Menurut CME FedWatch & pasar: rate hike lebih mungkin daripada cut hingga pertengahan 2027.
RIP harapan soft landing cepet. Higher for longer mode on full. Siapin mental & cash ya guys 😂🙏
Ketika harga BBM naik pada 2022, respons publik juga negatif Di Indonesia
sendiri, mahasiswa, buruh, ojol turun ke jalan menolak kenaikan harga BBM
setelah pemerintah menaikkan harga pada September 2022.
Sebenarnya Indonesia pernah mengalami krisis BBM pada 2022 akibat lonjakan
harga energi global setelah konflik Rusia–Ukraina. Pemerintah merespons melalui
beberapa kebijakan:
Awalnya pemerintah menahan kenaikan harga dengan menaikkan subsidi energi
secara besar. Anggaran subsidi yang semula sekitar Rp152,5 triliun naik menjadi
sekitar Rp502,4 triliun.
Namun beban fiskal menjadi terlalu besar, sehingga pada September 2022
pemerintah menyesuaikan harga BBM:
Pertalite: Rp7.650 → Rp10.000 per liter
Solar subsidi: Rp5.150 → Rp6.800 per liter
Pertamax: Rp12.500 → Rp14.500 per liter
Untuk menjaga daya beli masyarakat, sebagian subsidi dialihkan menjadi bantuan
langsung seperti BLT BBM dan bantuan subsidi upah bagi pekerja berpendapatan
rendah.
Semua orang lagi bahas perang di Timur Tengah, terutama di Selat Hormuz. Kalau kita lihat data pasokan minyak dunia, terganggu parah.
Nah, ini yang bikin serem: 72% minyak impor Jepang, 65% Korsel, sampe 50% China & India... semuanya lewat satu selat sempit doang: Hormuz. Ini menandakan Selat Hormuz merupakan chokepoint paling rawan di dunia energi sekarang.
Yang paling kena dampak signifikan itu Asia kalau ada konflik di sini. Hormuz itu lifeline buat Jepang, Korsel, China, India. Sedangkan Eropa cuma sekitar 18%, AS bahkan lebih enteng di 2% doang.
Ya... makanya salah satu yang ambil tindakan paling cepat Jepang buat lepas cadangan nasional sendiri tanpa nunggu IEA full. Ketergantungannya saja segede itu..
Fatih Birol bilang challenges unprecedented, jadi responnya juga unprecedented size. Stok IEA >1.2B barel + 600M industri. Secara short term kalau gini harga oil mereda → saham energi/migas bisa koreksi dulu (sell on news). Logistik, transportasi, petrokimia malah yang dapat angin segar (biaya operasional turun). Tapi risiko Hormuz masih ada ya.. kalo eskalasi lagi, volatil balik ekstrem. Kaya gini lebih baik jaga risk management, cash is king di situasi gini.
Dari OPEC side, produksi Feb mereka lagi dipotong maksimal gara-gara Hormuz macet & storage penuh: Saudi potong 2.5M bbl (dari 10M), Irak 2.9M (dari 4.34M), UAE 800K (dari 3.56M), Kuwait 500K (dari 2.57M). Kalau di hitung total cut ~6.7M bbl/hari dari base 20.47M
IEA sepakat lepas 400 juta barel cadangan minyak darurat hari ini, ini sih rekor kalau di lihat by historical. Rekor pelepasan 182 juta barel tahun 2022 lalu (waktu invasi Rusia-Ukraina). Nah sekarang buat solve gangguan supply gara-gara perang Timur Tengah (mulai 28 Feb 2026). Selat Hormuz lagi parah banget, flow minyak cuma <10% normal, padahal biasa 20 juta bph lewat situ (~25% global seabourne trade).
Sehabis gelap terbitlah terang, kalau sekarang belum kelihatan terang, berarti masih gelap 😅. Secara historis (1994-2025) setiap crash (minor maupun mayor) selalu diikuti oleh fase pemulihan (rebound) yang signifikan. Hanya saja berapa lama penurunan (drawdown) nya, itu yang berbeda2
Setelah kesulitan pasti ada kemudahan, setelah fase QT (quantitative tightening) sudah ada tanda akan QE (quantitative easing), cuman kalo US war mulu inflasi bisa naik lagi, suku bunga bisa susah turun, ditambah februari ada potensi outflow msci