kalau dari awal cuma mau temenan why you keep texting, send pap, talking about your dreams and share your daily life. So please don't treat people like a backburner, second choice, or your last
option.
Dozer Chapter 3 : SELESAI
Bersambung ke Chapter 4 : Napak Tilas Nostalgia. Kita sambung Kamis malam depan.
Bagi yang mau baca duluan dan support mwv, bisa akses ebooknya via Karyakarsa atau Lynk id. Sudah tersedia chapter 4, 5 dan 6 (tamat). Klik tautan di bawah untuk buka aksesnya :
Lynk id :
https://t.co/uKPw9PQRi6
Karyakarsa :
https://t.co/kQFm6IsTrN
Setelahnya, aku berangkat dengan mengendarai mobil menuju Bandung. Misiku sudah bulat, memperingati teman temanku yang lain tentang kemungkinan datangnya gelombang gangguan berikutnya yang aku rasa berhubungan dengan perbuatan kami di masa lalu.
Aku mencoba mengontak mereka satu persatu dengan mengatakan aku mau ke Bandung dan mengajak mereka untuk berkumpul temu. Beberapa mengiyakan ajakanku itu, namun lebih banyak yang menjawab sedang tidak bisa. Aku sengaja tidak langsung mengatakan tentang teror baru itu. Aku ingin mereka berkumpul dulu dan menceritakan apa yang aku, dan mungkin mereka juga, alami dalam beberapa waktu belakang. Jika aku tidak sendirian, berarti ini memang teror yang menimpa kelas kami lagi secara merata.
Perjalanan ke Bandung hari itu terasa sangat berat. Tubuhku sangat lelah. Leher, bahu, siku dan pundakku seperti digelayuti oleh beban beban berat. Aku yang biasanya tidak memakai balsem sampai sampai harus masuk ke rest area dan membeli produk balsem terpanas yang aku tau untuk memijit bagian bagian tubuhku yang terasa sakit itu.
Setelah sensasi panas dari balsem itu mulai bekerja, aku melanjutkan lagi perjalanan melalui jalan tol. Saat itu tol cukup lengang. Hanya ada beberapa bus lintas provinsi, truk dan sedikit mobil pribadi yang saling pacu dengan jarak yang saling berjauhan.
Agar cepat sampai ke Bandung dan tidak terlalu sore, aku memacu mobilku dengan kecepatan tinggi. Namun, pada salah satu ruas, tiba tiba ada sedikit kemacetan di depan. Aku bersiap menginjak rem dan menurunkan kecepatan. Namun.. kakiku kaku. Sialnya, kakiku kaku dalam posisi menginjak dalam pedal gas.
Panik, aku mencoba menggerakkan kakiku agar berpindah ke pedal rem, tapi gagal. Sementara di depan, bokong bus pariwisata sudah semakin dekat dengan moncong mobil yang aku kendarai.
Mendengar bahwa Bu Tuti dan Pak Teguhlah yang ingin bertemu denganku dan teman teman yang lain, aku merasa itu sebagai keharusan yang harus aku penuhi. Namun tidak mudah untuk merencanakan perjalanan ke Bandung secara mendadak saat hari keberangkatanku sudah semakin dekat.
“Aduh, paling titip salam aja Rik. Aku belum bisa ke Bandung nih..” kataku.
“Om Teguh sama tante Tuti sekarang tinggal di sini kok a. Di perumahan ******, ga jauh dari sini” ujar Erik.
Jujur aku baru tau keluarga Dozer punya rumah di Tangerang. Akhirnya aku tidak punya alasan untuk menolak lagi ajakan itu. Lagipula, kunjunganku itu bisa sekalian jadi agenda berpamitan dan silaturahmi dengan keluarga sahabatku yang sudah beberapa tahun lost contact.
Erik lalu membawaku ke sebuah komplek perumahan dengan mengendarai mobil kami masing masing. Rumah orang tua Dozer ini berada di area paling sudut dan menempel dengan tembok pembatas komplek perumahan dengan area diluarnya. Bangunannya terdiri dari dua lantai dan sedikit lebih besar dari rumah Dozer di Bandung. Dari cerita Erik, dia juga tinggal di rumah ini karena dekat dengan kantornya.
