بسم الله الرحمن الرحيم
Sedikit pengalaman saat sy sakit dengan gejala² mirip penyakit yg sedang mewabah. Semoga semakin banyak yang bisa mengambil manfaat.
Disebabkan penyakit ini lebih menyerang qalbu, maka sy sarankan:
@DokterTifa Usul...
Senantiasa jadi wanita yg elegan...
Bukan berarti mewah...
Itu saja
Semoga Allah azza wa jalla memudahkan urusan baik Bu Dokter, Pak Roy dan teman2 semuanya...
Aamiin
@DokterTifa 'Afwan...
Allah azza wa jalla yg menolong...
Semesta itu jauh lebih kecil dari Allah azza wa jalla dan ga punya kemampuan apa pun tanpa rahmat Allah azza wa jalla... Karena merupakan salah satu ciptaan Allah azza wa jalla...
Komparasi skutik maxi 150cc - 160cc.
Awalnya buat manas2in Suzuki supaya cepat ambil keputusan masukin Burgman 150 (Haojue UFR 150), malah kepincut sama mocin lainnya...
@rexvil@ddaisyours Berpikir sebelum bertindak. Atau kalau dalam Diin Islam, Al Ilm qabla 'amal. Ilmu sebelum perbuatan.
Semoga menjadi lebih bijaksana dan bijaksini.
@BangPino__ Ane malah senang kalau dapat dosen pembimbing skripsi modelan seperti ini. Soalnya pikiran kita ditantang sampai batasnya. Tapi, beliau juga ngasih penjelasan/ jalan buat nyelesain skripsi.
Maa syaa Allah
Guys, ada kasus yang menurut gue perlu lo dengar karena ini bukan cuma soal satu anak di satu sekolah di Pemalang. Ini adalah cerminan dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Seorang orang tua di Randudongkal, Kabupaten Pemalang sebut saja Bapak ini memposting sesuatu di media sosialnya.
Isinya dua hal: kritik terhadap implementasi MBG dan pengingat bahwa sekolah negeri dilarang memungut biaya LKS dan infak berdasarkan aturan pemerintah yang sudah berlaku.
Dia tidak menyebut nama sekolah anaknya.
Tidak menyebut nama kepala sekolah.
Tidak menyebut nama guru siapapun.
Tapi anaknya Mas Azhim, siswa SD N 01 Banjarayar dikeluarkan dari sekolah.
Yang terjadi secara kronologis:
Bapak ini memposting kritik soal MBG dan pungutan liar di sekolah negeri di akun media sosialnya.
Kepala sekolah memanggil dia.
Dan setelah pertemuan itu anaknya diberhentikan secara sepihak.
Tidak ada surat resmi pemberhentian yang prosedural.
Tidak ada proses klarifikasi yang fair.
Tidak ada mekanisme banding.
Satu pertemuan dan anak itu tidak boleh masuk sekolah lagi.
Dua bulan lebih Mas Azhim tidak mengikuti pelajaran. Dua bulan lebih seorang anak SD kehilangan haknya atas pendidikan bukan karena dia berbuat salah, tapi karena bapaknya berani bicara.
Dan di atas itu semua Mas Azhim juga mengalami bullying.
Bukti percakapan yang beredar dan ini yang paling mengejutkan:
Ada screenshot percakapan WhatsApp yang beredar. Pihak sekolah melalui salah satu guru membalas pesan si Bapak dengan kalimat yang menurut gue sangat mengungkapkan segalanya:
Meskipun njenengan tidak menyebutkan identitas sekolah, tapi kan masyarakat tahu kalau Mas Azhim sekolah di SD N 01 Banjarayar, jadi menggiring opini publik ke SD kami.
Berhenti sebentar di sini.
Pihak sekolah sendiri yang mengakui bahwa yang jadi masalah bukan tindakan si Bapak secara hukum tapi dampak reputasi ke sekolah.
Bukan soal anak yang melanggar aturan. Bukan soal proses belajar yang terganggu.
Tapi soal opini publik yang mengarah ke SD mereka.
Artinya anak ini dikeluarkan bukan karena dia salah. Tapi karena bapaknya membuat sekolah tidak nyaman di mata publik.
