media askar bilang indonesia udah berubah jadi republik oligarki:
- orang super kaya cuma 1700 orang
- tapi kekayaannya gak kebayang
- 50 orang aja kekayaannya udah setara sama kekayaan 55 juta penduduk indonesia
- orang super kaya bisa dapet uang 13 miliar sehari
- sementara buruh cuma naik gaji 2000 sehari
- kekayaan mereka bahkan lebih gede dari sultan sultan di timur tengah
- kekayaan mereka juga ngelebihin kapasitas apbn nasional
- mereka yang nentuin harga barang kayak ojol minyak goreng lpg 3kg sampe properti
- oligarki juga beli demokrasi lewat partai politik dan politisi jadi satu orang kaya suaranya setara jutaan rakyat biasa
- jadi bukan lagi dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat
- tapi dari orang kaya oleh orang super kaya untuk orang super kaya
Pengelolaan Negara kok asal2an & ugal2an banget ya. Presidennya halu & tidak memahami realita yg ada. Daya rusaknya teramat besar & berdampak kemunduran Indonesia.
Pesantren menelepon karena anakku kabur. Dia ditemukan di IGD.
Pengurus bilang dia mencuri ponsel milik kakak kelas lalu keluar lewat pagar belakang. Mereka meminta kami membawanya pulang setelah dia menulis surat permintaan maaf.
Di IGD, anakku masih menggenggam ponsel itu.
Dia hanya mau menyerahkannya kepadaku.
Di dalamnya ada video anak kelas bawah disuruh merangkak sambil disiram air.
Yang merekam adalah kakak kelasnya sendiri.
Di akhir video, suara seorang pembina terdengar berkata, “Hapus sebelum besok.”
Anakku mengambil ponsel itu sebelum videonya sempat dihapus, lalu lari mencari kantor polisi. Dia pingsan di pinggir jalan lebih dulu.
Pimpinan pesantren datang malam itu dan meminta ponselnya dikembalikan.
Katanya tindakan kakak kelas itu akan diselesaikan secara internal. Kalau videonya keluar, ratusan santri yang tidak bersalah ikut menanggung malu.
Dia juga mengingatkan bahwa anakku tetap melakukan pencurian.
Aku menyalin videonya sebelum menyerahkan ponsel kepada polisi.
Anakku dikeluarkan tiga hari kemudian.
Orang tua anak di dalam video memilih tidak melapor. Mereka takut anaknya tidak diterima di sekolah lain.
Di surat yang menyatakan anakku dikeluarkan tertulis satu pelanggaran berat: membawa barang milik orang lain keluar area pesantren.
Tidak ada satu baris tentang isi ponselnya.
cc : rgjan03
Bayangin, tanganmu diborgol, kakimu diiket, terus kamu diceburin ke waduk. Ngga ada yang liat seberapa tersiksanya kamu waktu air mulai penuhin paru paru. Ngga ada yang liat seberapa putus asanya kamu waktu matamu masih bisa natap matahari dan langit biru, tapi kamu sadar, kamu ngga bisa ngapa ngapain. Alm Bapak Sumarna, security Waduk Jatiluhur yang meninggal. Dia meninggal karena berupaya membubarkan kerumunan anak muda tapi dia dilakban dan diceburkan ke waduk. Jasadnya baru ditemukan jam 11.00 Katanya para pelaku masih SMP
semoga seluruh pelaku segera ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku. @prabowo@ListyoSigitP@DivHumas_Polri@DediMulyadi71 bantu di followup bang budi @BudiBukanIntel
Negaramu mampu membiayai 80.000 koperasi desa, 20-24 triliun utk 2 truk/unit, 1,8 triliun utk kipas angin
30.000 SPPG dengan operasional 1 triliun/hari, 30 triliun utk 2 mobil & motor/unit, 6 milyar utk kaos kaki
Dan terakhir, mampu menciptakan universitas baru (URI), dengan 10 kampus yang kisaran anggarannya 80-200 triliun
Tapi negaramu tidak mampu menghapus pajak buku, tidak mampu membiayai perpustakaan, tidak mampu menggaji guru yang layak, dan TIDAK MAMPU MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN!
kepada siapa mereka ini berpihak? yang jelas bukan kepada RAKYAT 🥲💔
“Saya menghabiskan belasan tahun meneliti tentang perlindungan sosial di banyak negara. Saya menyelesaikan S2 dan S3 saya di inggris. Tidak ada satu pun negara di dunia yg program makan bergizi gratisnya dilakukan oleh aparat keamanan. Dari semua program perlindungan sosial di seluruh dunia, MBG adalah program terbesar dari segi anggaran, inefisiensi dan potensi korupsinya, di seluruh dunia.”
