Tidak ada makan siang gratis ya adik2. Bahkan MBG aja dibayar pake uang pajak kita.
Udah bener kantor-nya nge-restrict ilovepdf karena semua data kita diupload ke server mereka coy wkwk. Itu harga yg kita bayar.
Kalo mau lebih aman bisa cari yang open source atau yang prosesnya di local, jadi ga kirim data ke server manapun. Contohnya bisa download aplikasi PDFGear di Mac/Windows.
Fungsinya sama kayak ilovepdf tapi local.
@jejakrasa27 Besok Asyura dan Jumat wage, pas banget keduanya hari lahirku. Cuma minta Ya Allah seandainya ada kesalahanku ke sesama manusia yg aku ga sadar, tolong ikhlaskan hatinya dan ampuni dosaku.
Besok adalah Hari Asyura dan bertepatan dengan hari Jumat. Jangan takut meminta sesuatu yang terasa mustahil kepada Allah.
Kenapa?
Karena dalam sejarah Hari Asyura, Allah menunjukkan bahwa tidak ada yang mustahil bagi-Nya.
• Allah membelah lautan dan menyelamatkan Nabi Musa AS dari kejaran Fir'aun, ketika di depan laut dan di belakang musuh.
• Allah menerima taubat Nabi Adam AS dan mengampuni kesalahannya.
• Allah menyelamatkan Nabi Yunus AS dari perut ikan setelah beliau berdoa dalam kegelapan.
• Allah menjadikan api yang membakar Nabi Ibrahim AS menjadi dingin dan menyelamatkannya.
Pas Mbak Dian Sastro nyebut channel Predictive History (Profesor Jiang) waktu podcast sama Raditya Dika, gue langsung pengen cek.
Terus gue buka cek videonya yang Game Theory #3: Rich Dad, Poor Dad.
Gila, otak gue kayak kena reboot setelah nonton. Dia breakdown pake logika Game Theory kenapa yang kaya makin tajir terus, sementara yang miskin susah banget naik kelas. Bukan cuma ngomong doang.
Naikan gaji tim medsos SD ini minn @muhammadiyah ‼️
Bukan cuma foto²nya yg keren, tapi copy writingnya cakep² banget weeee. Apresiatif dan positif banget buat si anak ataupun orang tua. Pasti mereka bangga bisa sekolah di situ 🥹
When yhaa medsos sekolah standarnya bisa kaya gini?? Indonesia emas dimulai dari medsos SD ga sih??
KAYAKNYA BARU PEMERINTAHAN PRABOWO,
AJANG MARATHON JADI DEMONSTRASI YANG KEREN, BEBERAPA NOTES NYA :
- RUN BETTER THAN THE GOVERNMENT RUNS THE COUNTRY
- SORRY YEE, MY PACE IS MORE STABLE THAN THE RUPIAH
- YOUR HEART RATE IS STILL LOWER THAN USD $$$$$
- LARI LO LEBIH KUAT DARIPADA RUPIAH
- LARI YANG BENER! KITA DIKEJAR PAJAK!!
- RUN FASTER IF U WANT TO BE RICH
- YAKIN MAU STOP? PRBW* AJA NYALON 5X
- 10 + 6 = 21 KM
- Running 21.1 KM is hard, but being a WNI is harder.
- Cukup media yang dibungkam, jangan sampai kita diam!
- Pace turun masih mending, rupiah jangan.
- Yang dikejar PB, yang nyusul harga-harga.
- Lari 21K lebih gampang daripada cari kerja.
- Kalau capek istirahat, kalau rakyat capek gimana?
- Keep running before the dollar does.
- Naikkan pace, turunkan harga.
- Kaki kuat, dompet belum tentu.
- Lari demi kesehatan, bukan demi efisiensi.
- Personal best naik, daya beli turun.
- Finisher medal > janji kampanye.
- Lari pagi, lihat kurs rupiah, cardio lagi.
- Pajak mengejar, kami berlari.
- My pace is faster than government reform.
- Strong legs, weak rupiah.
patut diakui, editor Bloomberg KEREN banget ngett ngett !!!!!
visualisasi perbandingan GDP beberapa negara di S.E.A tahun 2025 pake motif kain batik gini
ada juga visualisasi Pelemahan Nilai Rupiah juga pake pewayangan gini; ini kreatif banget.