Apa yang dilakukan si Bapak itu sebenarnya?
Dia mengingatkan bahwa sekolah negeri tidak boleh memungut biaya LKS dan infak.
Ini bukan opini.
Ini fakta hukum.
Permendikbud dan berbagai regulasi turunannya sudah jelas melarang pungutan di sekolah negeri yang sudah mendapat BOS Bantuan Operasional Sekolah.
Sekolah negeri mendapat dana BOS dari APBN untuk membiayai operasional sekolah.
Dana itu sudah termasuk untuk pengadaan buku, alat tulis, dan kebutuhan belajar siswa.
Memungut LKS tambahan di atas BOS adalah pelanggaran regulasi.
Si Bapak tidak mengarang.
Dia mengingatkan aturan yang memang ada.
Dan untuk itu anaknya dikeluarkan.
Soal kritik MBG yang dia sampaikan dan ini relevan dengan konteks yang lebih besar:
Kita sudah bahas panjang lebar soal MBG dari Rp340 miliar yang menurut Mahfud MD hanya sampai ke makanan dari total triliunan yang dianggarkan, sampai 33.000 kasus keracunan, sampai 1.720 SPPG yang tutup tapi tetap dibayar Rp6 juta per hari.
Orang tua yang kritis terhadap MBG bukan musuh program. Mereka adalah orang-orang yang paling langsung terdampak ketika program itu tidak berjalan dengan baik.
Anak-anak merekalah yang makan makanan dari program itu. Anak-anak merekalah yang keracunan ketika standar sanitasinya tidak terpenuhi.
Mengkritisi MBG bukan kejahatan.
Mengkritisi sekolah yang memungut biaya ilegal bukan kejahatan.
Tapi di Banjarayar Pemalang melakukan dua hal itu ternyata cukup untuk membuat anakmu kehilangan akses pendidikan.
Ini bukan hanya masalah satu sekolah ini adalah masalah sistemik:
Yang terjadi di sini adalah penggunaan kekuasaan institusional untuk membungkam kritik warga.
Dan yang dikorbankan bukan si orang tua tapi anaknya yang tidak berdaya.
Ini adalah bentuk intimidasi yang sangat kejam justru karena targetnya bukan si pengkritik secara langsung. Targetnya adalah orang yang paling dicintai oleh pengkritik itu anaknya sendiri.
Kalau lo mau membungkam seseorang tanpa kelihatan melanggar hukum secara terang-terangan sakiti anaknya.
Itu yang terjadi di sini.
Dan kalimat dari guru itu tadi "menggiring opini publik ke SD kami" menunjukkan bahwa ini adalah keputusan yang diambil secara sadar untuk melindungi reputasi institusi, bukan untuk kepentingan terbaik anak didik mereka.
Apa yang seharusnya terjadi secara hukum:
Pertama — sekolah tidak punya kewenangan hukum untuk mengeluarkan siswa secara sepihak hanya karena orang tuanya mengkritik di media sosial.
Ini melanggar hak anak atas pendidikan yang dijamin Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan UUD 1945 Pasal 31.
Kedua — pungutan LKS dan infak di sekolah negeri yang sudah menerima BOS adalah pelanggaran regulasi yang seharusnya dilaporkan dan diinvestigasi oleh Dinas Pendidikan dan inspektorat daerah.
Ketiga — bullying terhadap anak karena tindakan orang tuanya adalah pelanggaran serius yang masuk dalam kategori kekerasan berbasis relasi kuasa.
Kasus ini sudah masuk ke Polres Pemalang.
Dan si Bapak memohon agar Kapolres mengawal proses penyidikan ini agar berjalan sesuai hukum bukan sesuai keinginan pihak tertentu.
Yang paling menyentuh dari seluruh cerita ini:
Si Bapak menulis: "Saya tidak mampu membayar pengacara untuk mencari keadilan."
Dan di sisi lain dia bilang: "Tidak apa-apa, saya bisa mendidik anak-anak walaupun tanpa ada ijazah."
Ini adalah seorang ayah yang sudah pasrah dengan sistem tapi belum menyerah pada kebenaran.
