Sebagai sesama Muslim ngeliat video ini gue sedih bukan main.
Rasullah SAW bilang di HR Muslim: "Qaddarullahu wa maa sya'a fa'ala" yg artinya ini takdir Allah dan apa yg Ia kehendaki pasti terjadi.
Tapi ucapan Arda murni karena ia merasa lemah, sedih dan frustrasi bukan karena tidak rida.
Semua sudah terjadi, kita sebagai manusia harus bisa bangkit dan makin mendekatkan diri pada-Nya.
Apa momen yg bikin lo kaya gini bray? Pernah ga lo ngerasa semua usaha yg lo lakuin kaya nabrak tembok, dan apa lo lakukan?
@gregorybudiman sejauh ini q bisa kok hidup normal aja di masyarakat. penolakan besar2an y biasanya krn ada orang2 di lgbt sendiri yg memaksakan nilai lgbt agar di terima. alhasil y jadi timbul penolakan keras. walo ada gunjingan di belakang, tpi bukannya semua org pasti ada aja yg di gunjingin?
Adik gue lulus S1 tahun lalu.
IPK 3,8. Cumlaude.
Udah 11 bulan nganggur.
Yang nerima dia kerja pertama kali?
Warung kopi depan rumah.
Gajinya Rp1,2 juta.
Gue gak nulis ini buat nyalahin dirinya.
Atau nyalahin kampusnya.
Gue nulis ini karena gue tau ada jutaan "adik gue" di luar sana.
Yang dibesarkan dengan satu keyakinan:
"Kuliah yang bener, nanti hidupmu terjamin."
Dan sekarang mereka bingung janji itu ke mana?
Gue bukan anti kuliah.
Tapi gue mulai curiga.
Gelar itu dulu pintu masuk.
Sekarang?
Gelar cuma tiket antre.
Semua orang pegang tiket yang sama.
Yang beda adalah apa yang ada di balik tiket itu.
HRD temen gue cerita jujur:
"Dari 200 lamaran yang masuk, 190 punya gelar S1."
"Yang gue panggil? Yang CV-nya beda."
"Portfolio. Project. Pengalaman nyata. Bahkan konten."
"Gelar? Gue liat belakangan."
Itu bukan pengecualian.
Itu udah jadi standar baru.
Adik gue habiskan 4 tahun belajar teori.
Skripsinya 80 halaman.
Tapi pas interview pertama ditanya:
"Pernah handle project apa?"
Dia diem.
Bukan karena dia bodoh.
Tapi karena 4 tahun itu gak ada yang ngajarin dia bikin sesuatu yang nyata.
Yang perusahaan cari sekarang bukan yang paling pintar.
Tapi yang paling siap.
Siap problem solving.
Siap komunikasi.
Siap deliver hasil bukan cuma tugas.
Skill itu gak ada di mata kuliah manapun yang pernah adik gue ambil.
Gue akhirnya kasih adik gue satu hal yang gue nyesel gak tau dari dulu.
Bukan buku kampus. Bukan modul.
Tapi cara berpikir yang beneran dibutuhin dunia kerja sekarang.
Sebulan setelah itu, dia udah punya 2 project freelance.
Tapi tunggu dulu ini belum selesai.
Ada bagian yang lebih bikin gue marah.
Yang bikin gue paling geram bukan sistemnya.
Tapi narasinya.
Orang tua kita masih bilang:
"Kuliah dulu yang bener, jangan kebanyakan kegiatan."
Padahal kegiatan itulah yang dicari HRD.
Kita dilarang melakukan hal yang justru menyelamatkan kita.
Gue gak bilang kuliah itu buang waktu.
Gue bilang kuliah aja gak cukup.
Bedain dua hal itu.
Gelar itu fondasi.
Tapi rumahnya lo yang harus bangun sendiri.
Dan kampus gak pernah ngajarin cara bangun rumahnya.
Adik gue sekarang udah kerja.
Bukan karena gelarnya.
Tapi karena dia akhirnya berhenti nunggu gelar itu bekerja.
Dia mulai bikin portfolio.
Dia mulai belajar skill yang beneran dibutuhin.
Dia mulai kelihatan di tengah 190 orang yang cuma pegang tiket yang sama.
Kalau lo atau adik lo lagi di titik ini
Gelar udah di tangan tapi jalan masih buntu
Jangan tunggu sistem berubah.
Sistemnya gak akan berubah secepat yang lo butuhin.
Mulailah dari apa yang bisa lo kerjakan hari ini.
Bangun portfolio.
Cari pengalaman.
Belajar skill yang memang dibutuhkan.
Karena pada akhirnya, yang membedakan lo dari ratusan pelamar lain bukan cuma gelar yang lo punya, tapi apa yang bisa lo tunjukkan dan kerjakan.
Menurut kalian, di zaman sekarang yang lebih menentukan dapat kerja itu gelar, pengalaman, atau koneksi?
sc:threadssarikuesari
1
inilah yg disebut sebagai suami qowwam👍🏼
ga cuma soal nafkah, tapi juga BERPERAN dan IKUT CAMPUR ngurus anak dari lahir sampai dia dewasa.
anak diajak main, anak dikelonin, anak dimandiin, anak diajak ngobrol, dan peran AYAH itu sangat penting buat anak.
mari kita putus rantai fatherless itu👏🏻
Makanya klo mau nafsir Al-Qur'an itu belajar dulu ilmunya, jangan cuman asal comot tapi kagak tau behind dari tafsirannya. Gue aja yg lulusan Tafsir gak berani menafsir Al-Qur'an, lah lau yang gak punya basic berani nafsir seenaknya. Lau siape mpruy!
Yang harus kalian pahami adalah tidak semua kisah Nabi dalam tafsir itu dibenarkan. Karena gak sedikit tafsiran cerita Nabi itu diambil dari kisah dari tradisi kitab Abrahamik terdahulu (Israiliyat). Termasuk kisah yang di-quote ini. Tidak semua kisah itu valid.
Kisah nabi luth mulu dibawa2, pd beneran baca ngga sih orang sodom tu RAPIST. Mereka RAPING TRAVELLERS, bahkan mau RAPING MALAIKAT yg nyamar sbg cowok2 ganteng. Mereka MERAMPOK, MEMERKOSA, GAK MELAYANI TAMU.