🇮🇷🇺🇸🇮🇱⚡️ - Pemimpin Tertinggi Iran menolak untuk pindah ke lokasi yang aman dengan menyatakan bahwa jika Anda dapat memindahkan 90 juta warga Iran ke kota lain, barulah saya akan pindah.
"Ya, sebenarnya Ayatollah Khamenei berada di kantornya setiap hari, dan beberapa kali pihak keamanan memintanya untuk pindah dari kantornya ke kota lain. Namun beliau menolak. Beliau berkata, 'Jika kalian bisa memindahkan 90 juta warga Iran ke kota lain, saya akan pindah setelah 90 juta orang tersebut.'
Dan tentu saja, mereka tidak bisa melakukan itu. Mereka (keamanan) kemudian menawarkan, 'Kami akan menyediakan ruang bawah tanah agar Anda tetap aman.' Beliau menjawab, 'Jika kalian bisa menyediakan dan membangun ruang bawah tanah untuk seluruh rakyat Iran, ya, saya juga siap (pindah) setelah 90 juta orang itu.'
Tentu saja mereka tidak bisa melakukan itu untuk seluruh rakyat Iran. Jadi, beliau tetap tinggal di kantornya, di rumahnya. Dan pada pagi hari, pesawat dari rezim Zionis dan Amerika menyerang kantornya.
Beliau bersama istrinya, menantu perempuannya, dan beberapa keponakannya gugur sebagai syahid."
"Mati Berdiri vs Hidup Berlutut: Ironi Kepemimpinan Dunia Islam"
Sementara hampir seluruh dunia
Muslim Sunni. termasuk Arab
Saudi, yang memproklamirkan
diri sebagai penjaga Mekah dan
Madinah, tunduk kepada Amerika
justru pemimpin satu-satunya
negara mayoritas Syiah yang teguh
pendirian dan membayarnya dengan
nyawanya. Ayatollah Khamenei
gugur sebagai martir dalam serangan
Israel-Amerika, seorang pria yang
bahkan sebagian besar pemimpin
Sunni tidak akan benar-benar
menganggapnya sebagai Muslim.
Namun ia meninggal dalam posisi
berdiri, sedangkan mereka hidup
berlutut setiap hari!
Hanya Allah yang berhak menilai
keimanan seseorang. Namun sejarah
akan menghakimi sisanya. Dan
hari ini, perbedaan itu tidak pernah
sejelas dan sesedih ini!.
AL-FATIHAH..
Pidato @prabowo soal banjir Sumatera dan pentingnya pendidikan lingkungan tampak lebih mirip didengar sebagai kemunafikan politik yang menutupi akar persoalan. Di satu sisi, ia mengucapkan duka dan menyalahkan pemanasan global serta kerusakan lingkungan, lantas mengajak guru dan murid menjaga hutan dan sungai; di sisi lain, pemerintahannya justru memperkuat model ekonomi ekstraktif lewat percepatan hilirisasi tambang, perluasan proyek energi besar (PLTA, PLTP), dan konsolidasi oligarki sumber daya di hulu DAS yang jadi ruang hidup warga di Aceh, Sumut, dan Sumbar.
Banjir bandang sepekan terakhir, jelas sebagai bukti krisis tata kelola—bukan sekadar cuaca—dan justru lahir dari ledakan izin tambang, kebun, dan proyek energi di kawasan penyangga dan hulu sungai, sebuah jejak kebijakan yang tidak disentuh sama sekali dalam pidato manis Prabowo.
Dengan menggiring narasi ke ranah “kesadaran individu” dan kurikulum sekolah, Prabowo menggeser tanggung jawab dari negara ke guru dan murid, seolah nasib banjir Sumatera ditentukan oleh seberapa rajin anak sekolah menanam pohon, bukan oleh pemerintah yang membagi-bagikan izin dan karpet merah investasi di hulu.
