My fully respect towards the victims and their family. But, we need to make this protest and riot as a culture. Officials should never feel at ease when people never feel ease at all.
Mengunjungi kembali salah satu film paling sedih yang jadi favorit saya sepanjang masa: A Ghost Story. Film ini kayak ngajak kita duduk di pojokan, mikirin makna hidup sambil nge-loop lagu sendu kesukaan.
Menonton A Ghost Story dibutuhkan keberanian ekstra, bukan karena ada “hantu” di judul dan filmnya yang hadir dalam wujud Casey Affleck berkostum ala hantu sprei konyol macam —-> 👻 yang menyaksikan dunia terus bergerak maju tanpa dirinya—orang-orang datang dan pergi, rumah dibongkar dan dibangun kembali, bahkan abad berganti. Hantunya bukan untuk menakuti, tapi untuk mengamati, dan mungkin—dalam diam—merindukan sesuatu. Tapi mungkin karena pacing-nya yang berjalan begitu pelan yang menyiksa penonton gak sabaran—bahkan sutradara David Lowery aja sampe ngasih 5 menit sendiri tanpa putus, tanpa dialog cuma buat scene Rooney Mara habisin satu loyang pie coklat sembari bersedih ria—.
Namun buat saya mungkin yang paling menakutkan dari A Ghost Story adalah filosofi meditatifnya tentang cinta, memori, kesendirian abadi, kematian, eksistensi, juga tentang betapa kecilnya kita di dunia ini, sementara waktu dan kehidupan akan terus berjalan seperti biasa setelah kita mati. Semua berhasil dihadirkan Lowery begitu dalam, begitu lembut dan begitu indah untuk dirasakan tiap kesedihannya bukan untuk menjawab pertanyaan kenapa dan mengapa.
4,5/5