Heran deh.
Lagi ngeluh soal harga minyak goreng yang naik lagi, malah dibilangin harusnya ikut seneng soalnya petani menikmati kenaikan harga setelah sekian lama.
Bro, like come on? Ini bukan soal rakyat gak seneng petani bahagia, ini tentang kritik manajemen bobrok.
“Para bapak, sudahi prinsip: mendidik anak laki-laki itu mudah. Turun tangan, didik anak laki-lakimu”
Semalam 16 mahasiswa FH UI disidang sampai jam tiga pagi, sidang terbuka, disaksikan secara live oleh ribuan orang.
Kejadian ini tidak tiba-tiba. Ini akumulasi. Terlalu lama society menelan mentah-mentah prinsip: “mendidik anak laki-laki itu mudah.”
TIDAK.
Justru karena dianggap mudah, banyak hal yang tidak diajarkan. Lihat saja pola yang sering diremehkan:
Berawal dari obrolan santai yang melecehkan, jadi kebiasaan, jadi cara pandang, lalu jadi perilaku nyata (liat gambar piramida perkosaan)
Tidak semua langsung jadi pelaku kekerasan seksual. Tapi hampir semua berangkat dari titik yang sama: normalisasi.
Society sibuk mendidik anak perempuan: jaga diri, jaga batas, jaga perilaku. Tapi kendor pada anak laki-laki.
“Namanya juga laki-laki.”
“Cuma bercanda.”
“Nanti juga ngerti sendiri.”
"Boys will be boys"
Tidak.
Karakter tidak tumbuh sendiri. Ia dibentuk. Dilatih. Ditegaskan.
Orang tua, perhatikan obrolan anak laki-lakimu. Kalau sudah mulai ada convo yang melecehkan: Tegur. Luruskan. Jangan ditertawakan atau dianggap enteng. Karena di situlah fondasi dibangun.
Terutama para bapak. Anak laki-laki belajar bukan dari teori, tapi dari contoh.
Bagaimana kamu bicara tentang perempuan. Bagaimana kamu memperlakukan pasanganmu. Bagaimana kamu menempatkan perempuan sebagai manusia, bukan objek. Semua itu direkam.
Dan akan mereka ulang.
Ketika seorang bapak menganggap mendidik anak laki-laki itu mudah, dia sedang memilih untuk menjerumuskan anak dengan tidak hadir secara penuh, tidak waspada, hingga di satu titik si anak bisa jadi pelaku ataupun korban.
Anak kemudian dibesarkan oleh algoritma, oleh teman, oleh budaya yang seringkali permisif terhadap pelecehan dan standar moral yang yang tidak sehat.
Kalau kita tidak serius mendidik anak laki-laki hari ini, jangan kaget dengan realitas besok. Karena pelaku tidak lahir tiba-tiba. Mereka dibentuk pelan-pelan, dari hal-hal yang selama ini dianggap “sepele.”
Just incase ada yang komen: "emang siapa yang bilang mendidik anak laki-laki itu mudah? Saya dididik dengan sangat keras"
Oh well, cara pandang itu sudah mengakar sejak lama di masyarakat.
Di hukum internasional, ruang udara itu beda banget sama laut. Di laut, kita kenal istilah Innocent Passage (Hak Lintas Damai) berdasar UNCLOS. Artinya, kapal militer asing boleh lewat laut teritorial kita asal nggak macem-macem.
TAPI, di udara, tidak ada yang namanya Hak Lintas Damai! Menurut Konvensi Chicago, ruang udara di atas daratan dan perairan negara adalah kedaulatan mutlak dan eksklusif. Pesawat sipil asing saja harus punya izin melintas, apalagi pesawat militer.
Soooo mengizinkan sistem blanket overflight untuk armada tempur asing sama dengan mendelegasikan sebagian kedaulatan mutlak negara ke tangan negara lain.
Ini adalah privilese yang biasanya hanya diberikan kepada negara sekutu terikat pakta pertahanan (seperti NATO), bukan kepada negara berstatus Non-Blok.
Kalau Indonesia sampai ngasih ini ke AS, secara teknis kita telah me-redefinisi ulang arti kata kedaulatan dalam konstitusi kita sendiri.
@alanaanastasya Kelas computer? Ms office lengkap walaupun word paling dominan. Dapet juga belajar gambar pakai paint dan corel draw.
Setelah smp? Agak kaget soalnya pada gatau tenses. Jangankan yang susah, make pronouns aja berantakan. Komputer? apalagi.
Sungguh ketimpangan.
@alanaanastasya Sebagai anak yang SD Swasta-SMP Negeri, turut relate dengan ini.
Jaman SD udah belajar 3 bahasa (Indo, Eng, & Man). Bahasa Inggris kelasnya ada 2, Teori dan Praktik. Praktik biasanya nonton film, ngobrol sama native, bahkan ada english camp di akhir tahun.—
Kalau keperawanan menandakan kesetiaan perempuan, harusnya perempuan perawan usia 30+ dihormati dan disembah di dalam masyarakat bukan diolok olok gak laku.
