"Kasacchi... Kita lanjut jalan dulu, yuk?" Dia merengek. "Jangan di tanah. Aku... Aku tidak mau membuat Kasacchi tidak nyaman."
Durin sendiri tidak mengerti sebenarnya apa yang ingin dilakukannya, sampai harus berada di suatu tempat yang nyaman.
+
"K... Kasacchi... kenapa... aku hampir saja melukai kamu..."
Kenapa Wanderer malah membiarkannya melanjutkan tadi? Kenapa dia tidak kabur?
Kenapa dia tidak takut pada Durin yang tiba-tiba berubah jadi menyeramkan?
@galesofreveries
Merasakan kulit yang empuk itu di antara jemarinya yang tajam, Durin langsung terlonjak kaget. Hampir saja, hampir saja dia mencakar kulit itu.
Dan hal itu membuat kesadarannya kembali. Matanya tidak lagi semerah darah, tetapi tubuhnya masih gemetar dan napasnya terputus-putus.+
@balladofdrifter Mata Durin masih semerah darah, tetapi berkaca-kaca. Bukan geraman lagi yang kali ini keluar dari mulutnya.
"Kasacchi, kenapa kamu memberi izin...?" Tangannya yang berada di dada Wanderer mulai gemetar. "Ini bahaya... Kasacchi, aku nanti bisa merusakmu!"
@galesofreveries
@balladofdrifter ...itulah yang dipikirkannya kalau saja Durin adalah orang jahat. Tapi tidak, dia masih punya hati nurani, dan nuraninya yang sedari tadi terperangkap dalam pikirannya sendiri berusaha memberontak keluar.
Ini salah. Ini salah. Ini salah.
+
@balladofdrifter Mati-matian dia menahan diri untuk tidak menyakiti Wanderer, untuk terus sadar dan menjawab kedua pertanyaan itu.
Sulit. Akhirnya dia memutuskan untuk mengulang kata yang membuatnya bereaksi tadi.
"... Milikku." Suaranya bergetar. "Kamu... Kamu milikku..."
@galesofreveries
@balladofdrifter emosi yang Durin rasakan semakin kuat, dan semakin ia kewalahan melawan emosinya, semakin tubuh itu lepas kendali.
"Uh... Huu... Ugh..." Geraman keluar dari mulut itu. Namun kini nadanya seperti bercampur dengan rengekan.
+