Rindu itu memang berat. Merantau 6000+ km yang dulu ternyata tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan merantau sekarang yang cuma 250 km. Dulu fasilitas non segalanya. Sekarang tiap saat bisa video call-an. Semoga Allah SWT meridhoi jalan ini. Leaving home to make home.
Merantau di usia 30-an. Ga begitu susah sih proses adaptasinya, karna circle pertemanan juga makin dikit. Sekarang teman cuma kawan2 kantor. Cuma yg agak berat itu rindu sama keluarga. Terimakasih teknologi atas fitur video call nya.
Kehilangan seorang sosok kakak perempuan. Kakak sepupu. Apalagi saat pulang kampung, nyusahin "uni" terus, sering minta tolong. Banyak. Ambilin manggis, rambutan, durian, dan buah2an lain. Uni orang baik. Meninggal di usia muda, sama seperti ibu uni dan nenek uni. Al Fatihah. ๐ซ
Ternyata kopi sebelum nasi itu bikin asam lambung naik. Terparah sejauh ini. Ga lagi deh. Besok2 kalau lagi banyak pikiran coba minum teh gelas aja. Biar murah. ๐
Sedang duduk di emperan warung. Depan pertigaan. Cuaca terik. Suasa hati sedang kacau. Menunggu sesuatu yg diimpikan dalam lamunan. Ditemani kopi dingin 4 ribuan. Jaketku hitam. Sehitam langkah kaki ibu tua itu yg berjalan mengukur jalan. Seharusnya syukur yg harus diperdalam.