Bloomberg tahu bagaimana bercerita tapi pendengar/audiensnya adalah masyarakat Global dengan identitas Universal.
Bahkan ketika berbicara tentang PILIHAN TAK SEHAT, dia menganalogikan ini semua dengan GORENGAN yang terlihat nikmat namun sesungguhnya unhealthy.
🙂
Kalau lo mau cari kerja WFH luar negeri, mainnya beda sama cari kerja lokal.
Ini beberapa tips yang realistis dan kepake:
1. Pastikan skill lo bisa "dibeli" secara global
Beberapa role yang "ramai":
- Virtual Assistant
- Video Editor
- Graphic Designer
- Copywriter / Content Writer
- Digital Marketing
- Full Stack Developer
Kalau skill lo masih general, spesifikin.
Misal bukan cuma "video editor", tapi "short-form editor untuk personal brand".
2. Rapihin CV versi internasional
Bedanya: Pakai bahasa Inggris full
Gausah masukin KTP, agama, status nikah Fokus ke impact (angka, hasil)
Contoh: Increased client retention by 30% through optimized editing workflow.
Bukan cuma: "Responsible for editing videos."
3. Bangun presence online
Minimal punya:
LinkedIn yang proper
Portfolio (Notion/website/Drive terstruktur)
4. Jangan nunggu lowongan, pitching langsung
Cari:
- Founder
- Agency owner
- Personal brand
DM atau email langsung.
Singkat, jelas, dan fokus ke problem mereka.
Contoh angle: I help creators reduce editing turnaround time so they can focus on growth. Bukan: I’m looking for a job.
5. Perhatiin zona waktu
Kalau target US: Lo harus siap kerja malem atau flexible Kalau target Singapore: Lebih enak, beda waktunya ga jauh
6. Hati-hati scam
Red flags: Disuruh bayar dulu
Interview cuma via Telegram Gaji terlalu tinggi untuk skill basic
Selalu cek: Website perusahaan LinkedIn company page Karyawan sebelumnya
Bila ia masih hidup, 10 Juni 2026, Asrul Sani akan berumur seratus tahun. Angka yang bulat. Nyaris seperti penanda. Seolah waktu ingin memberi jeda, meminta kita berhenti sejenak, lalu menoleh ke belakang.
Bagi banyak orang, Asrul adalah penyair Angkatan ’45, penulis, penerjemah, dan salah satu penanda penting kebudayaan Indonesia pascakemerdekaan.
Bagi saya, ia adalah Pak Cun—adik kandung ayah saya, paman yang tinggal di rumah kami di Menteng ketika saya masih kecil, dan yang lewat percakapan-percakapan sederhana membentuk cara saya melihat dunia.
Dari sanalah saya berkenalan dengan Albert Camus dan Anton Chekhov. Dua nama yang, pada usia saya yang masih kecil saat itu, terasa jauh. Tidak sepenuhnya saya pahami. Tetapi buku-buku itu tidak hilang. Mereka menunggu.
Dan bertahun-tahun kemudian, ketika saya membacanya kembali dengan mata yang sudah lebih banyak melihat hidup, saya menyadari apa yang sebetulnya ingin Pak Cun sampaikan: bahwa hidup tidak selalu harus dijelaskan.
Camus menolak karena ia tahu penjelasan yang tersedia tidak memadai untuk menampung absurditas keberadaan.
Chekhov menolak karena ia tahu penjelasan akan mengkhianati tekstur sebenarnya dari pengalaman manusia. Dan Asrul, meski tidak pernah secara eksplisit berdialog dengan keduanya, sampai pada posisi yang serupa lewat jalannya sendiri.
Saya masih terlalu kecil untuk memahami cara pikirnya. Kata-katanya mungkin lewat begitu saja, tidak sempat tinggal.
Yang tersisa justru yang lain: potongan-potongan keseharian, hal-hal kecil yang tidak penting, tapi bertahan. Saya masih ingat, kamarnya yang remang. Bau rokok yang menyengat, bukan sekadar asap, tapi semacam jejak yang menetap di udara. Debu di sana sini, obat nyamuk bakar hijau melingkar di lantai, pelan-pelan habis, menyisakan abu yang rapuh. Buku-buku berserakan, seperti tak pernah selesai dibaca atau mungkin tak ingin disusun. Di atas meja kerja, ada sebuah mesin tik tua. Diam, tapi terasa hidup, seolah setiap saat bisa kembali berbunyi, memecah sunyi dengan ritme yang teratur.