Video ini adalah paparan paling clear soal kekacauan tata kelola embege. Kalo ada yg nanya “emang apa salahnya sih embege?”, cukup suruh nonton video ini.
@LambeSahamjja Logika sangat sederhana dan mudah
Jika MBG bener bener bermanfaat buat para siswa seharusnya saat di stop gini yg teriak dan protes keras itu pasti para wali murid
BUKAN PENGUSAHA DAPUR MBG,PENGURUS MBG, AHLI GIZI MBG ato Apapun itu yg terlibat di dalam MBG
Saudara kandung gw seorang psikolog yg sehari-hari kerjaannya dengerin dan beresin isi kepala orang lain yg berantakan. Pas kita lg kumpul kemarin, dia buka obrolan.
Dia bilang, "lo tau nggak paradoks paling lucu dari profesi gw?"
Dia cerita, pernah nanganin pasien yg semuanya punya pola masalah yang sama. Mereka gak ada yang bener2 sakit secara fisik, tapi badannya rontok karena pikirannya selalu merantau ke masa lalu atau masa depan.
Siksaan batin yg dijelasin saudara gw ini namanya Mental Time Travel.
Kondisi dimana otak kita terlalu canggih sampe bisa loncat ke masa lalu buat nyeselin hal yg udah lewat, atau loncat ke masa depan buat nyemasin hal yg belum tentu terjadi.
Efeknya? Lo kehilangan masa kini. Lo lagi makan makanan enak tapi nggak ngerasain rasanya, lo lagi jalan sama anak-istri tapi pikiran lo lagi sibuk mikirin cicilan 5 taun ke depan, atau sibuk nyeselin blunder kerjaan minggu lalu.
Dia cerita, banyak pasiennya yg kalau malem sebelum tidur, otaknya kayak muter kaset rusak. Mereka selalu terjebak di zona "Regret & What if"
"Kenapa ya dulu gw gak ambil kesempatan itu?"
"Gimana kalau nanti umur 40 gw mendadak di PHK dan gak punya tabungan?"
Siksaan batinnya adalah masa lalu udah jadi abu, masa depan masih jadi kabut, tapi lo ngorbanin satu2nya hal nyata yg lo punya sekarang, yaitu detik ini. Lo dapet capeknya, tapi gk dapet solusinya.
Gw tanya ke dia, "Kenapa otak kita secara psikologis bisa se terjebak itu?"
Dia jelasin kalau secara evolusi, otak manusia itu emg didesain buat bertahan hidup dg cara mengantisipasi bahaya (masa depan) dan belajar dari kesalahan (masa lalu).
Tapi di jaman sekarang, insting itu malah jadi bumerang. Tiap hari kita liat pencapaian orang lain di medsos yg bikin kita cemas ama masa depan kita sendiri.
Kita dipaksa buat selalu berlari ngejar target, sampe lupa caranya berhenti sebentar buat napas.
Ada satu istilah psikologi yg ngena banget buat kondisi ini:
"The Illusion of Control"
Kita mikir dg merenungkan masa lalu berulang kali, kita bisa mengubah rasa bersalah kita. Atau dengan mencemaskan masa depan, kita bisa mengendalikan hasil akhirnya.
Padahal itu semua cuma ilusi. Satu2nya momen dimana lo punya kekuatan penuh buat bertindak dan mengubah sesuatu itu cuma ada di masa kini.
Gimana cara kita buat lepas dari penjara waktu ini?
Saudara gw kasih terapi simpel yg biasa dia kasih ke pasiennya:
Grounding Technique (5-4-3-2-1)
Pas pikiran lo mulai melayang entah ke taun berapa, paksa mata dan tubuh lo buat fokus ama sekitar.
Sebutin 5 benda yg lo liat sekarang, 4 hal yg bisa lo sentuh, 3 suara yg lo denger, 2 bau yang lo cium, dan 1 rasa di lidah lo.
Cara ini bakal menyeret paksa kesadaran emosional lo kembali ke realita tempat lo berdiri.
Langkah kedua adalah bergaul sama kenyataan, bukan asumsi.
Kurangi bikin skenario terburuk didalam kepala. Kalau emg ada hal yg perlu disiapin buat masa depan, tulis di kertas jadi action plan yg nyata, after itu tutup bukunya.
Belajarlah buat menikmati hal-hal kecil yang gratis.
Dinginnya air pas lo wudhu atau cuci muka, angetnya obrolan ama pasangan sebelum tidur, atau rasa pahit manisnya kopi yg lagi lo seruput.
