Bukan #TipisTipisGrafika sih, cuma HTML Canvas biasa. Bikin game sederhana untuk tugas kuliah. Ngga pake library, kecuali Vite untuk build tool nya 😃
Link: https://t.co/lZE7wwe6OS
Baru tau di C ngga ada remove element dari array berdasarkan indeks, jadi solusinya geser element untuk mengisi posisi yang dihapus. Next nya mungkin belajar alokasi memory (malloc/free) supaya bisa alokasi memory secara dinamis.
@_anakpolos Pengalaman juga gue, cukup sekali aja udah minjemin pinjol ke temen. Janjinya bayar tepat waktu tapi nunggak terus sampe jelek BI checking gua🙃
🤯 The level of sophistication of the XZ attack is very impressive! I tried to make sense of the analysis in a single page (which was quite complicated)!
I hope it helps to make sense of the information out there. Please treat the information "as is" while the analysis progresses! 🧐 #infosec #xz
@bmcnett Nah, the thing is anything that works and is worth while is written in C. And all the slow shit software is written in some clean code abstraction hellscape language.
Dari sekian pertanyaan di tanyaaja dan interaksi di cuiter saya akhirnya punya satu kesimpulan:
Kebanyakan orang memrogram dengan target "bahasanya bisa ngapain", bukan "mesinnya bisa diapain dengan pakai bahasa itu".
Indikator Pertama
Yang paling mudah dilihat adalah ketika saya menunjukkan kalo ngebuka dan nge'parse' sederhana berkas 3GB. Reaksi pertama adalah: wah specnya bagus. Yang mana sebenarnya yang saya buat itu bisa jalan di komputer dengan RAM > 64MB krn yang saya lakukan hanyak me memory-map sebuah file ke memori.
Hal itu bukan hal sulit. Cuma perlu awareness aja, kalo buka tutup file itu ga cuma pake file API (open, read, write, close) aja, tapi bisa dengan cara memetakan berkas tadi ke memori dan diakses secara acak memakai pointer biasa, tanpa ada operasi read/write.
Saya buat pake C, tapi sebenernya kalo mau, pakai Python pun bisa. Atau apapun yang bisa di-bind dan bisa manggil syscall mmap.
Indikator Kedua
Masih banyak yang bingung kenapa interpreted languages saya labelin cosplay seakan tidak aware kalau interpreted languages seperti Python, Ruby, PHP, dan banyaak lagi, merupakan bahasa lem, yang mana interpreternya dan hampir segala macam fitur yang advanced seperti perkalian matriks, binding ke GPU, enkripsi, dan sebagainya itu dibuat dengan C.
Untuk enkripsi, misalnya, Ruby, Python, PHP, NodeJS pake binding ke OpenSSL, sama, ga ada bedanya, cuma 'beda rupa sama rasa' aja. Jadi sebenarnya meributkan bahasa interpreted hampir ga ada gunanya, karena ya, itu, sama aja.
Jadi maksud 'cosplay' ini adalah, bahasa-bahasa di atas merupakan "User Interface" yang lebih mudah digunakan dan lebih cepat dipelajari, ketimbang langsung ngoding pake C.
Tapi apa yang terjadi ketika kita memasang ekstensi di bahasa-bahasa tersebut? Yep! Pake C.
Untuk menjalankan script yang ditulis dengan bahasa-bahasa tersebut, perlu "program ajaib" yang ditulis dengan C.
Bandingkan itu dengan Rust, Zig, dan Go. Mereka BISA berinteraksi dengan C, tetapi tidak benar-benar membutuhkan sesuatu "program ajaib" yang ditulis dengan C untuk bisa menjalankan binary-nya.