Lalu tikus itu.
Ia tidak diusir. Tidak dijebak. Pak Cun justru memberinya makan sedikit, secukupnya. Seolah ada kesepakatan yang sederhana: tikus itu tidak mengganggu buku-bukunya, dan sebagai gantinya, ia diberi ruang untuk hidup. Dalam logika sehari-hari, ini mungkin tampak ganjil. Tapi di situ ada sesuatu yang lain: cara melihat dunia yang tidak selalu ingin mengalahkan.
Tetapi yang paling saya ingat adalah pertanyaan dan nasihat yang ia tinggalkan.
“Mengapa seseorang masuk universitas?”
Bertahun-tahun kemudian, ketika saya akan berangkat ke Australian National University untuk studi pascasarjana, ia berkata:
“Yang paling penting dalam sekolah bukanlah buku teks. Buku teks di setiap universitas akan sama saja. Yang penting adalah bagaimana kamu mengembangkan pemikiran, berdiskusi, bertukar gagasan, dan belajar dari lingkungan di sekitarmu.”
Pesan itu mengubah cara saya melihat pendidikan. Pendidikan bukan sekadar soal memperoleh pengetahuan atau gelar. Ia juga tentang memelihara rasa ingin tahu dan membuka diri terhadap gagasan-gagasan baru.
Puluhan tahun kemudian, saya masih memikirkan pertanyaan dan nasihat itu. Barangkali memang begitu cara seorang guru bertahan hidup: bukan dalam jawaban yang ia berikan, melainkan dalam pertanyaan yang terus menemani kita.
Disarikan dari tulisan saya untuk buku peringatan 100 tahun Asrul Sani.
bro to bro :
stop jadi nonchalant, ayo kita bawa balik chivalry. gentle, inisiatif, kasih pujian, kasih bunga, tulis surat, kasih coklat, fine dine, protect her, dateng ke rumahnya diem-diem kasih surprise, simpen fotonya di dompet, dunia harus tau lu sayang banget sama dia, clingy and everything.
treating a girl right isn't cringe , it's called being a man.
GMAIL LO BUKAN PENUH. CUMA KOTOR DOANG.
Tadi storage gue udah 13.8GB dari 15GB, hampir aja bayar Google tambahan.
Eh ternyata bisa dibersihin dalam 20 menit doang, tanpa ilang satu invoice penting pun.
Langsung pake 5 filter otomatis ini:
Jadi si kambing ini Namanya jono, kambing yang dari kecil diurus sama si bapak. Saat Idul Adha dia mau di qurban, jalan sendiri dengan cerianya ke tempat qurban tanpa diikat tanpa ditarik - tarik. Dengan antusias dia ngikutin si bapak. Selamat jalan jono, kambing ceria, lucu, dan menggemaskan
Tt: masnoocenter
Sementara itu warganet:
@tertamvan_ Sebagai perempuan, aku nabung ilmu aja. Kalau ada aset juga buat diri sendiri. Biarlah Ayahku dan calon suamiku yang menabung, membiarkan mereka mengemban tanggung jawabnya haha.
Kalau kamu ke Gramedia, lalu ketemu buku yang minat dibeli, JANGAN langsung buru-buru bawa ke kasir. Ada cara ampuh biar kamu dapat harga lebih murah 25% (kadang selisih harganya 10-20rb).
1. Buka situs web https://t.co/YBSgWszpKt (pastikan kamu sudah punya akun dan login di sana);
2. Search judul buku yang tadi mau kamu beli;
3. Di kolom toko, pilih Gramedia Warehouse yang sedang kamu kunjungi;
4. Langsung masukkan buku pilihanmu ke keranjang belanja;
5. Pilih opsi “ambil di toko” (biasanya ada tambahan voucher diskon kalau memenuhi syarat minimal belanja);
6. Nah, di sini tugasmu untuk komparasi harga offline dan online. Kalau sudah yakin harga di web lebih murah, langsung bayar (bisa pakai Qris);
7. Setelah dibayar, cek kode transaksi via email, lalu tunjukkan ke kasir untuk ambil buku fisiknya.
Selamat! Kamu sudah beli buku offline tapi dengan harga online! Buku yang dibeli lewat web ini bisa lebih murah karena tidak kena tambahan harga display Gramedia.
Catatan: persentase diskon di web sewaktu-waktu bisa berubah.