Pesan dari saudara gw ini:
Masa lalu itu udh selesai tugasnya, dan masa depan itu bukan urusan lo sekarang.
Satu2nya tanggung jawab lo adalah menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya.
Jgn biarin hidup lo lewat begitu aja cuma karena lo terlalu sibuk jadi penjelajah waktu di dalam kepala lo sendiri. Rebut kembali kendali pikiran lo mulai hari ini.
tulisan by ryn pedia
cc: istory selebriti (facebook)
Guys, ada pola yang menurut gue paling lucu sekaligus paling memprihatinkan dari cara Prabowo membuat kebijakan pendidikan Indonesia.
Setiap kali Prabowo mengunjungi negara baru pulang-pulang ada instruksi bahasa baru yang harus masuk kurikulum sekolah.
Dan ini bukan sekali dua kali. Ini sudah terjadi tiga kali dalam kurang dari setahun.
Ini timeline-nya yang paling mengejutkan:
April 2026 — Prabowo ingin siswa SD belajar Bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin.
Oktober 2026 — Prabowo bertemu Presiden Brasil Lula da Silva di Jakarta. Pulang-pulang: mau terapkan Bahasa Portugis di sekolah-sekolah Indonesia.
28 Mei 2026 — Prabowo berkunjung ke Paris untuk ketiga kalinya dalam setahun. Pidato di Istana Elysee: "Saya sudah instruksikan agar semua tingkatan sekolah di Indonesia harus belajar Bahasa Prancis."
Tiga kunjungan ke luar negeri.
Tiga instruksi bahasa baru.
Tiga kebijakan pendidikan yang diumumkan dari panggung diplomatik luar negeri bukan dari ruang rapat Kemendikdasmen.
Dan ini yang paling menggelikan:
Bahasa Portugis yang diumumkan Oktober 2025 sampai sekarang belum ada tindak lanjutnya.
Tidak ada roadmap.
Tidak ada regulasi.
Tidak ada kajian kesiapan guru.
Tidak ada apa-apa.
Tapi Bahasa Prancis sudah diumumkan.
Tanpa menunggu yang Portugis selesai dulu.
Dan DPR sendiri Wakil Ketua Komisi X Lalu Hadrian sudah bilang terang-terangan:
"Jangan sampai publik melihat kebijakan ini hanya sebagai bagian dari agenda diplomasi internasional tanpa perencanaan pendidikan yang matang."
Ini bukan kritik dari oposisi.
Ini dari anggota DPR yang harus mengawasi kebijakan pendidikan. Dan kalimatnya sangat jelas:
ini terlihat seperti diplomasi bukan kebijakan pendidikan.
Dan ini yang paling mendasar perlu dipertanyakan:
Indonesia sekarang punya masalah pendidikan yang sangat nyata dan sangat mendesak:
237 ribu guru honorer masih digaji Rp250.000 sampai Rp400.000 per bulan.
Guru yang kualitasnya sudah ada pun tidak bisa fokus mengajar karena memikirkan cara bayar kontrakan.
Bahasa Inggris yang sudah puluhan tahun diajarkan wajib hasil PISA Indonesia masih peringkat 69 dari 81 negara. Artinya instrumen yang sudah ada pun belum efektif dijalankan.
Dan solusinya:
tambah bahasa Portugis.
Tambah Mandarin.
Tambah Prancis.
Guru yang mengajarnya dari mana? Belum ada. Kurikulumnya bagaimana? Belum dibahas.
Anggaran untuk melatih guru bahasa barunya dari mana? Tidak disebutkan.
Yang ada hanya: instruksi dari podium di luar negeri.
Dan ini yang paling ironis:
Prabowo berkunjung ke Paris tiga kali dalam setahun.
Di pidatonya dia bilang hubungan Indonesia-Prancis "sangat baik" dan ingin meningkatkan kerja sama sains, teknologi, dan pendidikan.
Tapi pertanyaannya bukan soal apakah hubungan itu penting.
Pertanyaannya adalah: apakah cara terbaik mempererat hubungan diplomatik adalah dengan mewajibkan 50 juta lebih anak sekolah Indonesia belajar bahasa negara yang kita kunjungi?
Karena kalau logikanya seperti itu kita tinggal tunggu kunjungan berikutnya ke mana. Kunjungan ke Jepang: wajib belajar Jepang. Ke Arab Saudi: wajib belajar Arab. Ke Korea: wajib belajar Korea.
Dan semua instruksi itu akan menumpuk di atas kurikulum yang guru-gurunya saja belum bisa digaji layak.
