Hutan dipotong.
Banjir datang.
Manusia mati.
Tapi tidak ada yang ditangkap.
Seolah nyawa tak punya harga
jika pelakunya punya kuasa.
https://t.co/Zxq0KgVFgW
Kronologi Pengeroyokan Siswa Terhadap Guru di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Jambi
Guru sekaligus korban dugaan pengeroyokan siswa SMK di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi, Agus Saputra menceritakan kronologi peristiwa yang dialaminya.
Dia mengatakan, kejadian bermula saat dirinya ditegur oleh seorang siswa sekira pukul 09.00 hingga 10.00 WIB.
Teguran tersebut, menurutnya bernada tidak sopan dan tidak beretika.
Saat itu, siswa yang menegur sedang mengikuti mata pelajaran olahraga (Penjas).
“Guru olahraganya juga ada pada saat itu. Pada saat itu juga saya datang ke kelasnya. Saya tanya siapa yang meneriakkan saya dengan kata-kata yang tidak pantas itu,” katanya.
Dia menuturkan, secara refleks satu diantara siswa itu mengaku.
“Refleks dia bilang saya kemudian saya tampar satu kali,” tuturnya.
Agus menjelaskan, pada jam istirahat dirinya ditantang kembali oleh siswa tersebut.
Kejadian tersebut berlarut hingga pukul 13.00 sampai 16.00 WIB.
“Terjadi mediasi sebelum ada pengeroyokan terhadap saya. Saya sudah berusaha tenang. Pada saat itu saya masih berada di dalam kantor dengan ada CCTV sebagai pembuktian,” jelasnya.
Agus menerangkan, saat mediasi, dirinya menanyakan apa keinginan siswa tersebut.
“Mereka meminta saya meminta maaf untuk hal yang tidak saya lakukan. Kemudian saya membeli alternatif kepada mereka,” terangnya.
Jalan alternatif itu berupa pembuatan petisi.
“Membuat petisi, kalau seandainya mereka tidak menginginkan saya lagi untuk mengajar di sana. Atau, mereka mengubah perangai (perilaku) mereka menjadi lebih baik lagi dari sekarang,” ujarnya.
Agus menambahkan, dirinya sempat diajak komite sekolah seusai mediasi.
“Saya diajak komite masuk ke ruang kantor, di saat itulah terjadi pengeroyokan oleh anak kelas 1, kelas 2, kelas 3,” ucapnya.
Dia mengatakan, kejadian itu segera diamankan aparat keamanan.
“ada aparat datang ke tempat saya, alhamdulillah kooperatif dengan segala macam tentunya guru-guru juga ada yang membantu,” katanya.
Akibat kejadian tersebut, Agus mengaku mengalami cidera dibeberapa bagian tubuhnya.
"335 TRILIUN buat makan siang itu setara dengan:
🎓 3,3 JUTA anak kuliah GRATIS sampai lulus S1 (kampus terkemuka yaa)
🏥 670 RUMAH SAKIT baru standar internasional (bisa bikin lapangan kerja baru)
🏫 167 RIBU sekolah rusak diperbaiki total.
👩🏫 Gaji 5,5 JUTA guru honorer jadi 5 JUTA/bulan (kesejahteraan guru meningkat).
Pada Juli 2024, Arbaini/dikenal Abah Nateh, aktivis lingkungan yg sangat lantang menentang perluasan perkebunan sawit & pertambangan di Hulu Sungai Tengah Kalsel, dibunuh. Saya sempat jumpa beliau & cerita bahwa sdh biasa diancam krn aktivitas jaga hutan Meratus.