memilih untuk diam (silent majority) atau pergi ke lingkungan lain yang lebih menghargai kecerdasan (brain drain), yang pada akhirnya semakin memperlemah kelompok tersebut.
Ini hampir mirip dengan kejadian tahun 60-an di mana 1 generasi intelektual hilang hanya gara-gara politik "kelompok kognisi rendah."
Tidak disangka, hari ini kita akan mengalaminya lagi. 1 generasi dipersekusi, diusir, dan akan "hilang" digantikan dengan perut yang kenyang (MBG).
Kebetulan sekarang kami jadi satu industri. Aku dan Ginka.
Ku jelaskan secara awam tugas KOMISARIS di industri ini.
Garis besarnya;
Dia mengawasi direksi,
membaca risiko,
mengkritisi proyek,
menjaga governance,
dan memastikan perusahaan tidak dibajak kepentingan non-teknis.
Nah kalau orang yang dipilih berdasarkan loyalitas doang bukan kompetensi. Udah jelas arahnya. Supaya tugas diatas GA ADA YANG REM. Direksi bisa jalan tanpa koreksi tajam, proyek bisa lolos tanpa pertanyaan keras, procurement bisa minim kontrol, dan keputusan strategis bisa lebih mudah ditarik ke kepentingan politik.
Jabatan dia murni stempel doang, untuk kepentingan orang-orang di atas.
Dan orang-orangnya kayak Ginka ini menjamur di BUMN kita.
Soooo....Good luck WNI 😂😂😂
in This Economy They Said "Efficiency"
PNS latsar : daring via zoom ❌
KDMP latsar : seragam lengkap, barak, training komcad 1,5 bulan ✅
PNS pemda, kerja pake laptop pribadi karena pengadaan ditiadakan sejak 2020 untuk refocusing Covid, sampai sekarang. Giliran KDMP yang cuma jaga toko gak jelas, malah dikasih seragam sampai tumbler. PNS disuruh beli seragam sendiri.
Aku gak iri atas nama pribadiku, soalnya aku bisa beli sekaligus jualan blazer warna khaki kulakan di Shopee, tapi kan kasian para PNS yang gak jualan, terpaksa beli seragam. Pret bangetlah.
cc:threadawaluddinrizal