Kebijakan pendidikan yang baik tidak lahir dari panggung diplomatik di luar negeri. Kebijakan pendidikan yang baik lahir dari riset kebutuhan, konsultasi dengan ahli pendidikan, kajian kesiapan guru, dan perencanaan anggaran yang jelas.
Bukan dari: "Saya baru pulang dari Paris kita wajibkan Bahasa Prancis."
DPR sudah ingatkan. Kemendikdasmen belum punya jawaban. Dan Bahasa Portugis yang diumumkan tujuh bulan lalu masih belum jelas nasibnya.
Sementara 237 ribu guru honorer masih dapat Rp250.000 per bulan menunggu keputusan yang tidak pernah datang tentang gaji yang layak.
Kalau mau anak Indonesia pintar bahasa asing mulai dari bayar gurunya dengan benar dulu.
Guys, Ahok baru ngomong sesuatu soal Chromebook dan MBG yang menurut gue paling jujur dan paling berani dari siapapun yang gue dengar dalam beberapa bulan terakhir.
Dan dia ngomongnya
bukan sebagai pembela Nadiem.
Dia ngomong sebagai orang yang paham betul bagaimana sistem pendidikan dan teknologi seharusnya bekerja.
Soal Chromebook dan kenapa Ahok marah:
Ahok bilang dengan sangat tegas:
pengadaan Chromebook itu sebenarnya adalah kebijakan yang sangat masuk akal secara logika.
Chromebook itu bukan laptop biasa.
Operating system-nya berbasis cloud sekali beli langsung include semuanya, tidak perlu diperbarui terus-menerus.
Harganya jauh lebih terjangkau
dari laptop konvensional.
Dan yang paling penting sistemnya dirancang agar anak tidak bisa nonton video porno, tidak bisa judi online, dan seluruh aktivitas belajar bisa dipantau.
Ahok kasih contoh nyata.
Ada guru di Jawa Barat yang punya empat sertifikat internasional bisa mengajar di level dunia. Ujiannya hanya 10 dolar.
Bayangkan kalau semua guru Indonesia bisa akses sertifikasi seperti itu lewat Chromebook yang terhubung Starlink di daerah terpencil anak di kampung tiba-tiba bisa belajar setara dengan anak di Kanada atau Australia.
Itu bukan mimpi.
Itu sudah bisa dilakukan sekarang dengan teknologi yang ada.
"Bayangin kalau semua anak kita di kampung ada Starlink juga kan.
Anak di kampung kita tiba-tiba belajar setara dengan orang di Kanada atau di Amerika atau di Australia."
Lalu kenapa Ahok merasa ini sengaja dihambat:
Ahok bilang dengan sangat hati-hati karena takut diproses hukum lagi tapi dia tetap bilang:
"Saya pikir ini sengaja."
Logikanya sederhana dan sangat keras.
Kalau rakyat pintar, rakyat kritis, rakyat bisa akses informasi dari mana saja mereka lebih sulit dikuasai.
Lebih sulit dibohongi.
Lebih sulit dimanipulasi menjelang pemilu.
Sistem yang membiarkan rakyat bodoh dan miskin adalah sistem yang menguntungkan mereka yang berkuasa.
Karena rakyat yang bodoh dan miskin lebih mudah disuap dengan sembako, lebih mudah digiring dengan hoaks, lebih mudah dikontrol dengan ketergantungan pada program-program yang terkesan murah hati tapi tidak memberdayakan.
MBG- makan bergizi gratis menurut Ahok adalah contoh dari cara berpikir yang sama.
Daripada kasih rakyat laptop yang bisa membuka pintu dunia, lebih mudah kasih makanan yang habis dimakan dan orang tetap tergantung besok makannya dari mana.
"Kalau saya tanya mau bikin sekolah bagus,
kasih makan bergizi atau rakyat punya laptop yang bisa komunikasi ke mana-mana?"
Yang paling menohok soal survei dan legitimasi:
Ahok tidak berhenti di situ.
Dia lanjutkan dengan sesuatu yang sangat pedas.
Pemerintah melakukan survei.
Rakyat bilang mereka suka makanan gratis.
Lalu itu dijadikan legitimasi untuk program MBG.
Seolah-olah karena rakyat minta ya sudah diberikan.
Tapi Ahok membaliknya:
kalau kamu memberikan sesuatu kepada orang yang tidak pernah tahu bahwa ada pilihan yang jauh lebih baik tentu mereka akan pilih yang ada di depan mata.
Itu bukan preferensi yang genuine.
Itu keterbatasan informasi yang dimanfaatkan sebagai justifikasi.
"Mereka juga pintar.
Dia survei, Pak.
Rakyat suka makanan itu jadi legitimasi."
