Guys, ada rapat yang bocor hari ini yang menurut gue paling mempermalukan Indonesia di depan investor asing.
Dan yang paling mengejutkan yang ngomong paling keras soal betapa rusaknya sistem kita bukan pengkritik pemerintah.
Bukan oposisi.
Bukan ekonom independen.
Tapi Purbaya sendiri.
Menteri Keuangan kita.
Ceritanya simpel dan sangat memalukan:
Ada perusahaan dari Amerika Serikat, Singapura, dan Arab Saudi yang masuk ke KEK Mandalika Lombok.
Mereka diundang oleh ITDC perusahaan negara yang mengelola kawasan itu untuk membangun instalasi pengolahan air laut menjadi air bersih.
Mereka datang.
Mereka investasi.
Mereka bangun infrastruktur.
Mereka operasi.
Mereka suplai air ke hotel-hotel di Mandalika termasuk untuk kebutuhan MotoGP.
Lalu apa yang terjadi?
ITDC membuat anak perusahaannya sendiri untuk ambil air dari PDAM memotong kontrak dengan investor yang sudah mereka undang.
Investor yang sudah keluar uang besar,
sudah bangun infrastruktur,
sudah operasi tiba-tiba kehilangan pelanggan karena pelanggannya pindah ke perusahaan yang dibuat oleh si tuan tanah sendiri.
Penghasilan investor turun dari 100% ke 10%.
Karyawan lokal satu per satu resign karena tidak ada pekerjaan.
Mesin berhenti.
Investor menyerah.
"Kami sudah tidak punya harapan."
Dan ini kata-kata Purbaya di rapat itu langsung, tanpa sensor:
"Ini bisnis yang enggak benar."
Anda undang investor masuk.
Lalu Anda buat perusahaan Anda sendiri jadi pesaingnya.
Pasti investornya kalah.
Pasti dikalahkan.
Harusnya dari pertama kalau mau gitu
jangan undang investor.
Tapi karena sudah terlanjur diundang
sekarang jadi kacau.
"Enggak mau berbagi untung.
Padahal sudah ngundang orang masuk."
"Ini cara membunuh investor.
Begitu gampang pasti kabur.
Muka kita jelek sekali."
Gue ulangi ini bukan kata pengkritik pemerintah.
Ini kata Menteri Keuangan Prabowo sendiri.
Dan soal izin ini yang paling bikin geleng kepala:
Berdasarkan perjanjian yang sudah ditandatangani dari awal ITDC yang wajib mengurus izin operasional untuk investor itu.
Rapat itu terjadi setelah 5 tahun proyek berjalan.
Izin belum keluar.
Ketika ditanya kenapa jawabannya berputar-putar. Butuh kajian teknis.
Butuh konsultan.
Konsultan butuh bayaran.
Tidak ada yang mau bayar.
Masing-masing pihak saling tunjuk.
Lima tahun. Izin belum ada.
Investor sudah bangkrut duluan.
Dan solusinya ditemukan di rapat itu dalam hitungan menit:
Purbaya telepon langsung perwakilan investor yang ada di Bali.
Tanya: kalau proyek dilanjutkan,
kapan bisa kirim tim ke Mandalika?
Jawaban: empat sampai enam jam.
Lima tahun mandek karena birokrasi.
Empat jam untuk siap jalan kalau ada yang mau gerak.
Dan izin yang katanya butuh berbulan-bulan ternyata bisa keluar dalam 5 hari kerja.
Bahkan lebih cepat kalau ada yang monitor sungguh-sungguh.
Dan ketika ITDC bilang ada benturan kepentingan kalau mereka yang urus izin:
Purbaya langsung semprot:
"Enak aja Anda ngomong benturan kepentingan ketika Anda rugi.
Waktu Anda bikin anak perusahaan sendiri jadi pesaing investor waktu itu Anda enggak bilang benturan kepentingan."
Dan ini yang paling penting untuk dipahami:
Kasus Mandalika ini bukan kejadian langka.
Ini bukan kesalahan satu orang atau satu perusahaan.
Ini adalah cerminan dari sistem yang terjadi di seluruh Indonesia.