Aku dipersilakan duduk di ruang tengah sementara Erik naik ke lantai dua untuk memanggil Bu Tuti. Sambil menunggu, aku melihat lihat ruangan itu. Ada beberapa pajangan klasik dan makanan toples di meja. Namun perhatianku tertuju pada sebuah lukisan berukuran cukup besar yang terpajang tepat di dinding ruang tengah itu.
Lukisan itu menampilkan seorang laki laki yang sedang menghadap ke samping dengan muka datar dan pakaian kemeja semi formal. Lukisan itu digores langsung di permukaan kanvas dan ditutup menggunakan pigura kaca berlist kayu dengan aksen emas. Meski tidak benar benar mirip, namun ciri ciri rambut, alis dan postur pria dalam mengingatkanku pada satu orang, Dozer.
Kami lalu diminta duduk melingkari benda benda itu oleh Ustadz Sugi.
“Baca terus ayat ayat suci yang kalian hapal dalam hati. Jangan sampai pikiran kalian kosong. Kita harus lemahkan benda benda ini” ujar Ustadz Sugi sambil menuju sakral lampu lalu mematikan penerangan satu satunya di ruangan itu.
Ruangan itu benar benar menjadi gelap gulita. Lalu aku mendengar suara Ustadz Sugi yang kembali dan duduk di tempat kosong antara Pak Teguh dan Hendra.
“Kalau kalian merasa diganggu, diminta berhenti atau pusing, jangan ikuti bisikan itu. Lawan! Tetap ulang ulang bacaan kalian dalam hati, paham?” ujar Ustadz Sugi dalam gelap.
“Baik ustadz..” sahutku dan teman teman yang lain bersamaan.
Ustadz Sugi melantunkan bacaan Quran dari surat surat yang tidak aku hapal. Suaranya bergema di dalam ruangan itu. Sementara aku membaca surah surah pendek di juz 30 yang aku hapal.
Seiring kami membaca ayat ayat di mulut kami masing masing, ruangan itu kian terasa aneh. Meski awalnya panas dan pengap, namun ada angin angin semilir yang terasa lalu lalang di belakang punggungku. Lalu setelah beberapa menit terus membaca ayat Quran itu, tiba tiba dari salah satu sudut kamar ada suara tambahan lain.. sialnya, itu suara pria, suara yang berat dan dalam.. dan bukan suara salah satu diantara kami semua.
“pergi...” ujar suara itu.
“Kalianlah yang pergi. Jangan ganggu keluarga ini lagi! Kaum kalian dan kaum kami punya kehidupannya sendiri sendiri!” ujar Ustadz Sugi, sementara kami tetap membaca Quran dengan berbisik.
“Kami hanya melakukan tugas kami.. mencari sebanyak banyaknya manusia yang akan menemani kami setelah kiamat tiba..” ujar suara pria dari sudut kosong itu.
“Dan tugas kami sesama manusia untuk saling menasehati dan menghindari dari kesesatan kalian! Pergilah! Dengan Nama Allah Yang Maha Besar lagi Maha Berkuasa atas makhluk-Nya!” bentak Ustadz Sugi.
Suara pria yang berat tadi tidak menjawab ucapan Ustadz Sugi dan tidak menyahut lagi meski kami terus membacakan ayat ayat suci itu di dalam kamar Dozer.
.
.
.
Dozer Chapter 2
-SELESAI-
Bersambung ke Chapter 3 : Selesaikan, Apa yang Harus Kalian Selesaikan
Bagi yang mau baca duluan chapter 3,4,5 dan 6 bisa diakses via Karyakarsa, Lynk id dan pembelian manual. 1 chapternya 20k dan ada diskon 25% utk pembelian bundling full story 6 chapter.
Buat yang berminat, klik tautan di bawah :
Lynk id :
https://t.co/1uBMa9ZKiV
Karyakarsa :
https://t.co/r79NZi58SX
Untuk thread chapter 3, kita post setelah lebaran. Ramadhan libur post horror dulu soalnya karena jadwal tarawih. Terima kasih yang sudah membaca dan sampai ketemu lagi di chapter 3
Belum tidur dan kondisi mental yang terguncang membuat kami berlima nampak seperti orang stress. Para petugas yang menyadari itu segera memerintahkan kami untuk pulang dan menenangkan diri, sambil berdoa Dozer akan ditemukan selamat.
“Keterangan mas ini tentang lokasi teman kalian itu terakhir dan ciri cirinya sudah cukup. Sekarang serahkan pada kami. Kami akan berusaha sebaik mungkin..” ujar salah satu petugas senior di sana.