Dan soal Nadiem yang sekarang dituntut 27 tahun:
Ahok tidak membela Nadiem secara personal.
Tapi dia bilang satu hal yang sangat logis dan sangat sulit dibantah:
Menteri itu tidak pernah menyentuh
anggaran secara langsung.
Menteri membuat kebijakan.
Yang mengeksekusi adalah birokrasi di bawahnya.
Kalau ada yang salah dalam eksekusi pertanyaannya adalah:
apakah menteri yang memerintahkan secara eksplisit?
Apakah ada aliran dana yang bisa dibuktikan masuk ke kantong menteri?
PPATK sudah menjawab:
tidak ada.
Nol aliran dana ke Nadiem dari siapapun.
"Saya pikir ya ini soal profesionalisme.
Menteri kan enggak pernah nyentuh anggaran perantaran kan, kecuali dia nyuruh ya atau terima ya."
Ahok tidak sedang bicara soal
Chromebook sebagai produk.
Dia sedang bicara soal pilihan fundamental sebuah bangsa:
apakah kita mau membangun rakyat yang pintar dan mandiri, atau kita mau mempertahankan sistem di mana rakyat tetap bergantung pada belas kasihan penguasa?
MBG memberikan makan hari ini.
Chromebook bisa mengubah nasib seumur hidup.
Dan ketika kebijakan yang lebih transformatif justru dipersoalkan secara hukum sementara program yang lebih konsumtif dirayakan sebagai prestasi itu bukan kebetulan.
Itu adalah pilihan yang sangat disengaja oleh mereka yang paling diuntungkan dari rakyat yang tetap tidak berdaya.
Pak Presiden @prabowo@Kemhan_RI@setkabgoid@KemensetnegRI
Sebetulnya dari pengamatan saya sebagai orang awam enam bulan terakhir mata uang yg terdeprisiasi bukan hanya Rupiah, Yen juga up & down cukup signifikan. USD $ sendiri terdeprisiasi terhadap mata uang lainnya cukup dalam. Yg lebih menghawatirkan menurut pandangan saya Judol dan Pinjol yg marak menyedot banyak uang masyarakat kecil.🙏🙏🙏
guys lu pada tau gk kekesalan ahok
dengan sistem pemerintahan sekarang
jadi begini kata dia.....
di indonesia ini lucu sekali
banyak umkm atau pengusaha di kejar kejar
sama petugas pajak
suruh isi SPT dengan benar
dan harus transparan agar tidak ngibulin negara
berapa sih sebenarnya penghasilan eluu
tapi disisi lain yang menjabat atau pemerintah
make anggaran gk pernah transparan
kagak fair dong
dan ketika di tagih kagak pernah di gubris
selalu aaja ada alasannya sistem nya lah
atau oknumnya lah
Maksud pak ahok adalah mau pake oli merek apapun kalo mesinnya udah bobrok ya mesinnya dulu dibenerin, bukan malah salahin merek olinya
ibarat albert einsten nih di kasih jadi presiden di indo
juga kagak bisa ngapain ngapain
orang di dalam semuanya udah rusak
dan kalo mau di perbaikin
harus di libas tuh semua jaajaran satu generasi
Kenapa ngotot banget MBG DAN KOPDES?
Karena itu lumbung suara mereka 2029, tiap2 pemilik SPPG dan kepala KOPDES akan diberikan tugas memenangkan calon mereka di 2029 nanti, kalau sampai mereka tidak menang di daerah itu, siap2 pemilik SPPG dan kepala KOPDES nya diburu KPK 2029 , bahasa pendeknya adalah SANDERA POLITIK
MBG kan ada SPPG
sppg yang akan di bangun tuh 30.000
sementara kopdes akan ada 80.000 unit
kita anggap aja tiap sppg dan kopdes yang kerja 10 orang
SPPG:
35.000 unit × 10 orang = 350.000 orang
KOPDES:
80.000 unit × 10 orang = 800.000 orang
Total keseluruhan:
350.000 + 800.000 = 1.150.000 orang
Jadi kalau asumsi tiap unit diisi 10 orang, totalnya sekitar 1,15 juta orang.
1.15 juta suara terkumpul tanpa perlu sogokan dll
Kalau tiap unit 20 orang
115.000 × 20 = 2.300.000 orang
Kalau tiap unit 30 orang
115.000 × 30 = 3.450.000 orang
Kalau tiap unit 40 orang
115.000 × 40 = 4.600.000 orang
Kalau tiap unit 50 orang
115.000 × 50 = 5.750.000 orang
Ini bukan soal Teddy Indra Wijaya sebagai pribadi.
