meninggalkan orang-orang yang sedang mempertahankan nyawa di belakang sana.
Saat ini, yang terpenting adalah memikirkan keselamatan diri sendiri.
…berkentang...
Bagaimana???"
Arif menghela nafas panjang, yang dikatakan faisal ada benarnya. Mereka bisa melakukan apa saja, bahkan hal yang jauh lebih gila dari pelet darah haid sekalipun. Apalagi mengingat keadaan perempuan itu sekarang,
‘’Dulu, aku mempercayai bahwa cahaya kehidupan akan datang untuk menyinari para hati manusia yang gelap. Sekarang, aku justru membenci pandangan itu.’’
Ibu Sumi dan Pak Sumardi kembali ke desanya. Mereka berdua sudah sedikit mendapatkan informasi terkait dengan pembenaran yang selama ini dicarinya. Bukan hanya untuk menentukan siapa pelakunya akan tetapi yang dia inginkan adalah bagaimana ritualnya dijalankan?
Ia kemudian sejenak membuka jendela hanya untuk melihat wajah cantik calon isterinya, dini. Seketika, dini memperlihatkan senyuman indahnya seperti layaknya bulan purnama yang memiliki keindahan sinarnya.
Malam hari setelah pemakaman jenazah tersebut …
Ibu Sumi masih melihat suaminya yaitu Pak Sumardi sedang terduduk diam di depan rumah. Seperti ada beban yang menyangkut di pikiran suaminya, ibu sumi mencoba menanyakan permasalahan yang sedang dipikirkan suaminya.