Banyak orang terlalu fokus pada apa yg sudah hilang.
Mereka berdiri di depan ladang yg merugi, setiap hari melihat ke arah yang sama, berharap keadaan berubah dengan sendirinya.
Padahal harapan ga membuat tanaman tumbuh lebih cepat.
Modal yg diam juga ga akan bekerja dengan sendirinya.
Terkadang langkah terbaik bukanlah terus menatap kebun yg sedang gagal panen, melainkan berani mencari kebun lain yg lebih produktif.
Bukan karena menyerah. Bukan karena kehilangan keyakinan.
Tapi karena memahami bahwa waktu adalah ASET yang ga bisa dibeli kembali.
Ketika orang lain sibuk menghitung kerugian, harusnya kamu sibuk mencari cara untuk menghasilkan.
Ketika orang lain menunggu kesempatan datang, harusnya kamu bisa memanfaatkan kesempatan yg sudah ada di depan mata.
Fokus utamamu bukan membuktikan bahwa keputusan masa lalu itu adalah benar.
Tapi fokus utamamu adalah memastikan modal terus bertumbuh.
Karena pada akhirnya, pasar ga memberi penghargaan kepada orang yg paling lama menunggu.
Pasar memberi penghargaan kepada mereka yg mampu beradaptasi, mengelola risiko, dan memindahkan modal ke tempat yg paling produktif.
Jadi jangan hanya menunggu padi yg merugi pulih dengan sendirinya.
Carilah kebun lain yg bisa menghasilkan lebih cepat.
Tutup kerugian sedikit demi sedikit.
Bangun kembali modalmu.
Kumpulkan keuntunganmu.
Dan ketika waktunya tiba, kamu bisa kembali ke kebun padi itu bukan sebagai orang yg sedang berharap, melainkan sebagai orang yg datang dengan modal lebih besar, posisi lebih kuat, dan pilihan yg lebih banyak.
Akhir kata:
"Jangan terikat pada apa yg pernah kamu tanam. Terikatlah pada tujuan untuk terus bertumbuh".
Wahai pehalu, segara ubah haluan halumu! 🥲
Idealnya, oli akan hitam setelah jalan lebih dr 1000km terutama pengguna BBM subsidi.
Tanda nya detergent dalam oli bekerja baik.
Klo diesel, bisa lebih cepat lg proses menghitamnya.
Klo setelah lebih dr 1000km masih bening, jd tanda tanya kualitas additif oli nya.
Ra rampung-rampung kalau bahas pencapaian apalagi membandingkan, makanya walaupun klise mindset itu penting.
Karena mindset > ngaruh ke apa yang dipikirkan + dirasakan > ngaruh ke decision making. Soalnya mindset itu bakal gerakin via alam bawah sadar (tiba-tiba aja mencet tombol buy/sell karena panik).
Nah, bagusnya mindset itu bisa diubah, caranya ya tinggal dibuat sadar (conscious). Nah kata Anne ini ada 3 tipe mindset:
1. Cynical Mindset
2. Escapist Mindset
3. Perfectionist Mindset
4. Experimental Mindset
Cynical Mindset ini mode kita sinis/julid, uda ga semangat.
'Ih ngapain si kamu sok2an rajin garap, emang bakalan jp?',
daripada garap mending ngocok/doom-scrolling, ngabisin waktu debat online, stuck di siklus negatif, kenapa gini? Ya soalnya lagi survival mode.
Escapist Mindset ini mode orang masi kepo, tapi uda ga ambisius.
Yah model-model, suka nge-kasirin profit orang.
'Ah si A entry harga sekian jual sekian, JP gede tuh', liatin ticker/garapan cuma di bookmark besoknya lupa.
Perfectionist Mindset ini mode orang full ambisius, kayak ambisius banget.
Semua garapan dihajar, ada event offline dateng 'soalnya kata orang-orang teh yout networth is your network'. Airdrop, trading, trenches, nft semua hajar sampe akhirnya nanti burnout.
Nah yang terakhir ini yang disaranin,
Yaitu Experimental mindset, mindset yang ngeliatin kalau ketidakpastian itu kesempatan buat dijelajahi, buat berkembang juga belajar, ga ngejar outcome pasti
Gue lebih suka sama orang yang kek gini.
Nanya sopan. Nggak minta ikan cuma minta info.
.
Udah dikasih tutorial sama dia dibaca sendiri. Dipelajarin.
.
Banyak banget yg dm pertanyaan yg sama
“Bang ini gimana?”
“Bang gw ada duit segini…”
“Bang….
.
Sorry banget.
Gue nulis panjang panjang itu thread pake effort.
Pake pengalaman gue kena rug ratusan kali.
Kalo lu belum baca dan langsung nanya, padahal jawabannya ada disana. Itu biasanya gue diemin 👍🏻
.
Sorry bgt bukanya sombong atau apa, tapi balesin pertanyaan yang sama 1000x itu melelahkan juga bang.
.
Baca, pelajarin, terapin. Kalo mau improve baru tanya.
Baca aja belum udah nanya pertanyaan yang jawabannya ada dihalaman satu….
.
