wedding dream kamu apa?
nikah untuk tidak bercerai. yang ga bikin salah satu ngerasa jadi beban, ga kasar, no cheating, partner yg saling jaga, saling lindungi, grow bareng. dunia kita kejar, akhirat juga. jadi tempat aman satu sama lain, sampai akhirnya bisa ke jannah bareng.
Perempuan: berbakti, hamil, melahirkan, menyusui, madrasah pertama bagi anak, menekan ego serendah-rendahnya, menjaga harta, harkat martabat dan harga diri keluarga
Laki-laki: menafkahi dengan ikhlas sesuai kemampuan mereka
The bar is hell
Sudah ada SEKOLAH, Prabowo Buat SEKOLAH Baru
Sudah ada KUD, Prabowo Buat KDMP
Sudah ada KANTIN Sekolah, Prabowo Buat MBG
Sudah ada eKTP, Prabowo buat ID Baru
Sudah ada Propinsi, Kabupaten, Prabowo Buat Kota Satelit
Sudah ada UNHAN, Prabowo buat URI
Prabowo membuat "NEGARA didalam NEGARA"?
Prabowo berencana Berkuasa SEUMUR HIDUP?
knp pernikahan diset untuk perempuan jadi downgrade mulai dr badan smp karir? lu ga harus pny anak kl nikah, lu ga harus ngelepas hobi kl nikah. kl sendirian lu bisa bahagia, knp juga harus nikah kalo cuma buat diajak susah? perempuan punya hak buat milih jalan hidupnya sendiri!
Dia dokter spesialis anak. 10 tahun praktek di RS besar. Sehari bisa ketemu 20-30 anak dngan berbagai kondisi
Suatu hari ngopi bareng, ku tanya iseng:
"Lo bisa bedain gak anak yang ortunya suka ikut meledak waktu anaknya tantrum?"
"Bisa. Dengan sangat jelas." sambil dia sruput kopi siang itu
"Dari mana?" tanyaku
"Dari cara anak itu masuk ruangan. Dari cara dia duduk. Dari cara dia respons waktu ku angkat suara sedikit untuk ngetes."
wow bener2 ke scan ya.
Dia bangga. "Istri gue tuh kalem. Gak ribet. Gak drama."
Dia cerita itu ke temen-temennya kayak prestasi.
Istrinya gak pernah marah.
7 tahun nikah. Gak pernah teriak. Gak pernah banting pintu.
Gak pernah nangis di depan dia.
Tiap ada masalah, dia cuma bilang: "Ya udah."
Tiap dia lupa anniversary, istrinya bilang: "Gak apa-apa."
Tiap akhir pekan dia main futsal dan istrinya sendirian sama anak,
jawabannya tetap: "Santai aja."
Sampai suatu malam, dia nemuin sesuatu di HP istrinya.
WA dari istriku siang itu, jam 11 lewat.
“Mas, HP-ku engga bisa simpan foto. Penyimpanannya penuh.”
Masalahnya, dia sedang di sekolah anak. Ada dokumen pendaftaran yang harus difoto hari itu juga.
Aku tanya, “Galeri isinya banyak?”
“Engga. Aku juga sudah hapus beberapa chat grup.”
“Coba kirim screenshot bagian penyimpanan.”
Setelah kulihat, aku langsung telepon dia.
2 tahun lalu, kami udah konsultasi ke pengacara buat cerai. Kemarin, suami gue nangis pas gue peluk di ulang tahun pernikahan ke-8. Bukan karena selingkuh. Bukan karena KDRT. Tapi satu hal sepele yang kami biarkan numpuk bertahun-tahun.
Semua berawal dari rasa capek yang gue simpen sendiri. Kerja full time, sama kayak suami. Tapi begitu pulang, gue lanjut "shift kedua." Masak, beresin rumah, urus anak. Suami pulang, rebahan, main HP. Gue capek fisik dan mental. Tapi keliatannya cuma gue yang capek.
Yang bikin gue makin frustrasi bukan bebannya. Tapi suami gue gak ngerasa itu masalah. "Kan lo emang lebih jago masak." "Kan anak-anak lebih nyaman sama lo." Kalimat itu kedengaran kayak pujian. Tapi sebenarnya cara halus buat lepas tanggung jawab.
Gue gak langsung ngamuk atau minta cerai. Gue diem, dan diemnya itu yang paling berbahaya. Gue mulai jarang cerita hal kecil ke dia. Dia gak sadar, karena buat dia semuanya kelihatan baik-baik aja. Padahal gue udah capek duluan sebelum ngerjain apapun tiap hari.
Titik paling bawah itu waktu gue diem-diem konsultasi ke pengacara. Bukan karena udah yakin mau cerai. Tapi karena gue udah gak tau harus ngapain lagi selain pergi. Untungnya, sebelum gue lanjut, gue cerita dulu ke psikolog keluarga.
Psikolog kasih nama buat yang gue alami: mental load. Bukan cuma soal siapa yang nyapu atau masak. Tapi soal siapa yang harus selalu mikirin dan ngatur semuanya. Vaksin anak. Stok sabun habis. PR anak udah dicek belum. Semua numpuk di kepala satu orang, tanpa pernah dianggap "kerja."