Yes bener, jaringannya lebih kecil.
Setelah 6 tahun membangun jaringan sensor kualitas udara Nafas, kami harus mengambil keputusan yang sangat berat.
Kami harus mengecilkan jaringan kami.
Bukan karena datanya tidak penting. Tapi karena pendanaan untuk jaringan ini tidak cukup. Kami sudah berusaha keras. Cari funding, cari sponsor, cari cara supaya jaringan ini bisa terus jalan. Tapi kenyataannya, membangun infrastruktur publik seperti ini butuh dukungan yang jauh lebih besar dari yang bisa kami tanggung sendiri.
Karena itu, kami mengubah jaringan sensor Nafas menjadi sebuah Yayasan - @yayasannafas . Artinya jaringan ini sekarang milik publik. Dan kalian bisa ikut menjaganya.
Ada 3 cara kalian bisa bantu:
1. Donasi langsung lewat Kitabisa (link di tweet berikutnya)
2. Sponsori satu sensor. Bisa patungan bareng komunitas kalian.
3. Ajak perusahaan kalian untuk sponsori kampanye kualitas udara.
Kalau kalian tertarik sponsori sensor atau kampanye, DM saya langsung - bisa disetup untuk sensor2 tertentu.
Kami sudah kasih yang terbaik selama 6 tahun ini. Sekarang kami butuh bantuan keluarga digital kami.
Kalau kalian nggak bisa donasi, bantu share ke orang yang mungkin bisa.
Itu sudah sangat berarti. 🙏
Siapa yang kemarin ziarah kubur, cabutin dulu rumput ini?
Kadang rumput di tanah kuburan sering “itu-itu aja”.
Banyak orang anggap ini kebetulan. Atau bahkan ada yang bilang ini rumput kuburan.
Padahal ini kode.
Rumput yang tumbuh adalah indikasi dari kualitas tanah. Dalam 1 meter persegi ada banyak spora dan biji rumput tapi yang tumbuh hanya yang sesuai dengan kondisi tanah tsb.
Pada tanah yang rusak, yang terlalu banyak disemprot herbisida sehingga tanah menjadi padat dan beracun.
Maka rumput yang bisa tumbuh adalah rumput lulangan yg keras dan kaku. Tujuan alam menghadirkan rumput lulangan adalah untuk memperbaiki tanah. Akar rumput memecah tanah, di akarnya juga tinggal bakteri yg mampu memperbaiki tanah yg beracun.
Alam punya mekanismenya sendiri untuk memperbaiki dan menyembuhkan dirinya sendiri.
Jika rumput lulangan dipotong, kemudian potongannya biarkan disitu, nanti tumbuh lagi, kemudian dipotong, setelah beberapa kali pemotongan maka tanah menjadi gembur kembali.
maka jenis rumput yg lain akan tumbuh. Pada tanah yg subur akan tumbuh berbagai jenis rumput dan tumbuhan.
Rumput bukan musuh petani. Rumput adalah sahabat petani.
@biqmec@txtdrdosky Kayaknya yang kemarin bukan apatis, tapi lebih ke emang siapa yang mau dipilih? Gaada yang bener juga itu paslonnya.
Ibarat keluar kandang singa, masuk kandang buaya.
@Catloverunyu@Cilorconnoistre Tapi tetep tidak serta merta diperbolehkan melakukan tindakan kriminal dong?
Sakit hati dan merasa dipermainkan sah aja, tapi ya gak perlu ngapak orang juga.
Sebuah ironi sunyi, melihat pria merasa menaklukkan dunia hanya karena mampu membeli atap, lalu bertanya angkuh, "Selain rahim, apa yang kau bawa?"
Kau menanam benih sekilas embun, tapi dia meretas tubuh dan bertaruh nyawa sembilan purnama. Kau bisa membeli pilar kokoh, tapi istana tanpa telinga yang mendengar hanyalah pusara megah.
Jika cintamu cuma hitungan neraca "aku beri harta, maka kau harus tak bersuara", pelihara saja undur-undur dan kelomang di dalam toples kristal. Undur-undur akan selalu berjalan mundur menuruti egomu, dan kelomang bahkan sudah menggotong rumahnya sendiri tanpa perlu kau repot membelikannya. Mereka jinak, bisu, dan tak banyak menuntut.
Tapi saat kelak kau menua dan rapuh, undur-undur itu cuma bersembunyi di balik pasir, dan kelomang hanya akan meringkuk pengecut di dalam cangkangnya. Tak ada jemari lembut yang merawat, tak ada doa di sepertiga malam yang mengetuk langit. Karena harta bisa ditransaksikan, tapi rasa "pulang" tak dijual di etalase manapun.
tommy tanpa pengalaman moneter tetap yakin mampu jadi Deputi BI,
mooncherry gak ada background HRD pasang tarif tinggi jadi konsultan CV.
2026 tahun penuh percaya diri.