Kami akhirnya menuruti hal itu. Memang, kami benar benar kurang istirahat dan ditambah lagi esok kami harus bekerja. Meski berat, namun orang tua Dozer pada akhirnya juga mendorong kami untuk pulang.
Doni terlebih dahulu tidur selama beberapa jam sebelum kami izinkan mengendarai mobil. Setelahnya, kami semua diantarkan satu persatu hingga ke tujuan akhir Stasiun Bogor. Sepanjang jalan kami hanya diam memandang keluar dari jendela mobil Doni yang dilapisi lapisan film hitam. Langit Bogor hari itu cerah, namun tidak dengan pikiran kami di dalam mobil itu. Saat berpisahpun, tidak ada lambaian tangan riang seperti biasanya. Kami saling berpelukan erat, saling mengingatkan dan menguatkan satu sama lain.
“Sehat sehat kalian, dan jangan lupa doain Dozer. Doain Dozer..” ucap Hendra sambil memeluk kami satu persatu.
“Ah ga mungkin Ndra.. tadi dia kan cerita cerita sama kita di sini” bantah Dozer.
“Iya cerita, tapi sebenarnya dia ngasih peringatan buat kita..” ucap Hendra.
Kami hanya diam. Terlepas apakah Komar itu manusia sungguhan yang peka dan bisa tau kami melakukan mediasi di dalam kemah atau justru memang penjelmaan jin sejak kemunculannya di awal, namun kemunculannya cukup membuat kami memutuskan untuk mengakhiri malam itu lebih cepat. Ancamannya tentang akan ada yang membalas perbuatan kami membuat kami waswas. Kami tidak ingin kejadian Ranca Upas akan terulang di momen yang seharusnya menyenangkan ini.
Kami tidur dalam satu tenda yang sama. Beberapa diantara kami bisa terlelap dengan cepat malam itu. Namun bagi yang sudah menenggak kopi dan melek sepertiku, masih butuh waktu lagi untuk bisa benar benar tidur. Sekitar jam dua dini hari, saat aku baru saja akan terlelap, Dozer, yang terbaring di sampingku tiba tiba duduk dan keluar dari selimutnya.
“Kenapa?” tanyaku, dengan satu mataku terbuka.
“Kebelet, mau pipis dulu” jawabnya sambil
bergegas bangun.
“Mau barengan?” tawarku.
“Mau kencing juga?” tanyanya balik.
“Enggak sih. Nemenin aja” jawabku.
“Oh gausah. Aku sendiri aja gapapa” ucap Dozer sambil berlalu keluar dari tenda.
Sepeninggal Dozer, aku langsung terlelap tanpa menunggu temanku itu itu kembali. Aku baru terbangun saat matahari sudah tinggi dan menjadi yang paling terakhir keluar tenda dibanding teman temanku yang lainnya.
Jawa Barat, 2006
Delapan tahun berlalu sejak kelulusan kami dari SMP itu dengan segala kenangan diluar logika yang juga terjalin di dalamnya. Tahun 2006 ini kami sudah bukan lagi remaja pembuat onar seperti dulu. Aku dan teman temanku sudah menjadi pria pria dewasa yang menggeluti pekerjaan di bidang kami masing masing.
Namun, sama seperti yang kusebutkan di awal ceritaku ini, pertemanan kami terus terjalin meski jarak kami berjauhan dan orang orang baru hadir dalam kehidupan kami. Selalu ada kata pulang dan rindu untuk kembali menjadi anak anak kecil lagi yang saling mengumpat dan berceloteh bersama dengan sahabat sahabatnya tanpa perasaan segan.
Atas dasar itu, kami akhirnya merencanakan kegiatan reuni setelah delapan tahun berpisah. Sayangnya, meski kami merencanakannya sebagai reuni kelas, pada akhirnya yang memutuskan untuk ikut hanyalah orang orang itu lagi. Sahabat sahabat gengku yang mungkin istilah kekiniannya “tidak omdo” saat diajak untuk kegiatan kegiatan bersama.
Dari sembilan belas anggota kelas laki laki, yang berkesempatan ikut acara saat itu hanya enam orang. Terdiri dari aku, Hendra, Sunanto, Asep, Dozer dan Doni.