Psikolog jelasin kenapa suami gue gak sadar. Kerja fisik kelihatan. Cuci baju, masak, itu semua visible. Tapi kerja mental, mikirin dan ngatur semuanya, itu invisible. Suami gak ngerasa "kerja" karena gak megang sapu. Padahal gue udah capek duluan sebelum mulai ngerjain apapun.
cc : anitarisoraya
Single to single:
Menikahlah dengan orang yang paham konsep keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.
- Sakinah: Bikin kamu tenang saat pulang. Ada damai, saling menghargai, terbuka, dan jujur.
- Mawaddah: Bawaannya pengen bareng terus. Ada rasa sayang tulus yg bikin harmonis.
- Warahmah: Punya empati. Saling menjaga dan menguatkan.
Kalo kata gue sih, warahmah nih yg paling menantang 🙏🏻
peh sakittt hatiku. dunia memang tidak ramah bagi wanita yang tidak berpenghasilan 😭 piye pendapatmu dari segi agama dan hukum?? ini beneran istri gak dapet apa2??
Memori HP-ku tinggal 900 MB.
Mau rekam anak main sebentar, muncul tulisan:
"Penyimpanan tidak cukup."
Aku langsung hapus puluhan chat WhatsApp.
Yakin masalah selesai.
Ternyata storage masih merah.
Setelah dicek, ada 16,2 GB file WhatsApp yang masih tertinggal.
POV istri:
Aku bukan capek karena suamiku tidak mau bantu.
Dia mau belanja. Mau antar anak. Mau cuci piring.
Tapi hampir semuanya baru bergerak setelah aku bilang.
Dan bagian yang paling melelahkan justru terjadi sebelum aku meminta:
menyadari apa yang kurang, mengingat waktunya, lalu memikirkan caranya.
Pagi ini pas lagi cek tas sekolah si bungsu, kami nemu secarik surat yang diselipin sama orang tua salah satu temen sekelasnya.
Isinya perkenalan sekaligus titip pesan supaya temen-temennya dan orang dewasa di sekitarnya bisa lebih memahami dunianya dengan hati yang lembut.
Aku pun langsung chat nomor yang ada di surat itu. Sebagai sesama ibu, aku bener-bener terharu. Ternyata, rasa kemanusiaan itu sesederhana saling kenalan, buka hati, dan ngasih ruang buat saling memahami.
Kadang dunia emang terasa berisik. Tapi momen pagi ini ngingetin aku kalau masih banyak orang yang milih buat tetap bersikap lembut.
Kemanusiaan memang sehangat itu. ❤️
👨🏻: "Istri harus ikut kerja cari uang buat bantu kebutuhan rumah tangga. Namanya juga kerja sama."
👩🏻: "Kalau memang kerja sama, berarti urusan rumah juga dibagi dong? Bersih-bersih, masak, ngurus anak, bangun tengah malam, gendong anak pas nangis, sampai nemenin waktu anak sakit."
👨🏻: "Itu kan memang tugas istri. Suami ngapain ikut ngerjain?"
👩🏻: "Nah, kalau semua urusan rumah dianggap tugas istri, sementara istri juga dituntut cari nafkah, itu bukan kerja sama. Itu namanya semua beban ditaruh di satu orang."
👨🏻: 😡🤬😤
Nongkrong sama temen. Dia keliatan BT.
"Kenapa, Bro?"
"Istri minta uang belanja LAGI. Baru tanggal 15."
"Gaji udah habis setengah. Dan dia minta LAGI."
"Padahal dia cuma di rumah."
Hmm bingung. Karena jujur ,dulu aku juga MIKIR kayak gitu.
"Bro, lo tau gak istri lo belanja APA aja?"
"Ya... dapur. Anak. Biasa lah."
"Biasa BERAPA?"
Dia tertegun.
Hari ini Kemenag merilis pernyataan yang bikin merinding: 5 Tahun Pertama Pernikahan adalah masa paling rawan dan rentan berujung perceraian. Banyak bapak-bapak yang meremehkan ini.
"Ah lebay, orang awal nikah harusnya lagi seneng-senengnya."
Jangan salah kaprah, Pak. Secara psikologis, fase ini sering terasa seperti neraka bagi istri.
Kenapa ya, banyak orang dari generasi yang lebih tua yang masih susah memahami soal kesehatan mental?
Misalnya ada orang yang b*nu* diri, responsnya malah, "Apa dia gak mikirin perasaan orang tuanya? Lemah banget."
Padahal yang kepikiran sama aku justru sebaliknya. Kalau seseorang sampai ada di titik itu, besar kemungkinan dia bahkan udah gak sanggup menghadapi pikirannya sendiri. Jangankan mikirin perasaan orang lain, bertahan buat dirinya sendiri aja mungkin udah luar biasa berat.
Aku juga punya sepupu yang didiagnosis skizofrenia dan bipolar. Bukannya dibawa rutin berobat sesuai anjuran tenaga medis, malah disuruh rehab di gereja. Bukan berarti dukungan spiritual itu gak penting, tapi kondisi seperti itu tetap butuh penanganan profesional.
Yang paling susah memang mengedukasi keluarga. Kadang mereka lebih percaya omongan tetangga atau mitos yang beredar daripada penjelasan dari dokter atau psikolog. Itu yang bikin prihatin.