Yang tahu dia mungkin tidak punya kekuatan finansial untuk melawan.
Tapi tetap berjalan karena dia yakin masih ada orang-orang baik yang bisa membantu.
Dan si Bapak menutup pernyataannya dengan kalimat yang menurut gue harus diingat oleh setiap pejabat dan kepala sekolah di Indonesia:
"Jangan semena-mena dengan jabatan yang kau sandang karena itu semua hanya titipan."
Kalau kita bisa marah pada triliunan rupiah MBG yang tidak sampai ke makanan anak-anak kita juga harus bisa marah ketika satu anak SD kehilangan haknya atas pendidikan hanya karena bapaknya berani mengingatkan aturan.
Keduanya adalah wajah dari sistem yang sama sistem di mana institusi lebih sibuk melindungi dirinya sendiri daripada melayani mereka yang seharusnya dilayani.
Mas Azhim berhak atas pendidikannya.
Dan bapaknya berhak atas keadilannya.
@andikanrp Rumah (tanah) harga terus naik.
Mobil harganya terus turun walaupun sudah dirawat dengan baik.
Ane ga peduli kata orang soal kendaraan yg dipakai.
Terpenting kualitas dan komitmen terhadap kesepakatan.
Nanti ketemu yg menilai dari jam tangan yg dipakai, pusing lagi. Hehehe
Bismillah.
Aku dan temen bikin usaha jasa cuci AC, bisa juga bongkar, pasang, bongkar-pasang, isi freon, dan service. Area cangkupannya meliputi: Jaksel, Tangsel, Depok dan Bogor.
Teknisinya Insya Allah jujur, amanah, pengerjaannya rapih, profesional dan bergaransi.
Untuk yg mau booking bisa lewat sini:
https://t.co/nC2Cj63R6G
(Masukan kode voucher DARITWITTER buat dapetin diskon 20%)
Untuk tech bro dan tech sist, Thailand lagi agresif banget open hiring buat foreigner.
Banyak juga yang open buat remote hiring.
Sayang banget kalau kesempatan sebagus ini kita lewatkan sebagai Orang Indonesia.
@ainunnajib Sudah ada usulan semacam ini sejak lama. Kendalanya ada pada penggunaan GMT. Dengan GMT, maka Indonesia selalu mendahului Mekkah. Maka, perlu konsensus baru untuk menjadikan Mekkah sebagai titik 0. Jika terjadi, maka waktu Mekkah akan lebih dahulu dari Indonesia.
Allahu a'lam
Bahkan ada yang menawarkan untuk menggunakan tokonya secara gratis asal mau bayar iuran pasar dan listrik.
Bagaimana ini Pak Purbaya? Jangan hanya pusing pikirin nasib rakyat yang ekonominya kelas atas.
Tolong bantu tag orang dan badan yg bertanggungjawab dong, Teman-teman...
Bismillah...
Sebuah video yang benar-benar berhubungan erat dengan para pedagang di pasar tradisional. Banyak sekali toko2 di pasar tradisional dan bahkan tingkat pasar grosir yang pasang tanda disewakan bahkan dijual, tapi belum laku.
https://t.co/YDezReijDh
Dia Suami Aku, Bukan Sekadar Rider..
Aku perhatikan dia dari jauh.
Umurnya baru 29, tapi wajahnya nampak lebih tua dari usia sebenar sejak kebelakangan ini.
Baru setahun kami bina masjid.
Dulu, dia ada kerjaya, ada segak gaya orang pejabat.
THREAD
⚠️ Illegal Gambling Operator Identified in Phnom Penh, Cambodia 🇰🇭 Targeting Indonesian Users 🇮🇩
Our investigation identified an illegal gambling operator operating from Phnom Penh, Cambodia 🇰🇭, deliberately targeting Indonesian users 🇮🇩.
By analyzing dark web stealer logs using our LLM-based investigation framework, we uncovered actionable intelligence linked to the operator — including admin panel access, operational infrastructure, and financial management records.
⚠️ These findings mean the operator is no longer anonymous and can be technically and operationally traced.
Government agencies seeking further intelligence are encouraged to contact us.