Karena jumlah peserta yang tak seberapa, akhirnya kami memutuskan acara reuni itu berupa acara kemah di sebuah gunung berjalur landai di Jawa Barat. Saking landainya, untuk sampai di area kaki gunung itu kami bisa menggunakan kendaraan, lalu melanjutkan sedikit perjalanan kaki untuk sampai ke titik lokasi bumi perkemahan. Jika kalian tau gunungnya, simpan dalam hati saja. Berbeda dengan Ranca Upas, lokasi persis kejadian ini enggan aku sebutkan secara langsung. Alasannya akan kalian ketahui nanti..
“Gara gara kalian cerita ini, aku juga jadi ingat. Di sini juga lagi ada desas desus setannya” ucap Kodir, wajahnya nampak serius dan nada bicaranya merendah.
“Setan apa?” tanya Hendra.
“Ituloh Ndra, kamu ingat Kang Usep ga?” tanya Kodir.
“Kang Usep dukun?” tembak Hendra.
“Nah iya. Dia udah meninggal agak tiga empat hari kemarin. Udah tau belum?” tanya Kodir lagi.
“Ah? Innalillahi, belum tau aku. Bapak sama ibu belum cerita. Kenapa emangnya?” tanya Hendra.
Kodir lalu menceritakannya dari awal. Di dusun Hendra ini, ada seorang bernama Kang Usep. Sehari harinya beliau bertugas sebagai keamanan dusun, kerjanya adalah patroli malam keliling desa sampai menjelang pagi. Tapi selain itu, beliau konon juga memiliki ‘ilmu hitam’ dan banyak orang orang yang datang untuk minta ini itu ke rumahnya.
“Pokoknya mah, di sini yang berani keluar sendirian malem malem ya cuma si Kang Usep itu aja. Tapi kayak yang aku bilang, agak tiga atau empat hari kemarin beliau meninggal” sambung Kodir melanjutkan ceritanya.
Kematian Kang Usep sebenarnya normal karena usianya yang cukup sepuh. Tapi keanehan terjadi saat jenazahnya akan dikuburkan oleh warga. Waktu jenazah dukun itu mau dikubur, tiba tiba liang lahatnya muncul air sampai membanjiri cekungan tempat menaruh jenazah. Para petugas gali kubur langsung coba gali di tempat lain, tapi lagi lagi tanah kuburannya itu kembali digenangi air.
“Gatau karena mungkin emang ada mata air atau apa ya, tapi akhirnya tetap dikuburnya disana. Sambil basah basahan..” kenang Kodir.
“Ga hanya Doni, kalian semua yang ngerasa pernah ganggu atau iseng ke hewan hewan di sini, jangan diulangi lagi. Doa ke Allah, semoga Allah mengampui dosa kalian dan rusa rusa yang kalian ganggu ga kenapa napa” ucap Hendra yang dibalas anggukan seluruh peserta camping.
...
Keesokan harinya, tibalah hari terakhir kami camping di Ranca Upas ini.
Tidak hanya kami, para pengunjung lain juga menjadikan hari itu sebagai hari terakhir mereka mendirikan tenda di sana. Sebagian sudah mulai beberes saat hari masih pagi, sebagian lagi termasuk rombongan kami menunggu makan siang dahulu sebelum beranjak dari lokasi itu.
Acara bebas itu kami habiskan dengan berbagai macam kegiatan. Sebagian ada yang berkumpul dan menceritakan pengalaman pengalaman unik selama kami bersekolah bersama, sebagian lagi ada yang menikmati suasana di area Rancaupas, sekedar berjalan jalanataumemberimakankawananrusayang berkeliaran di sana.
Beragam aktivitas itu membuat waktu berlalu tanpa terasa. Saat langit perlahan mulai berubah warna menjadi jingga, aku mulai gelisah dan merasa ada yang kurang. Mulutku terasa asam, dan obat satu satunya adalah rokok.
Ya, aku dan kebanyakan temanku bukanlah siswa yang berkelakuan baik. Rata rata kami semua sudah merokok saat itu, bahkan sejak masih baru awal masuk SMP dulu.
Tapi siapa sangka, kegiatan yang kami rancang sebagai acara senang senang ini justru akan menjadi awal dari rentetan kejadian yang tidak pernah kami lupakan..
...sayangnya, kami tidak bisa melupakannya, karena sesuatu yang amat buruk terjadi di sana..