Investor diundang masuk dengan janji manis.
Setelah masuk dipersulit izinnya.
Dibuat pesaing dari dalam.
Dikuras sampai tidak bisa bertahan. Lalu pergi.
Dan kita heran kenapa investasi tidak masuk.
Kita heran kenapa rupiah melemah.
Kita heran kenapa lapangan kerja tidak tumbuh.
Sementara di Mandalika karyawan lokal yang seharusnya dapat pekerjaan dari investor asing itu sudah resign semua karena proyek mati.
Mereka jadi pengangguran.
Bukan karena investor tidak mau datang.
Tapi karena sistemnya mengusir investor yang sudah datang.
Dan soal Purbaya gue mau jujur:
Dalam rapat ini Purbaya tampil sangat berbeda dari biasanya. Dia tegas. Dia marah.
Dia menyebut masalahnya dengan jelas.
Dia telepon investor langsung di tengah rapat.
Dia paksa semua pihak untuk berkomitmen.
Itu bagus. Gue apresiasi.
Tapi pertanyaannya: kenapa baru sekarang?
Kasus ini sudah 5 tahun.
Investor sudah menjerit bertahun-tahun.
Karyawan lokal sudah lama kehilangan pekerjaan.
Dan orang yang sama Purbaya selama ini bilang fundamental Indonesia kuat. Bilang investor percaya pada Indonesia. Bilang tidak perlu khawatir.
Sementara di Mandalika investor yang sudah masuk saja tidak bisa bertahan.
Bagaimana investor baru mau masuk kalau yang lama diperlakukan seperti ini?
Prabowo pidato soal reformasi Bea Cukai.
Purbaya menyemprot staf Danantara soal investor yang dikecewakan.
Semua itu bagus sebagai sinyal.
Tapi sinyal saja tidak cukup.
Yang dibutuhkan bukan rapat dramatis yang viral.
Yang dibutuhkan adalah sistem yang memastikan hal seperti ini tidak terjadi lagi di Mandalika, di Nusa Tenggara Timur, di Papua, di seluruh Indonesia.
Karena selama sistem yang sama terus berjalan investor akan terus diundang, lalu digerogoti dari dalam, lalu pergi dan yang paling merugi bukan investornya.
Yang paling merugi adalah karyawan lokal yang seharusnya dapat pekerjaan tapi malah jadi pengangguran.
Dan rakyat yang seharusnya menikmati investasi asing yang masuk tapi tidak pernah merasakan apapun karena investasinya mati duluan sebelum berkembang.
Guys, Ahok baru ngomong sesuatu soal Chromebook dan MBG yang menurut gue paling jujur dan paling berani dari siapapun yang gue dengar dalam beberapa bulan terakhir.
Dan dia ngomongnya
bukan sebagai pembela Nadiem.
Dia ngomong sebagai orang yang paham betul bagaimana sistem pendidikan dan teknologi seharusnya bekerja.
Soal Chromebook dan kenapa Ahok marah:
Ahok bilang dengan sangat tegas:
pengadaan Chromebook itu sebenarnya adalah kebijakan yang sangat masuk akal secara logika.
Chromebook itu bukan laptop biasa.
Operating system-nya berbasis cloud sekali beli langsung include semuanya, tidak perlu diperbarui terus-menerus.
Harganya jauh lebih terjangkau
dari laptop konvensional.
Dan yang paling penting sistemnya dirancang agar anak tidak bisa nonton video porno, tidak bisa judi online, dan seluruh aktivitas belajar bisa dipantau.
Ahok kasih contoh nyata.
Ada guru di Jawa Barat yang punya empat sertifikat internasional bisa mengajar di level dunia. Ujiannya hanya 10 dolar.
Bayangkan kalau semua guru Indonesia bisa akses sertifikasi seperti itu lewat Chromebook yang terhubung Starlink di daerah terpencil anak di kampung tiba-tiba bisa belajar setara dengan anak di Kanada atau Australia.
Itu bukan mimpi.
Itu sudah bisa dilakukan sekarang dengan teknologi yang ada.