Analisis JATAM (https://t.co/1wTGomO0zc) tentang banjir Sumatera justru memperlihatkan bahwa aktor utama perusak hutan, pengubah aliran sungai, dan penghancur kawasan resapan adalah kebijakan negara yang memanjakan korporasi tambang, kebun, dan energi—kebijakan yang di era Prabowo bukan dihentikan, melainkan dipacu atas nama kedaulatan energi dan pembangunan nasional.
Dalam konteks ini, seruan “melindungi hutan dan sungai” dari mulut presiden yang mengawal ekspansi ekstraksi bukan hanya kontradiktif, tapi menjadi bentuk cuci tangan politik di atas lumpur dan puing rumah warga yang terseret banjir.
Surga terakhir Indonesia yang bernama Raja Ampat itu kini berada dalam ancaman keserakahan industri nikel dan hilirisasinya yang digadang-gadang pemerintah.
Raja Ampat : Wisata Ikonis atau Galeri Tambang Nikel?
Simak lengkapnya di https://t.co/jDnDlGO68r
Sebaiknya kalo tanah adat segera di terbitkan sertifikat Hak adat atau ulayatnya pak @prabowo . Agar tidak terjadi lagi hal² seperti ini di daerah² lain. Sebagai RI 1 bapak pasti cinta rakyat & tidak ingin melihat rakyatnya bentrok. @atr_bpn@GakkumKLHK
Anak Shin Tae-yong komen di instagram Timnas :
" banyak yang mau aku katakan tentang bagaimana PSSI memperlakukan ayahku selama 5 tahun tapi aku akan tetap diam "😱😱😱
Waduhhh kalau dibongkar selesai tuh PSSI🤔
Momen Ikonik Shin Tae-yong bersama Timnas Indonesia
Shin Tae-yong resmi meninggalkan kursi kepelatihan Timnas Indonesia. Apa saja yang sudah diwariskannya selama lima tahun ini?
Sebuah utas 🧵
Elu dipajakin dari A sampai Z.
A) Gaji tiap bulan dipotong pajak,
B) THR juga kena pajak,
C) Dapet bonus kena pajak juga,
D) Beli barang mahal kena pajak barang mewah,
E) Rumah kena pajak bumi dan bangunan,
F) Motor harus bayar pajak tiap tahun,
G) Mobil juga bayar pajak tiap tahun,
H) Belanja di supermarket tiap itemnya kena pajak,
I) Makan di restoran kena pajak,
J) Beli barang di luar negeri juga bayar bea cukai,
K) Bunga tabungan kena pajak juga dari negara,
L) Apply kerjaan pakai meterai, bayar ke negara,
M) Resign kerjaan juga bikin surat pernyataan pakai meterai,
N) Harga meterainya dinaikin dari 6000 ke 10000, naik 67%.
O) Ditilang juga bayarnya ke negara,
P) Bikin SKCK juga bayar ke aparat negara,
Q) Beli tanah kena pajak,
R) Beli rumah kena pajak,
S) KPR kena pajak,
T) Bayar listrik kena pajak,
U) Beli pulsa kena pajak,
V) Bayar internet kena pajak,
W) Masuk ke tempat wisata kena retribusi daerah,
X) Stres, mau nyebat, ngrokok kena cukai 30%,
Y) Lebih stres lagi, mau mabok kena cukai 35%,
Z) mati, kubur di TPU masih jg kena pajak daerah.
Terus elu dapetnya apa?
1) Sekolah favorit tiba-tiba gak bisa elu akses karena zonasi,
2) Zonasi kagak mikir pemerataan dulu, ada sekolah di satu kota ngumpul di satu kecamatan doang, sisanya gak ada sekolah,
3) UKT dimahalin, gak bisa dicicil, sampai kampus kerjasama ama pinjol,
4) Judi online dibiarin merajalela,
5) Guru, dosen, dokter, nakes, semua pontang panting nyari kerjaan biar bisa hidup layak, gak bisa ngurus murid/pasien dengan sepenuh hati,
#PajakMencekik