Karena harga protein hewani mahal.
Di Jabodetabek, gw beli bebek bakar + 2 tempe + ati ampela totalnya 33 ribu untuk sekali makan.
Beli di pasar 1 ekor ayam 40 ribu, 1 ekor bebek 60 ribu. Daging lebih gila lagi, bisa ratusan ribu per kilo.
Sementara rakjelnya penghasilannya cuman 2-4 juta per bulan. Mau makan apa proteinnya?
Ya ujung2nya tahu tempe tahu tempe, telor kadang2.
Makan sehat full protein dan gizi seimbang itu cuman pas hari raya aja.
Tak heran kita stuntingnya gede, tinggi badan rendah. IQ juga kureng.
Tahu ga ngaruhnya jika Sawit didefinisikan sebagai POHON dan BUKAN TUMBUHAN?
Secara ilmiah Sawit itu tumbuhan monokotil dan tidak berkayu, jadi jelas bukan pohon.
Dilihat dari segi hukum lebih salah lagi..jika dinamakan POHON maka jika hutan kita digunduli dan ditanam sawit itu bukan DEFORESTASI, krena ditanami ulang dengan POHON.
Segitunya cinta kepada Sawit..
Dear Gen Z,
Buat kamu yang sudah mati-matian nyelesain pendidikan, pontang-panting cari kerja, sampai rela ikut bootcamp dan magang gratisan buat nambah pengalaman, bahkan harus keluarin uang lagi cuma buat memoles CV supaya dilirik perusahaan.
Kamu yang berbulan-bulan berjuang, akhirnya diterima kerja.
Tapi ternyata tempat kerjanya toxic dan punya atasan yang bikin mental breakdown.
Setiap hari harus desak-desakan di transportasi umum, berangkat subuh, pulang malam, kamu tetap bertahan. Karena kamu tahu, cari kerja sekarang susahnya bukan main.
Semua dijalani demi gaji yang sebenarnya nggak seberapa, mengingat harga-harga sekarang semua serba mahal.
Kamu lalui hari-harimu sambil pura-pura kuat, meski kadang duduk di pojokan buat nenangin kepala yang rasanya mau pecah.
Saat terima gaji, kamu merasa senang tapi sedikit mengelus dada, karena nominalnya berkurang agak lumayan akibat potongan pajak.
Kamu coba ikhlas sambil berdoa, semoga pajakmu benar-benar terpakai untuk pembangunan. Kamu sedikit bangga karena ikut berkontribusi.
Sampai di bulan Januari 2026, kamu baca berita:
Indonesia memutuskan bergabung dengan Board of Peace, dan Indonesia ikut iuran Rp17,9 triliun, uang dari sebagian besar APBN untuk disetor ke Trump.
Ya, sebagian yang disetor itu adalah uang kamu.
Gimana perasaan kamu?
Menurut saya, tidak pantas keadaan berduka ini jadi momen untuk mendiskreditkan peran mahasiswa dan demonstrasi melalui bencana ekologi yang terjadi sekarang. Perbandingan ini tidak seimbang:
1) negara punya seperangkat fasilitas dan anggaran untuk mencapai titik krusial bencana.
2) mahasiswa, musisi, artis, jurnalis dan semua elemen masyarakat sipil menggalang berbagai kegiatan untuk membantu korban-korban di titik bencana. Diantara mereka ada yang ikut berdemonstrasi atau mendukung demonstrasi, tidak meniadakan peran mereka dalam membantu bencana yang terjadi saat ini.
3) Orang yang memanfaatkan bencana untuk mengelompokan orang-orang yang kritis terhadap pemerintah seolah-olah tidak berkontribusi disaat kritis, adalah rendah secara moral.
Bonus:
Kita bisa debat soal kematian mana yang paling bengis dan tragis.
Tapi sebagai orang Jakarta yang hampir tiap hari liat truk dengan supir sembrono, mati ketiban gelondongan mungkin bisa jadi nasib buruk paling traumatis.
Masjid Jogokariyan adalah representasi masjid yg Rasulullah ajarkan kita utk dibangun.
Ramah musafir, anak anak, makmur, uang infaq disalurkan dgn benar, masyarakat sekitar pun kecipratan barokahnya.
Mesti dicontoh sama masjid2 lainnya.
@tanyakanrl Imunisasi anak itu bukan hak orang tua utk memutuskan, tapi hak anak utk mendapatkannya
Imunisasi anak bukan kewajiban anak karena anak belum bisa mikir, melainkan KEWAJIBAN ORANG TUA
Jadi tolong jangan dibolak-balik perannya! 😁🙏🏻
Demi, aku kira orang yang punya pemikiran kayak gini emang murni karena ga dpt kesempatan menyenyam pendidikan aja? Ternyata emang ga mau belajar jadi orangtua aja?
Kalian harus tahu aku pernah nanganin SEKAMPUNG ibu2 dg mindset kayak gini. Utas.