Ini soal sistem militer yang lagi dilipet seenaknya.
Begini faktanya:
Bagi lulusan Akmil 2011, seharusnya baru layak Letkol sekitar 2034.
Teddy adalah lulusan Akmil 2011, 2026 udah Letkol.
Loncat 8 tahun!!!
Dan ini bukan sekali.
Naik pangkatnya pakai istilah ajaib:
“kenaikan reguler dipercepat”
yang bahkan dikritik analis militer kayak Selamat Ginting sebagai gak ada dalam aturan TNI.
Masalah makin serius:
UU TNI cuma izinkan perwira aktif isi 10 jabatan sipil.
Seskab? Gak masuk.
Artinya?
Kalau mau jadi Seskab, harusnya mundur dulu dari TNI.
Tapi ini enggak.
Lebih aneh lagi:
Jabatan Seskab setara eselon 2.
Harusnya minimal Brigjen.
Sekarang malah cukup Letkol.
Belum cukup syarat, tapi sudah duduk.
Sementara itu:
Perwira lebih senior,
lebih lengkap pendidikan,
masih ngantri.
Pesan yang dikirim ke dalam TNI jelas:
Prestasi kalah sama kedekatan.
Kalau ini dibiarkan,
yang rusak bukan cuma satu orang.
Yang rusak: sistem.
Dan kalau militer mulai longgar terhadap aturan dan bisa dilangkahi,
yang kena dampaknya bukan cuma mereka.
Tapi kita semua.
Guys, ada sesuatu yang sangat ironis yang terjadi dalam dua hari berturut-turut di Indonesia.
1 Mei — Hari Buruh.
Prabowo hadir di Monas.
Berdiri di panggung bersama puluhan ribu buruh. Bernyanyi.
Berpidato.
Mengumumkan cicilan KPR 40 tahun dan potongan ojol 8%. Kaos 200 ribu lembar dibagikan. Sangat meriah.
2 Mei — Hari Pendidikan Nasional.
Prabowo rapat tertutup di Hambalang.
Tidak ada seremoni khusus.
Tidak ada pidato untuk guru dan siswa.
Tidak ada satu pun agenda yang secara khusus merayakan atau memperingati Hardiknas.
Bukan kebetulan ini adalah pilihan.
Ketika seorang presiden memilih hadir secara dramatis di Hari Buruh dengan panggung besar dan ribuan orang tapi memilih rapat tertutup di rumah pribadi pada Hari Pendidikan Nasional itu bukan soal jadwal yang padat.
Itu adalah pernyataan tentang apa yang dianggap lebih penting secara politik.
Buruh hadir secara fisik dan bisa dimobilisasi.
Guru honorer yang gajinya Rp300 ribu per bulan tidak membawa massa ke Monas.
Anak-anak di sekolah rusak tidak bisa berteriak di depan istana.
Siswa disabilitas yang dibuang sistem tidak punya organisasi yang bisa mengancam stabilitas politik.
Makanya satu dirayakan dengan meriah.
Yang satu dilewati dengan rapat tertutup di Hambalang.
Dan ini bukan pertama kali Hambalang dijadikan tempat rapat kabinet:
8 Maret 2026 — lima rapat dalam satu hari di Hambalang. Membahas pendidikan, geopolitik Timur Tengah, mudik Lebaran.
2 Mei 2026 — rapat tertutup lagi di Hambalang. Membahas aspirasi buruh dan perguruan tinggi.
Pola ini konsisten.
Dan setiap kali hasil rapatnya dirilis isinya selalu berakhir dengan kalimat yang sama:
"Pemerintah terus berkomitmen untuk menghadirkan kebijakan yang melindungi, mencerdaskan, dan menyejahterakan seluruh lapisan masyarakat Indonesia."
Tanpa angka.
Tanpa target.
Tanpa timeline.
Tanpa akuntabilitas.
Sementara di luar Hambalang kondisi pendidikan Indonesia hari ini:
Guru honorer masih ada yang menerima gaji Rp150-300 ribu per bulan. Ratusan ribu ruang kelas kondisinya rusak sedang hingga berat. Anak disabilitas masih bisa dikeluarkan sekolah secara diam-diam dan tidak ada yang menindak.
Perguruan tinggi terbaik masih terkonsentrasi di Jawa. Angka putus kuliah karena faktor ekonomi masih sangat tinggi.
Dan pada Hari Pendidikan Nasional 2026 solusi yang ditawarkan adalah: manfaatkan fakultas teknik perguruan tinggi untuk membangun daerah.
Bukan ide buruk.
Tapi itu bukan jawaban atas masalah struktural yang sudah puluhan tahun tidak selesai.