"Bayangin kalau semua anak kita di kampung ada Starlink juga kan.
Anak di kampung kita tiba-tiba belajar setara dengan orang di Kanada atau di Amerika atau di Australia."
Lalu kenapa Ahok merasa ini sengaja dihambat:
Ahok bilang dengan sangat hati-hati karena takut diproses hukum lagi tapi dia tetap bilang:
"Saya pikir ini sengaja."
Logikanya sederhana dan sangat keras.
Kalau rakyat pintar, rakyat kritis, rakyat bisa akses informasi dari mana saja mereka lebih sulit dikuasai.
Lebih sulit dibohongi.
Lebih sulit dimanipulasi menjelang pemilu.
Sistem yang membiarkan rakyat bodoh dan miskin adalah sistem yang menguntungkan mereka yang berkuasa.
Karena rakyat yang bodoh dan miskin lebih mudah disuap dengan sembako, lebih mudah digiring dengan hoaks, lebih mudah dikontrol dengan ketergantungan pada program-program yang terkesan murah hati tapi tidak memberdayakan.
MBG- makan bergizi gratis menurut Ahok adalah contoh dari cara berpikir yang sama.
Daripada kasih rakyat laptop yang bisa membuka pintu dunia, lebih mudah kasih makanan yang habis dimakan dan orang tetap tergantung besok makannya dari mana.
"Kalau saya tanya mau bikin sekolah bagus,
kasih makan bergizi atau rakyat punya laptop yang bisa komunikasi ke mana-mana?"
Yang paling menohok soal survei dan legitimasi:
Ahok tidak berhenti di situ.
Dia lanjutkan dengan sesuatu yang sangat pedas.
Pemerintah melakukan survei.
Rakyat bilang mereka suka makanan gratis.
Lalu itu dijadikan legitimasi untuk program MBG.
Seolah-olah karena rakyat minta ya sudah diberikan.
Tapi Ahok membaliknya:
kalau kamu memberikan sesuatu kepada orang yang tidak pernah tahu bahwa ada pilihan yang jauh lebih baik tentu mereka akan pilih yang ada di depan mata.
Itu bukan preferensi yang genuine.
Itu keterbatasan informasi yang dimanfaatkan sebagai justifikasi.
"Mereka juga pintar.
Dia survei, Pak.
Rakyat suka makanan itu jadi legitimasi."
Dan soal Nadiem yang sekarang dituntut 27 tahun:
Ahok tidak membela Nadiem secara personal.
Tapi dia bilang satu hal yang sangat logis dan sangat sulit dibantah:
Menteri itu tidak pernah menyentuh
anggaran secara langsung.
Menteri membuat kebijakan.
Yang mengeksekusi adalah birokrasi di bawahnya.
Kalau ada yang salah dalam eksekusi pertanyaannya adalah:
apakah menteri yang memerintahkan secara eksplisit?
Apakah ada aliran dana yang bisa dibuktikan masuk ke kantong menteri?
PPATK sudah menjawab:
tidak ada.
Nol aliran dana ke Nadiem dari siapapun.
"Saya pikir ya ini soal profesionalisme.
Menteri kan enggak pernah nyentuh anggaran perantaran kan, kecuali dia nyuruh ya atau terima ya."
Ahok tidak sedang bicara soal
Chromebook sebagai produk.
Dia sedang bicara soal pilihan fundamental sebuah bangsa:
apakah kita mau membangun rakyat yang pintar dan mandiri, atau kita mau mempertahankan sistem di mana rakyat tetap bergantung pada belas kasihan penguasa?
MBG memberikan makan hari ini.
Chromebook bisa mengubah nasib seumur hidup.
Dan ketika kebijakan yang lebih transformatif justru dipersoalkan secara hukum sementara program yang lebih konsumtif dirayakan sebagai prestasi itu bukan kebetulan.
Itu adalah pilihan yang sangat disengaja oleh mereka yang paling diuntungkan dari rakyat yang tetap tidak berdaya.
SURAT PERNYATAAN SIKAP DAN KECAMAN KERAS
Nomor: 001/SP-SAF/05/2026
Tanggal: 1 Mei 2026
Kepada Yth.