Tuhan ngasih banyak banget jalan, kadang kamu nya yang males ambil.
The world doesn't belong to highly intelligent people
The world belongs to high-energy, risk-takers, those who operate outside social norms and are not afraid to expose themselves in uncomfortable positions
mid intelignece + execution + risk > 140iq living of negative loops
Lalu mengapa futures, perpetual, dan leverage mayoritas ulama tidak memperbolehkannya?
Karena mengandung tiga larangan besar dalam mu'amalah :
1. Riba.
Tercermin dalam funding rate dan interest implisit atas penggunaan leverage.
2. Gharar.
Tidak adanya kepemilikan aset real. Yg diperdagangkan hanyalah kontrak atas pergerakan harga.
3. Maisir.
Bersifat zero sum game, di mana keuntungan satu pihak berasal dari kerugian pihak lain (Liquidation), dan secara empiris mayoritas pelaku mengalami kerugian.
Perlu dicatat, ini bukan persoalan Kripto, melainkan persoalan Derivatif.
Prinsip yang sama juga berlaku pada instrumen Derivatif di pasar Saham.
Nah, klo yield staking gimana bang?
(Hati-hati pada jebakan istilah)
Diperbolehkan, apabila :
- Imbal hasil berasal dari jasa terhadap jaringan (validator, keamanan, konsensus).
- Bersifat ujrah (upah jasa), bukan bunga.
Tidak diperbolehkan, apabila :
- Imbal hasil bersifat tetap (fixed return).
- Dijamin tanpa resiko.
- Bersumber dari utang (qardh).
- Menyerupai skema deposito berbunga.
Dalam kondisi ini, hakikatnya adalah riba, meskipun dikemas dengan istilah seperti APY.
3 pertanyaan pokok dalam fiqih mu'amalah :
1. Akad apa yang terjadi?
2. Imbalan itu upah atau bunga?
3. Ada jaminan untung atau tidak?
Kalau ini jelas, hukum pun jadi jelas.
Maka tanya ke diri sendiri :
1. Apakah saya memberikan jasa nyata ke sebuah projek atau jaringan?
2. Apakah reward tidak dijamin?
3. Apakah bisa rugi?
4. Apakah reward berasal dari aktivitas real (bukan dari utang)?
Klo ya semua = cenderung boleh.
Klo tidak = cenderung tidak boleh.
Klo ragu = syubhat.
Keknya mayoritas kebanyakan syubhat ya? 😂😂
Saya rusdiansyah minta maaf atas kesalahan yang telah saya lakukan.
saya sungguh sangat menyesal dan tidak ingin mengulanginya lagi.
saya berjanji untuk belajar dari kesalahan ini dan akan menjadi lebih baik ke depannya.
terimakasih kasih atas pengertiannya🙏
Btw ini hal yang sedang gua rasakan juga yaa hehe
ngerasa kok hidup gua begini-begini aja, gak banyak sense of progress, dsb
tapi kemaren ada yg sharing tentang Learned Helplessnes. and it helps me to have a better perspective
Jangankan aset kripto, alam pun ikut di-liquid tanpa belas kasihan.
Semua gara-gara long position rata kanan para penguasa & pengusaha yang nge-leverage lahan, hutan, dan gunung kayak chart nggak bakal pernah nge-dump.
Sekarang Sumatera dipaksa margin call,
Jawa full red-alert honeypot.
Banjir pump ngeri, gempa retrace tanpa cooldown,
gunung mulai airdrop lava,
dan ekosistem yang dulu hijau udah di-rug pull kayak token micin menjelang expired.
Alam udah spam early warning,
tapi mereka tetap degen mining cuan sambil pura-pura nggak lihat seolah yang rusak cuma grafik, padahal ini seluruh negaranya yang ke-liquid.
Stay safe, saudara-saudaraku se-Tanah Air. Semoga yang terdampak diberi ketabahan menghadapi bencana yang terjadi. 🙏🏻
Selamat malam @indodax dan pak @OscarDarmawan
yang terhormat,
Saya baru mengakses akun saya kembali setelah cukup lama tidak aktif, dan menemukan bahwa saldo BTC saya berada dalam status “Frozen Balance” tanpa penjelasan apa pun.
Saya tidak tahu kenapa, mohon penjelasanya.
Alhamdulillah, saldo beku akhirnya cair pagi ini.
Terima kasih semua yang ikut bantu angkat suara 🙏
sebulan lapor CS tanpa kejelasan, thread rame & direspons Pak @OscarDarmawan langsung beres. Rezeki anak saleh😄
Semoga ke depannya proses bantuan user bisa lebih cepat & baik🙏
“Zaman ini semua orang mau cepet dan gampang.
Sedangkan bangun pondasi itu udah pasti lama dan susah.
Masalahnya,
selama BADAI tidak datang, orang yang bangun PONDASI akan terlihat bodoh.
Ngapain bangun proses, maturity, culture, relasi, framework berpikir, habit, dll.
Tidak langsung keliatan dan bisa dipamerkan.
Tapi ketika BADAI datang, baru lah PONDASI ini membedakan mana orang bijak dengan persiapan dan mana orang "merasa pintar" yang roboh.”
— Theo Derick.