- Currencynya melemah terus.
- Indeks sahamnya turun terus.
- Anggarannya defisit terus.
- Bendaharanya gak tau ada pembelian fasilitas masif.
- Pejabatnya ditanya anggarannya dari mana dijawab “pokoknya ada.”
I dont know how many “wallahi we’re finished” I have left in me.
Guys, lu pada tau gak… ternyata masalah nelayan di Indonesia itu bukan karena mereka malas tapi karena sistemnya yang bikin mereka gak pernah bisa naik kelas?
Ini kejadian nyata di Maluku Utara.
Puluhan ribu nelayan di sana bahkan belum punya kapal sendiri.
Mereka tiap hari melaut… tapi pakai kapal orang.
Artinya?
Mereka kerja keras, tapi hasilnya harus dibagi.
Kadang bahkan lebih banyak yang “punya kapal” daripada yang nangkap ikan.
Jadi jangan heran kalau mereka stuck:
bukan karena gak mau maju, tapi karena dari awal udah dikunci sistem.
Masalah utamanya ada 3:
Gak punya modal → gak bisa beli kapal
Biaya operasional tinggi → bensin, alat, dll
Gak ngerti manajemen keuangan → uang habis, muter di situ-situ aja
Akhirnya?
Nelayan cuma jadi “pekerja di laut sendiri”.
Ironis.
Nah yang bikin beda di sini muncul langkah dari berani dari Sherly Laos
Dan ini yang bikin banyak orang kaget:
Dia bukan cuma datang, pidato, terus pulang.
Dia ngerti DETAIL.
Bukan level “bantu nelayan ya”…
tapi sampai:
- Ngomongin mesin kapal 6 PK, 15 PK, sampai 20 PK
- Ngerti kebutuhan operasional nelayan
- Tahu alur bisnis perikanan dari hulu ke hilir
Ini jarang banget.
Karena jujur aja
gak semua pejabat ngerti lapangan.
Banyak yang cuma ngerti konsep di atas kertas.
Program yang dibawa juga bukan sekadar bantuan doang.
Tapi mindset shift:
Dari:
Nelayan penyewa → jadi pemilik kapal
Bergantung → jadi mandiri
Informal → jadi profesional
Caranya gimana?
Nelayan dikurasi dulu (gak asal kasih bantuan)
Dihubungkan ke Bank Rakyat Indonesia buat akses KUR (Kredit Usaha Rakyat)
Dapat bantuan mesin kapal
Dikasih pendampingan keuangan biar gak balik miskin lagi
Ini penting banget.
Karena masalah di Indonesia tuh seringnya:
dikasih bantuan, tapi gak diajarin cara ngelola.
Akhirnya ya balik lagi ke titik nol.
Yang paling “nendang” dari pernyataannya:
Kita tidak membangun nelayan yang bergantung, tapi nelayan yang bermartabat dan berdaulat.
Kalimatnya simpel…
tapi ini beda level.
Karena selama ini banyak program pemerintah secara gak sadar justru melanggengkan ketergantungan.
Dan jujur aja ini yang bikin banyak orang kaget:
“Buset, kok ada gubernur yang ngerti sampai sedetail ini?”
Karena realitanya…
banyak pejabat cuma jago ngomong, tapi gak ngerti masalah di lapangan.
Ini kebalik.
Ngerti dulu → baru ngomong.
Masalah nelayan itu bukan di laut.
Tapi di sistem yang bikin mereka terus jadi “karyawan”.
Dan kalau gak ada pemimpin yang benar-benar ngerti detail kayak gini,
ya selamanya nelayan cuma akan:
kerja keras… tapi gak pernah benar-benar punya apa-apa.
Guys, Feri Amsari lagi ngebedah program Makan Bergizi Gratis (MBG), dan poin utamanya tuh bukan soal niatnya baik atau nggak, tapi cara jalannya yang dianggap bermasalah secara hukum dan sistem.
Jadi gini… menurut dia, program sebesar MBG ini harusnya punya dasar hukum yang jelas.
Masalahnya?
- Nggak ada undang-undang khusus yang ngatur program ini secara detail.
Yang ada cuma masuk ke anggaran di Undang-Undang APBN.
Padahal angkanya nggak main-main:
- Bisa tembus sekitar Rp1,2 triliun per hari
-atau sekitar Rp300–360 triliun per tahun
Nah, di sini dia mulai nyerang logikanya:
Program segede ini, makan duit ratusan triliun,
tapi:
-Tujuannya nggak dijelasin secara ilmiah
-Mekanismenya nggak transparan
-Nggak ada kajian dampak (kayak RIA / analisis ekonomi)
-Bahkan nggak ada uji coba (pilot project)
Jadi menurut dia:
ini kayak program besar tapi lompat langsung jalan tanpa test dulu
Masalah makin keliatan di lapangan
Dia juga nyorot fakta-fakta kejadian:
-Ada makanan nggak layak (mentah, dll)
-Ada kasus keracunan
- Distribusi nggak rapi
Kenapa bisa dibilang berpotensi langgar konstitusi?