Bapak Raja Juli Antoni @RajaJuliAntoni
Menteri Kehutanan Republik Indonesia
Bapak Jumhur Hidayat @jumhurhidayat
Menteri Lingkungan Hidup Indonesia
Di Sumatra
Dengan hormat,
Sebagai putra Sumatera yang lahir dan besar di tanah yang kaya akan keanekaragaman hayati, dengan ini saya menyatakan dengan tegas kepada Kementerian Kehutanan dan Kementerian Lingkungan Hidup untuk segera mencabut izin konsesi hutan PT Bentara Agra Timber (BAT).
Dalam dua hari terakhir saja, telah ditemukan 2 ekor Gajah Sumatera mati dan 1 ekor Harimau Sumatera mati yang kejadiannya tepat berada di kawasan Hutan Produksi milik PT Bentara Agra Timber (BAT). Izin perusahaan ini dikeluarkan oleh Kementerian Kehutanan Nomor 74/Menhut-II/2002 dan diperpanjang dengan SK Nomor 529/MENLHK/SETJEN/HPL.0/8/2021.
Satwa-satwa di dalam hutan terus-terusan menjadi korban keserakahan kalian. Jangan sampai Gajah Sumatera dan Harimau Sumatera suatu hari kelak hanya tinggal gambar di atas kertas atau di museum belaka. Kepunahan mereka dari muka bumi harus secepatnya diatasi. Kasih ruang hidup dan jelajah yang layak bagi satwa-satwa endemis Sumatera. Sebagaimana kalian ingin hidup, mereka juga ingin hidup!
Ini bukan lagi sekadar KECELAKAAN atau KONFLIK ALAM, melainkan bukti kegagalan total pengawasan negara atas konsesi hutan produksi yang seharusnya melindungi ekosistem. Habitat Bentang Alam Seblat terus terkoyak oleh perambahan, ekspansi sawit ilegal, dan kelalaian perusahaan yang mendapat izin negara. Berulang kali kasus serupa terjadi di areal yang sama, namun tindakan tegas hanya pembekuan sementara, bukan pencabutan total. Ini sama saja dengan memberi ruang bagi pembunuhan massal satwa dilindungi Undang-Undang!
Kami menuntut dengan tegas:
1. Pencabutan segera dan permanen seluruh izin PBPH/IUPHHK PT Bentara Agra Timber (BAT) beserta sanksi pidana dan perdata bagi perusahaan dan pihak yang terlibat.
2. Investigasi independen dan transparan terhadap penyebab kematian satwa-satwa tersebut, termasuk dugaan jerat, racun, atau konflik akibat perambahan.
3. Percepatan restorasi habitat, perluasan kawasan lindung, dan penguatan patroli di Bentang Alam Seblat sebagai rumah terakhir Gajah dan Harimau Sumatera di Bengkulu.
Evaluasi menyeluruh terhadap seluruh konsesi hutan di Sumatera yang gagal melindungi satwa liar.
Jika tidak ada tindakan nyata dalam waktu singkat, ini akan menjadi catatan hitam bagi pemerintahan kalian di hadapan sejarah dan rakyat Sumatera. Alam tidak memaafkan keserakahan. Generasi mendatang tidak akan memaafkan kelalaian.
Demikian surat pernyataan sikap ini dibuat dengan sebenar-benarnya untuk keselamatan alam Sumatera dan kelangsungan hidup satwa endemis kita.
Hormat kami,
Atas nama rakyat Sumatra
Sumatera Adil & Federal
OGuys Iran baru saja eskalasi ke level yang berbeda total.
Mereka tidak ancam balas serang militer. Mereka ancam serang instalasi desalinasi.
Dan kalau lu tidak tahu apa itu desalinasi ini yang perlu dipahami dulu.
Negara-negara Teluk hampir tidak punya air tawar alami. Saudi. UAE. Qatar. Bahrain. Kuwait. Mereka hidup dari air laut yang diproses menjadi air minum lewat pabrik desalinasi raksasa.
