@steve_hanke Good and bad come in and out, that is the test for man kind. Someone survive and else die, it is rolling over one another time to time, history repeat itself. Someone’s crisis can be someone’s else fortune.
@saif_aldareei Everything is possible, in the war time ambiguity is strategy to make the enemy confused, but the intelligent one know it. It is deception time when power can not win it self. The chess board is played by all involved in the ME.
Semua yang terjadi baik & buruk , ni' mat / bala itu adalah dari Allah, kadang Allah memperlihatkan sifat jalalnya, kadang sifat jamalnya. Keduanya bukti sifat kamal kesempurnaannya. Melihat kejadian sekarang dimedsos pada hakikatnya sifat memaksanya Allah terlihat jelas sekali🙂
@RicKY_KCh Kekuasaan cenderung menjadi korup jika tidak ada kontrol atau sistem yang kuat didukung SDM yang taat aturan. Memang parah kalau sampai institusi institusi negara ternyata berisi oknum aparat yang korup. Harus ada punishment berat untuk kasus korupsi seperti itu.
Kebijakan Satu Data Indonesia: arah yang tepat, eksekusi yang masih terseok.
Masalahnya bukan kemauan politik — tapi minimnya SDM yang memahami INTEGRASI SISTEM antar kementerian dari sisi teknis & birokrasi sekaligus
#SatuData#InteroperabilitasSistem#DigitalisasiGov
@steve_hanke Maybe It is the time for US to go home, there are no more safe US bases on the ME region. The longer staying the more suffering. The game is harder now on.
بسم الله الرحمن الرحيم
Tabaruk dengan asma Allah dan
Meminta pertolongan kepada Dzat Allah dalam segala sesuatu. Ketika membaca basmalah maka dua hal tersebut harus kita ingat😊.
From Samurai Heritage to a Pioneer of Islam in Japan 🇯🇵☪️
Few stories reflect the power of sincere searching like the journey of Hajji Umar Ryuichi Mita (Omar Mita) a man from a Buddhist samurai family who became one of Japan's most respected Muslim pioneers.
Born in 1892 in Yamaguchi, Japan, Mita grew up in a family with a proud samurai background. After completing his studies at Yamaguchi University in 1916, he traveled to China seeking treatment for health issues. That journey became the turning point of his life.
In China, he encountered Muslim communities whose honesty, compassion and brotherhood left a deep impression on him. His curiosity about Islam grew, leading him to study the religion and learn more about Muslim civilization.
In 1920, he wrote about Islam in China, expressing his admiration for Islamic values. Later, meeting Hajji Umar Yamaoka the first Japanese Muslim to perform Hajj further inspired him to explore Islam.
After decades of reflection and research, at the age of 49, Mita accepted Islam in Beijing under the guidance of Imam Wang Ruilan. He adopted the name Umar, honoring the great companion and second Caliph, Umar ibn Al-Khattab (RA).
From then on, his life became a mission of learning and service. He studied Arabic, promoted Islamic education and became a respected voice on Muslim affairs in East Asia.
After World War II, he emerged as one of Japan’s leading Muslim figures. As President of the Japan Muslim Association, he worked to introduce Islam to Japanese society through books, lectures and educational efforts.
His greatest contribution came through his historic translation of the Qur’an into Japanese.
Although earlier Japanese translations existed, Mita’s work was the first major translation completed by a Japanese Muslim scholar. Beginning in 1960, he spent 12 years carefully translating the meanings of the Qur’an, using classical Islamic commentaries and striving to preserve the original message without cultural distortion.
Completed in 1972, his translation became one of the most influential Japanese Qur’an translations, opening the door of understanding for countless Japanese readers.
Hajji Umar Mita passed away on May 29, 1983, leaving behind a legacy of faith, knowledge and dedication. His journey from samurai ancestry to Islamic scholarship remains one of the most remarkable chapters in the history of Islam in Japan.
A reminder that guidance can reach any heart, in any land and at any time.
Reference: Islam in Japan by Saleh Mahdi Al-Samarrai (pp. 226–232)
@zaada92 Buku itu ada dua jenis, pertama orang yang menulisnya sudah merasakan dan kedua penulisnya hanya sebatas ilmu teori. Yang paling mudah sebenarnya kalau ketemu guru yang sudah merasakan biasanya mereka mampu memahamkan lebih mudah baik dalam tulisan apalagi lewat lisan langsung.
