Prabowo Subianto is centralising power, marginalising opposition and spending beyond Indonesia’s means. He could undo 20 years of economic and political progress https://t.co/C7qIHwJ5KT
To avoid fiscal calamity, President Prabowo Subianto must change course. To find out how, register to read the full story (it’s free) https://t.co/UfnNVR1UBu
Its president, Prabowo Subianto, must stop trying to squelch opposition in the legislature, media and civil society. Dissent that cannot find an outlet in politics will spill onto the streets https://t.co/1oNm8bdbBd
Mungkin ada yang bertanya, "Kenapa tahun 1998 saat Rupiah anjlok ke 16.000, rakyat langsung turun ke jalan, tapi sekarang di 17.500 pada diam?"
Ini terletak pada kecepatan devaluasi. Pada 1998, Rupiah anjlok dari kisaran 2.500 ke 16.000 hanya dalam hitungan bulan.
Jelaslah ini ngebuat shock therapy yang meruntuhkan daya beli secara instan jelas bisa memicu kepanikan dan revolusi.
Sementara saat ini, pelemahan terjadi secara gradual layaknya sindrom "katak dalam panci yang direbus perlahan".
Harga beras naik sedikit demi sedikit, ongkos transportasi merangkak naik, dan porsi makan di warteg mengecil secara diam-diam.
Rakyat terlalu sibuk beradaptasi dan mencari kerja tambahan ekstra keras dari hari ke hari, sehingga energi untuk berontak sudah habis tersita di jalanan dan di tempat kerja.
Sehat selalu semua yahh guys 💕💕
kita sudah perlu punya imajinasi kalau sekali masuk dalam militer orang itu sama sekali tidak boleh punya hak dalam jabatan sipil dan komisaris BUMN/BUMD. Mau dia pecatan seperti Prabowo, pensiun dini seperti AHY ataupun purnawiran seperti Luhut.
#KembalikanMiliterKeBarak
3 hari yang lalu ada 16 buruh perempuan yg meregang nyawa karena kelalaian banyak pihak. Lalu di mayday ini pemerintah malah ngadain joged bareng buruh. Emang binatang gak punya hati
no you’re not middle class
you’re working class with a little savings that’s just one medical emergency away from poverty
hating the poor won’t make you rich
Retorika ‘silakan kabur’ adalah kerak mentalitas kolonial yang memandang negara sebagai Tanah Perdikan (fiefdom) milik penguasa, bukan mandat rakyat. Dulu Digul menjadi pembuangan bagi nalar merdeka; kini, watak purba itu menubuh kembali—seolah kita memang tidak pernah beranjak.