Tanpa pabrik itu tidak ada air minum. Tidak ada air masak. Tidak ada sanitasi.
Saudi Arabia punya pabrik desalinasi terbesar di dunia di Jubail. Satu laporan estimasi kalau pabrik itu diserang Riyadh dengan 8,5 juta penduduk harus dievakuasi dalam satu minggu.
Satu minggu.
Ini bukan ancaman militer biasa. Ini ancaman terhadap kelangsungan hidup sipil jutaan orang.
Dan konteksna Trump kasih ultimatum 48 jam ke Iran untuk buka Hormuz atau Amerika hancurkan pembangkit listrik Iran.
Iran jawab dengan kalau energi kami diserang maka air minum kalian yang kita sasar.
Eskalasi bertukar eskalasi. Ultimatum bertukar ultimatum.
Dan yang ada di tengah 8,5 juta warga Riyadh. Jutaan warga UAE. Qatar. Kuwait. Bahrain. Yang tidak punya pilihan soal perang ini tapi akan menanggung konsekuensinya paling berat.
Ingat Prabowo bilang Saudi tidak punya air hidup dari desalinasi. Dan kalau musuh hancurkan itu very bad trouble.
Sekarang musuh itu sudah namakan target itu secara eksplisit.
Dan untuk Indonesia negara-negara Teluk itu adalah sumber LNG kita. Tujuan ekspor sawit kita. Tempat jutaan TKI kita bekerja.
Kalau kawasan Teluk kolaps karena krisis air dampaknya tidak berhenti di sana
Guys ini yang gw takutkan sejak awal konflik Iran mulai.
Negara-negara miskin jatuh duluan.
Ada delapan negara yang sekarang sudah ada laporan konfirmasi antrian panjang untuk beli bensin. Bangladesh. Sri Lanka. Thailand. Vietnam. Myanmar. India. Pakistan. Filipina.
Delapan negara. Semuanya di Asia. Dan hampir semuanya negara berkembang.
Ini bukan kebetulan. Ini adalah cara kerja krisis energi global yang selalu sama dari dulu.
Negara kaya punya cadangan devisa yang cukup untuk beli minyak dengan harga tinggi lebih lama. Punya sovereign wealth fund. Punya kontrak jangka panjang yang terkunci di harga lama. Punya kemampuan untuk subsidi dalam negeri lebih lama.
Negara miskin tidak punya semua itu.
Begitu harga minyak meledak mereka tidak bisa beli. Antrian dimulai. Ekonomi mulai macet karena transportasi dan industri berhenti. Inflasi meledak. Dan efek dominonya ke pangan karena distribusi terganggu.
Sri Lanka sudah pernah lewati ini sebelumnya. 2022. Presiden kabur dari istana. Rakyat masuk gedung pemerintahan. Negara hampir kolaps.
Dan sekarang namanya ada di list yang sama lagi.
Sekarang letakkan Indonesia di konteks ini.
Kita bukan di list itu sekarang. Tapi kita juga bukan aman sepenuhnya.
Stok BBM kita sekitar 20 hari. APBN hampir jebol di batas 3 persen defisit. Rupiah di Rp17.000. Subsidi energi bisa bengkak Rp100 triliun lebih kalau harga minyak bertahan di atas 90 dolar. Houthi baru masuk perang dan ancam kapal di Laut Merah jalur yang sebagian impor kita lewat sana.
Dan China baru saja tutup ekspor pupuk yang dibutuhkan petani kita untuk tanam musim depan.
Kita belum antri bensin. Tapi kondisi yang bikin negara-negara itu antri sebagian besar sudah ada di Indonesia.
Yang membedakan kita dengan mereka sekarang bukan karena kita jauh lebih siap. Tapi karena kita masih punya sedikit lebih banyak waktu.
Dan waktu itu terbatas
Guys Netanyahu baru saja slip of the tongue yang mungkin paling jujur sepanjang konflik ini.
Dia tidak sengaja ungkap alasan sebenarnya di balik perang Iran.
Dan itu bukan soal nuklir.
