Negara ini bisa bertahan dgn kondisi yg gini2 aja (korup dan tertinggal) tanpa perubahan selama puluhan tahun, bukan karena pemimpinnya buruk. Tapi karena masyarakatnya pengecut, pemalas, sukanya pasrah krn terlalu percaya pertolongan Tuhan akan datang dengan sendirinya.
@gojekindonesia
Mitra driver seperti ini sudah tidak layak dapat teguran atau peringatan saja. Saya sudah kooperatif, berusaha membantu, dan sabar, tapi dibalas dengan perilaku kurang ajar dan tidak menyenangkan seperti ini. Ditunggu tindak lanjut dan ketegasannya.
Influencer nih (siapapun) kalau ngomongin kerjaan lebay bener. “Aku kerja siang malam tanpa henti” kayak kerjaannya nyangkul di sawah aja. Dg bayaran yg puluhan juta keatas per postingan itu, para “pemengaruh” ini ga pantas dikasihani dan diberi empati.
“Karpet di ruangan ini kayaknya perlu diganti,” katanya di ruang rapat, sebelum melewati sore yang jadi pertemuan terakhir kami.
Sesampainya di bawah, saya menimpali: “Urusan karpet itu taktis berarti?” balas saya setelah mendengarnya bicara tentang pentingnya bekerja dengan kesadaran taktis.
Ia tertawa. “Kagak. Emang kayaknya udah waktunya diganti.”
–
Sebuah obituari oleh Pemimpin Redaksi Narasi, @zenrs
ini kayaknya ga unpopular tapi lebih mending desek desekan sama kakak kakak pekerja &&& mahasiswa dibanding desek desekan pas libur panjang sama keluarga yang sesekali naik kereta ://///
4 MVS ROMCOM YANG MENURUT SENDER COUPLENYA NGGAK SEHARUSNYA ENDING BARENG:
- Noting Hill: Anna's a cheater dan dia jahat ke Will berulang kali
- Flipped: Bryce jahat ke Juli
- Titanic: SELINGKUH SAMA GELANDANGAN??? REALLY?!
- How to Lose a Guy: Andie dan Ben sama2 jahat
salah satu hal mengejutkan yang gue sadari akhir2 ini adalah seberapa fragile-nya kompetensi seseorang.
dulu kita mikir orang2 yang “di atas” itu pasti punya campuran spesial antara kecerdasan, disiplin, dan clarity. Tapi begitu lo lihat langsung gimana mesin besar kayak perusahaan atau pemerintahan beroperasi–ternyata mostly adalah vibes aja. Power itu sering bukan karena merit, tapi lebih karena confidence, legacy status, atau inertia.
begitu lo sadar kalau setengah dari orang-orang yang kelihatan hebat ini sebenarnya clueless tapi pinter sounding confident… sebagian besar barrier yang lo hadapi itu cuma psikologis aja.
Dunia nggak dikontrol sama orang jenius kok.
Dunia dikontrol sama orang-orang yang cukup pede buat bluffing dan dibiarin karena sistem di sekitarnya terlalu gede, ribet, atau bahkan udah apatis buat benerin keadaan.
Negara sok suci. Judi, prostitusi, narkoba—semua ditolak secara moral, tapi diam-diam dinikmati.
Doyan sama duitnya yg banyak tapi gak mau dianggap penjahat.
Sebuah utas: Solusi buat negara munafik kayak gini memang harus punya “korban” decision maker yg dijadikan penjahat.
Jepang level penggunaan AInya udah kayak gini, di Indonesia dipake cuma buat bikin kartun-kartunan abal-abal yang diglorifikasi atas nama teknologi oleh sekelompok manusia nirempati, niretika dan nirlogika.
imo one of the reasons ai generated kyk gini bisa hype bgt adalah humans are so OBSESSED with themselves. do u really need to capture urself as ghibli characters/other forms or do u just want to immortalize urself because someday ur gonna die and cease into oblivion