Ki Hajar Dewantara pasti sangat sedih:
Hardiknas ditetapkan untuk mengenang beliau — yang percaya bahwa pendidikan adalah hak setiap anak Indonesia tanpa kecuali.
Yang berjuang agar anak-anak pribumi bisa mengakses pendidikan yang bermartabat.
Yang mendirikan Taman Siswa karena sistem yang ada tidak berpihak kepada rakyat kecil.
Dan di hari yang didedikasikan untuk mengenang perjuangannya presiden rapat tertutup di rumah pribadi.
Tanpa satu pun momen yang secara khusus menyapa guru, siswa, atau orang tua yang berjuang keras menyekolahkan anaknya.
"Ing ngarsa sung tulada."
Di depan memberi teladan.
Teladan seperti apa yang diberikan ketika Hari Buruh dirayakan dengan meriah tapi Hari Pendidikan Nasional dilewati tanpa pesan khusus untuk anak-anak Indonesia?
Indonesia merayakan Hari Buruh dengan kaos, panggung, dan janji-janji besar.
Dan keesokan harinya Hari Pendidikan Nasional dilewati dengan rapat tertutup di kediaman pribadi presiden yang hasilnya hanya satu paragraf rilis.
Bukan salah buruhnya.
Mereka memang harus diperjuangkan.
Tapi kalau energi, perhatian, dan kehadiran fisik presiden hanya muncul ketika ada massa yang bisa dimobilisasi dan tidak hadir ketika yang membutuhkan perhatian adalah guru honorer yang tidak punya serikat besar dan siswa yang tidak bisa berteriak di depan istana maka yang terjadi bukan keberpihakan.
Itu politik.
Dan politik yang mengorbankan pendidikan demi popularitas jangka pendek adalah utang yang akan dibayar oleh generasi berikutnya bukan oleh kita yang sekarang.
Saya sih nggak terlalu kaget soal isu sensitif istana yang lagi beredar. Yang justru bikin saya kaget adalah fakta bahwa ternyata Komdigi bisa secanggih itu.
Bisa gerak cepat. Bisa responsif. Bisa menekan platform besar. Bisa bikin akses media sekelas YouTube/Google ikut kena tindakan (walaupun masih bisa diakses lewat VPN h3h3). Bisa bikin pernyataan resmi (padahal target subyek pembahasan di video bukan Komdigi, tapi Komdigi rela nyebokin).
Bahkan bisa sigap ambil langkah hukum dan bisa bypass aturan MK soal pedoman UU ITE yang nggak bisa digugat oleh badan/instansi.
Berarti kemampuan teknisnya ada.
Dan kalau kemampuan itu memang ada, harusnya ruang digital kita bisa jauh lebih bersih dari sekarang.
Harusnya iklan penipuan nggak semudah itu lewat. Harusnya nomor pribadi masyarakat nggak seenaknya dipakai SMS promosi.
Harusnya data kita nggak gampang bocor lalu dipakai buat nawarin pinjaman, j*dol, investasi bodong, sampai lowongan kerja palsu. Harusnya platform-platform digital yang merugikan masyarakat juga bisa ditindak dengan kecepatan yang sama.
Karena ternyata masalahnya bukan karena negara ini nggak punya alat. Alatnya ada. Jalurnya ada. Kapasitasnya ada.
Cuma selama ini kita terlalu sering melihat teknologi negara bekerja cepat ketika yang terganggu adalah kekuasaan, bukan ketika yang dirugikan adalah masyarakat.
Karena ternyata tombolnya memang ada.
Cuma rakyat sering kebagian tulisan:
“mohon menunggu”.
Tapi yaa kita sama-sama paham lah ya, kenapa isu-isu krusial yang lain terkesan sulit diberantas.
Sekelas warung remang-remang saja mesti "koordinasi" dulu biar bisnisnya tetap jalan.
Paham kan ya..
cc:cakraadinegara
Guys, ada kasus yang menurut gue salah satu yang paling mengkhianati kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.
Dan yang paling menyakitkan bukan hanya perbuatannya tapi hukumannya.
Kasusnya:
Seorang perempuan 18 tahun di Jambi diperkosa. Pelakunya tujuh orang.
Empat terlibat langsung dua di antaranya oknum polisi aktif.
Tiga lainnya menyaksikan dan salah satunya ikut menggotong korban untuk dibuang setelah kejadian.
Bukan rekayasa.
Bukan fitnah.
Sudah masuk sidang etik.
Hukumannya:
Dua yang melakukan pemerkosaan langsung dipecat tidak hormat (PTDH).