Netanyahu bilang rencana sesungguhnya adalah membangun pipa minyak dari Teluk langsung ke pelabuhan-pelabuhan Israel. Memotong sepenuhnya jalur yang dikontrol oleh Arab termasuk Selat Hormuz.
Berhenti sebentar dan pahami apa artinya itu.
Selama ini narasi resminya adalah Iran harus dihentikan karena program nuklir mereka mengancam keamanan kawasan. Itu justifikasi yang dijual ke publik Amerika. Ke Kongres. Ke sekutu NATO. Ke seluruh dunia.
Tapi Netanyahu sendiri yang bocorkan bahwa ini soal kontrol jalur energi.
Pipa minyak langsung ke pelabuhan Israel itu artinya Israel tidak perlu lagi bergantung pada jalur maritim yang dikontrol negara-negara Arab. Artinya Israel punya akses independen ke sumber energi Teluk. Dan artinya siapapun yang ingin akses ke minyak Teluk harus berurusan dengan Israel sebagai titik transit.
Itu bukan keamanan nasional. Itu dominasi geopolitik atas sumber energi paling strategis di planet ini.
Dan konteks ini menjelaskan banyak hal yang selama ini terasa tidak konsisten.
Kenapa Israel menyerang South Pars ladang gas terbesar di dunia tanpa koordinasi Amerika. Kenapa fasilitas-fasilitas energi terus jadi target utama. Kenapa Hormuz menjadi pusat dari seluruh konflik ini.
Ini bukan perang untuk menghancurkan nuklir Iran.
Ini perang untuk mengubah siapa yang mengontrol aliran energi dari Teluk ke seluruh dunia.
Dan yang menanggung biayanya Qatar yang LNG-nya rusak diserang. Saudi yang kilangnya diancam. Rakyat Iran yang hidup dalam hujan hitam beracun setelah depot minyaknya dibom. Petani India yang tidak bisa dapat pupuk karena Hormuz tutup. Rakyat Indonesia yang harga BBM-nya akan naik karena semua ini.
Semua menanggung biaya dari satu rencana yang baru saja tidak sengaja diakui oleh orang yang merancangnya sendiri.
Guys ini ironi paling gila yang terjadi di panggung geopolitik sekarang.
Jepang resmi mendukung Amerika dan Israel dalam perang melawan Iran. Pernyataan itu keluar langsung dari pejabat tinggi mereka.
Tapi ada satu fakta yang sepertinya lupa mereka hitung sebelum ambil posisi itu.
90% minyak impor Jepang masuk lewat Selat Hormuz.
Selat yang sekarang sedang jadi medan perang. Selat yang Iran ancam akan tutup sepenuhnya kalau situasi makin panas. Selat yang kapal kapal tanker sudah mulai kena serangan.
Artinya Jepang sedang mendukung perang yang bisa memutus urat nadi energinya sendiri. Ekonomi Jepang yang sangat bergantung pada energi impor mendukung konflik yang bisa bikin energi itu tidak bisa masuk sama sekali.
Dan ini yang paling pedas dari semua ini.
Jepang mendukung Amerika dengan alasan Iran tidak boleh punya senjata nuklir.
Tapi satu satunya negara di dunia yang pernah menjatuhkan bom nuklir ke kota berpenduduk bukan Iran. Bukan Persia. Bukan negara Timur Tengah manapun.
Itu Amerika. Dan targetnya Hiroshima dan Nagasaki. Jepang sendiri.
Jadi Jepang mendukung satu satunya negara yang pernah mengebom mereka dengan senjata nuklir untuk mencegah negara lain punya senjata yang sama.
Bukan soal siapa yang benar atau salah dalam perang ini. Tapi soal betapa ironisnya posisi yang diambil Jepang dan betapa mahalnya harga yang mungkin harus mereka bayar dari keputusan itu.
Kawan-kawan warga sekalian, tolong bantu kami untuk informasikan akan ada aksi di mana saja hari ini.
Sila reply tweet ini dengan poster aksi atau informasi.
Buat pembaca, selalu verifikasi dua kali informasi yang diberikan oleh orang lain atau bahkan kami.
Jaga diri, jaga sesama. Sampai menang.