@direktoridosen Jujur, saya dari remaja selalu bingung dan enggak tau mau jawab apa, ketika ditanya, "Target kamu nikah diumur berapa?" Cuma ngang ngong sampai sekarang. Hahaha. Masih mempertanyakan kepada diri sendiri 🤣
Kenapa sih, di Indo tuh sex edu hanya berhenti di reproduksi dan penetrasi? Kenapa gak ngebedah boundaries, consent, relasi kuasa.
Perempuan banyak ketidaktahuan tentang haknya. Akhirnya, mostly mereka nggak punya bahasa untuk menamai apa yang terjadi pada mereka. Nggak tau kalau yang dialami itu manipulasi, coercion, atau pelecehan. Dari kecil nggak pernah dikasih framework untuk membaca situasinya.
Padahal, kalau perempuan tahu consent, dia bisa bilang tidak. Kalau dia paham relasi kuasa, dia bisa mempertanyakan struktur yang selama ini menguntungkan pihak tertentu.
Menurutku, kehancuran seseorang, baik laki-laki maupun perempuan sering kali bukan datang tiba-tiba. Ia tumbuh pelan, dari kebiasaan, luka, dan kehilangan arah.
Kehancuran laki-laki sering bermula dari hal-hal yang ia anggap sepele:
1. Judi, ketika harapan digantungkan pada keberuntungan, bukan usaha.
2. Mabuk, saat lari dari masalah terasa lebih mudah daripada menghadapinya.
3. Terlalu menuruti hawa nafsu, hingga perempuan hanya jadi pelarian, bukan tanggung jawab.
4. Kehilangan peran ibu, kehilangan doa, nasihat, dan sosok yang biasanya paling tulus mengingatkan.
Laki-laki hancur bukan hanya karena dunia keras, tapi karena ia lupa menjaga dirinya sendiri.
Gua mutusin tunangan gua karena dia toxic. 4thn kemudian dia kontak gua lagi. Gua enggak merespon secara intens. 1thn berlalu, dan dia tiba-tiba ngajakkin balikan. Gua tolak dan bilang, "INGET KAN, KENAPA GUA MENGAKHIRI HUBUNGAN GUA SAMA LU ITU, KARENA APA?". ☺️☺️☺️
pas lagi tinggi2 nya stres dan kalut dikejar hutang milyaran, karena dirumah berantem terus sama ibu, saya pergi gitu aja untuk ngekost buat fokus belajar google adsense. waktu itu lumayan akhirnya bisa ngomset 1 juta per hari dengan modal iklan Rp 300.000/hari.
pas mau ngabarin ibu kalau saya ngekost hp saya kecemplung di wc dan rusak, mau balik ke rumah nanggung.
akhirnya baru pulang 3 hari kemudian, orang rumah ngira saya bunuh diri karna gak ada kabar, ibu saya sih santai karna emang biasa dilepas, tapi kakak saya udah mau lapor polisi 🥲
bener2 fase hidup yg kacau~
Laki laki itu maunya perempuan yg cantik, putih, pulen, tinggi, langsing, jago masak, rajin, hemat, gk ada bulu+kinclong, dan segala halusinasinya. Dan menurut mereka itu wajar, sedangkan perempuan hanya bilang ingin pasangan kaya langsung dibilang matre
Sebenernya kalo sholat jum'at, topik khutbahnya biasanya ape sik?
perasaan masjid banyak, jamaah rame, tapi masih pada getol aja ngelecehin, main slot, mukul bini, dan seterusnya di negara mayoritas Islam ini.
Ga cukup diceramahin seminggu sekali apa emang pada gak dengerin?
Inget ya guys, jgn menikah krn tututan lain, selain karena sudah siap dan sudah menemukan orang yg tepat.
Karena jika kita menikah dengan orang yg tepat, bahkan maut pun ga akan pernah bisa memisahkan.
YTTA.
Di platform sebelah (LinkedIn), gw sering liat orang ngeluh
“Profile gw udah rapih, tapi kok ga ada recruiter yang nyamperin ya”
Jawabannya simpel
Lo kayak bikin CV mahal, terus disimpen di laci
LinkedIn itu ga cuma soal profile rapih
Ini soal lo nunjukkin ke sistem kalau lo aktif dan relevan
Kalau lo cuma posting dan komen sekali-sekali, apalagi komen lo cuma:
- Interested!
- Congrats ya!
- Saya tertarik!
ya jangan heran kalau profile lo bakalan tenggelam
Mulai aja dari hal kecil
Like, comment, dan post beberapa kali seminggu
Bukan biar keliatan sibuk
Tapi biar nama lo nongol terus di radar recruiter
Gw udah liat orang yang awalnya ga pernah dapet panggilan
Cuma gara-gara aktif 2-3 minggu, inbox mereka mulai rame
LinkedIn itu mainnya di konsistensi
Kalau lo ga muncul, ya lo dilupain
Punya pemikiran kaya gini di umur 20an. HEBAT SIH.
Gak mungkin resepnya cuma jadi orang kaya. Karena banyak temen dulu yg ortunya kaya, tetep aja mentally insecure akut.
Such an inspiration for me and my daughter.
Kalau CV lo kosong, isi aja pakai project pribadi.
Misalnya:
– Anak akuntansi? Bikin simulasi laporan keuangan UMKM.
– Anak marketing? Bikin analisis campaign brand tertentu.
– Anak IT? Bikin mini app atau simple web.
Upload di Google Drive, GitHub, atau portfolio site.
Lebih baik ada karya "sederhana" daripada CV kosong melompong
Banyak cowok ngeluh “cewek sekarang matre dan mau enaknya doang”, ya emang 😂
Aku kalau punya pasangan juga bakal minta duitnya buat modal usaha bareng, invest logam mulia, nabung buat masa depan, sedekah ke yang membutuhkan. Jangan kan cewek, cowok hidup susah juga ga bakal mau
jujur ga pengen jadi wna, ga pengen juga punya passpor kuat, jarang ke luar negeri juga
cuma pengen indonesia bener, kesehatan memadai, fasilitas pendidikan merata, hukum adil, tenaga medis dan pendidik digaji layak, koruptor dimiskinkan, timnas masuk pildun, matahari di bekasi dikurangin satu, meme pria solo hilang
udah itu aja dulu
Postingan Dr. Ose ini bener-bener eye-opener soal dyspareunia, alias seks yang sakit, yang katanya common banget tapi sering diem-dieman karena malu atau dianggap hal tabu. sebenarnya seks nggak boleh bikin sakit itu harusnya enjoyable buat dua-duanya. Tapi nih, yang bikin pro kontra: Banyak kasus pain ini karena cowok yang buru-buru atau egois, nggak ngerti foreplay atau arousal cewek, sampe bikin cewek nggak siap dan akhirnya sakit. Malah ada yang bilang pain itu "normal" buat cewek, padahal itu bullshit dan bisa bikin trauma panjang, apalagi di budaya kita yang tabu bahas seks. Harusnya cowok lebih belajar tanggung jawab di ranjang, bukan cuma nyalahin "ceweknya kaku" atau apa. Kalau gini, pasti ada yang pro (bilang iya, edukasi penting) dan kontra (yang defensif bilang "nggak semua cowok gitu" atau "itu urusan pribadi").