Ini langkah yang tepat walaupun proses pidana harus tetap berjalan dan belum jelas statusnya sekarang.
Tapi tiga yang menyaksikan dan membiarkan termasuk yang ikut menggotong korban?
Minta maaf.
Dan isolasi 21 hari.
Berhenti sebentar di sini.
Tiga orang dewasa berseragam polisi yang tugasnya melindungi masyarakat menyaksikan pemerkosaan terjadi di depan mata mereka.
Tidak menghentikan.
Tidak menolong.
Bahkan satu di antaranya ikut memindahkan korban.
Dan hukumannya:
minta maaf dan dikurung 21 hari.
Tiga minggu.
Lalu bebas.
Lalu kembali berseragam?
Ini bukan hanya soal ringannya hukuman:
Ini adalah konfirmasi dari apa yang selama ini dicurigai publik bahwa di dalam institusi kepolisian ada yang disebut code of silence kesepakatan diam-diam untuk saling melindungi.
Mahfud MD mengatakannya secara eksplisit di podcast:
Polisi memperkosa dan disaksikan oleh polisi lain yang hanya menonton tidak menolong bahkan ikut menggotong korban untuk dibuang.
Dan hukumannya hanya minta maaf dan 21 hari isolasi.
Itu yang disebut code of silence menutup institusi.
Secara hukum ini jelas melanggar:
Polisi yang menyaksikan kejahatan dan tidak bertindak bukan hanya melanggar etika mereka melanggar kewajiban hukum.
Seorang polisi yang membiarkan kejahatan terjadi di depan matanya apalagi kejahatan seserius pemerkosaan seharusnya bisa dijerat dengan pasal pembiaran yang dalam KUHP baru masuk dalam kategori pelanggaran serius.
21 hari isolasi bukan hukuman.
Itu liburan berbayar.
Yang membuat ini makin tidak masuk akal:
Ini terjadi di tengah proses reformasi Polri yang sedang berjalan.
Komisi yang dibentuk presiden dipimpin Mahfud MD sudah menyerahkan rekomendasi.
Salah satu kesepakatan yang sudah diumumkan: tidak ada titip-titipan di rekrutmen Akpol, proses lebih transparan.
Sinyal reformasi ada.
Tapi di lapangan oknum memerkosa, rekannya menonton, dan hukumannya 21 hari.
Reformasi atas kertas versus realita di lapangan.
Dan yang terjebak di tengahnya adalah korban berusia 18 tahun yang keluarganya terpaksa cari Hotman Paris karena merasa tidak ada yang mau mendengarkan mereka.
Dan ini yang paling bikin gue tidak bisa diam:
Korban bukan orang yang punya koneksi.
Bukan anak pejabat.
Bukan siapa-siapa yang bisa telepon orang dalam.
Dia perempuan muda biasa yang seharusnya dilindungi oleh orang-orang yang justru menyakitinya.
Dan ketika keluarganya protes hukuman yang keluar adalah 21 hari isolasi untuk yang membiarkan.
Kalau ini yang terjadi pada perempuan yang tidak punya kuasa bayangkan berapa banyak kasus serupa yang tidak pernah sampai ke publik karena korbannya memilih diam daripada berhadapan dengan institusi yang melindungi pelakunya.
Yang harus terjadi tapi belum terjadi:
Satu —proses pidana terhadap dua pelaku langsung harus berjalan dan harus transparan. PTDH tanpa pidana bukan keadilan.
Dua — tiga yang menyaksikan dan membiarkan harus diperiksa secara pidana bukan hanya etik. Membiarkan kejahatan serius di depan mata sambil ikut memindahkan korban itu bukan pelanggaran administrasi — itu tindak pidana.
Tiga — Polda harus memberikan penjelasan publik yang konkret soal proses dan sanksi yang dijatuhkan bukan pernyataan general soal "oknum."
Empat — dan seperti biasa kata "oknum" harus berhenti dipakai sebagai perisai institusi. Kalau tiga orang berseragam di satu kejadian yang sama semuanya adalah oknum maka yang bermasalah bukan orangnya saja. Yang bermasalah adalah sistemnya.
Sebuah negara diukur dari bagaimana ia memperlakukan yang paling tidak berdaya.
Seorang perempuan 18 tahun diserang oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya.
Dan sistem yang seharusnya memberi keadilan memberi pelakunya tiga minggu isolasi.
Kalau ini yang terjadi dan dianggap cukup maka pertanyaan yang harus dijawab bukan hanya soal hukuman yang ringan.
Tapi soal apakah institusi ini memang serius ingin berubah atau hanya ingin kelihatan serius berubah.