Karena di Undang-Undang Dasar 1945 itu jelas:
- Negara wajib melindungi hak warga, termasuk:
- hak hidup layak
- hak kesehatan
- perlindungan anak
Tapi kalau program negara justru:
- bikin orang sakit
-distribusinya kacau
-nggak dirancang dengan benar
Maka niat baik aja nggak cukup, bisa dianggap melanggar konstitusi
Dia bilang Indonesia itu problemnya bukan cuma program, tapi sistem politiknya juga:
DPR + pemerintah terlalu sejalan(koalisi besar)
Hampir nggak ada oposisi kuat
Akibatnya:
program pemerintah mudah lolos tanpa kritik serius
Program bagus + eksekusi ngawur = tetap bahaya
Kalau nggak, ya siap-siap aja digugat ke Mahkamah Konstitusi.
Tapi bukannya Mahkamah Konstitusi juga bisa di sogok ya sekarang???
🇮🇷 Aktivis Iran Risha Hussain baru saja mengungkapkan kebenaran terbesar 🔥🔥
Dia berkata: Dunia menjatuhkan sanksi kepada Iran selama 47 tahun. Ketika Iran menjatuhkan sanksi kepada dunia selama 32 hari, AS dan sekutunya berlutut.
Jika menutup Selat Hormuz itu salah, lalu bagaimana mungkin Rafah tetap tertutup selama dua tahun?
Wanita dengan KEBERANIAN 1000% 🔥
Situasi Perang seminggu ini :
Trump: Kalian nurut tuntutan kita 48 jam
Iran: Nggak ah
Trump: Yaudah lima hari nego deh
Iran: Males bangettt
Trump: Gencatan Senjata sebulan gimana?
Iran: Nggak usah lah gapenting
Trump: Kita kirim tentara AS
Iran: Deket aja kita baku hantam lagi
Dan Perang iran - israel udah mau jalan satu bulan
Salah satu kebiasaan keluargaku yang pengen aku teruskan kalau nanti aku berkeluarga adalah berdoa di waktu waktu mustajab. Pas hujan turun, Jum'at sore, waktu sahur, waktu berbuka puasa.
Beberapa tahun lalu, pas awal mulai, tentu engga mudah. Tapi seneng banget, kalau sekarang denger ibu bilang, “Jum'at sore, ayo doa dulu”
Tanpa menghilangkan rasa simpatik kepada hewan-hewan ini, saya selalu penasaran kenapa kisah sedih hewan-hewan lebih mudah viral ketimbang soal anak-anak yang jadi korban di medan perang, seperti di Palestina.
Ada Hind Rajab (5 tahun), ia terperangkap dan tewas dalam mobil di Gaza setelah ditembak tentara Israel 29 Januari 2024. Yang terbaru ada bayi satu tahun disulut rokok dan ditusuk paku kakinya untuk memaksa ayahnya memangku atas tuduhan tentara israel.
Israel kidnapped a one year old child and, for ten hours, burned the child with cigarettes right in front of the father, and drove nails into the child's feet.
Osama Abu Nassar was near the border east of Al-Maghazi when Israeli soldiers opened fire. A quadcopter drone forced him to leave his 18-month-old son Karim on the ground and walk toward the checkpoint, where he was stripped and detained.
Soldiers then brought the child. According to witnesses and the medical report, they burned Karim's leg with cigarettes and drove a metal nail into his foot.
Karim was released after 10 hours through the Red Cross. His father is still detained. The family is calling on international institutions to intervene for his release so he can continue his psychological treatment, which he was already receiving before any of this happened.
This is not an accusation. It is a medical report and eyewitness testimony about a toddler.
Via- Mohammed Aabed.
Kok serem sih… mbak Nana berkali-kali bilang banyak yang protes, dia keukeuh ngebantah. Ga ada gitu dia penasaran, nanya dulu minimal, “Siapa yang protes? Mana?” Malah come on come on doang ga mau tau. Nuduh orang ga objective tanpa tabayyun.
Bener-bener buta mata buta telinga.
semua dimaafkan kecuali pemerintah, zionis, pelaku kekerasan & pelecehan sexual, pedophile, rapist, child grooming, femisida, koruptor, anak koruptor, buzzer, tukang aduk tai, tukang bakar jembatan, pemantik konflik horizontal, pemuka agama cabul, pelanggar HAM berat, aparat keparat, & segala bentuk enablernya.
@LambeSahamjja jawaban beliau ini sangat menggambarkan kemampuannya
Tidak dapat menangkap poin masalah Tidak dapat memberikan jawaban solutif bahkan cenderung tidak relevan
Sampai kapan Indonesia akan seperti ini. Bahkan join BoP pun ga tektok an sama DPR. Kayak negara punya dia aja