@muhammadiyah Allah mengabulkan doa bahkan sebelum dipinta, jadikanlah doa sebagai bentuk pengakuan kehambaan bukan untuk nafsu dan keinginanmu. Cukuplah Allah mengabulkan doamu dengan kontan ketika kamu terus menerus digerakan dalam ketaatan dan Allah ridho. Bahkan doamu adalah pemberianNya.
@muhammadiyah Berdoa adalah perintah Allah, sehingga berdoa itu artinya melaksanakan ubudiyah atau penghambaan. Doa itu bukan untuk memenuhi keinginanmu, dan Allah tidak suka diatur atur doamu. Allah mengabulkan atau tidak sesuai kehendakNya. Semakin keinginan dikabul maka semakin jauh😊
@zaada92 Jika dia berjalan naik maka sampai dialam malakut qolbu jadi ruhu , jin dan syaithon menjauh, disini manusia cenderung dengan kebaikan dan melakukan amal sholih. Ruh ini sejenis dengan cahaya lembut sama dengan malaikat malaikat. Sudah naik frekuensinya, jin & syaitan off🙂
@zaada92 Jin & syaithon itu bekerja di frekuensi rendah di alam mulki, alam nafsu ammaroh dan lawwamah yaitu qolbu yang masih menuruti keinginan & nafsu. Selama manusia masih diam disini maka qolbunya terbuka bagi was was dan jeratannya. Mereka malah aktif jualan dosa dan ma'siyat😁.
@filsufsejati Makanya ilmu tentang tauhid khowas atau pun khowasul khowas tidak sembarang disampaikan dikhalayak umum karena pasti menjadi fitnah. Dan orang mengajarkan tidak sembarangan orang pula, karena orang yang paham hal ini sedikit saja dari golongan manusia yang dapat anugerah Allah.
Buku ini judulnya Muqaddimah Ilmu Tasawuf, ditulis Ibnu Khaldun dalam gaya fatwa seorang fakih, bukan cerita romantis tentang cinta ilahi seperti yang biasa kita dengar.
Ia membedah tasawuf dengan pisau bedah akal dan hukum, membelah dunia sufi jadi dua kubu yang saling bertolak belakang.
.
Kubu pertama disebut tasawuf sunni, jalan yang dirintis Al-Ghazali, Al-Junaid, dan Abdul Qadir Al-Jilani. Di sini syariat selalu ada dulu, baru spiritualitas menyusul.
Zikir boleh, khalwat boleh, tapi shalat lima waktu tetap wajib, tidak ada tawar-menawar meski sudah merasa dekat dengan Tuhan.
.
Kubu kedua disebut tasawuf falsafi, digawangi Ibnu Arabi, Al-Hallaj, dan Suhrawardi.
Di sinilah istilah ittihad, hulul, dan wahdatul wujud lahir, konsep tentang penyatuan diri dengan Tuhan yang terdengar puitis tapi menurut Ibnu Khaldun bisa menjerumuskan orang awam pada delusi yang ia sebut sebagai kegilaan sungguhan.
.
Menariknya Ibnu Khaldun tidak asal menuduh sesat. Ia tetap berusaha memahami ucapan para sufi lewat kacamata tauhid, bahwa yang benar-benar wujud hakiki hanyalah Tuhan.
Tapi ia tegas menolak jika ada yang mengaku sudah menyatu dengan Tuhan lalu merasa bebas dari kewajiban shalat, itu bukan kewalian, itu penyimpangan.
.
Bagi Ibnu Khaldun kebahagiaan sejati hanya tercapai kalau hukum lahir dan batin berjalan beriringan, bukan salah satu ditinggalkan demi yang lain.
Buku ini jadi pengingat bahwa jalan spiritual butuh verifikasi akal sehat, bukan sekadar rasa yang mengaku-ngaku suci.
Baca disini: https://t.co/SsPvI6adqq
China sukses mandiri memproduksi teknologi inti "matahari buatan" (reaktor fusi EAST). Reaktor ini ditargetkan rampung pada 2027 dan siap menghasilkan listrik fusi pertama pada 2030.
~NJ #China
@filsufsejati Iman taklid iman tanpa ilmu tertolak, maka diharuskan menuntut ilmu sehingga jelas fondasi dalil yang kuat tidak sekadar ikut ikutan tanpa dasar. Wajib aqli, mustahil Aqli dan jaiz Aqli membuat pemahaman terhadap iman dan tauhid lebih mudah sebagai bingkai keilmuan yang kuat.