Saya dapat info bhw ada 17 calon Dubes asing yg sudah tiba di Jakarta tapi sampai sekarang masih MENUNGGU waktu utk memberikan surat kepercayaan kpd Presiden. Dari mereka ada yg sudah menunggu 8 bulan. Ada juga Dubes dari negara ASEAN yg menunggu 6 bulan. Karenanya, mereka belum bisa bekerja secara resmi.
Ini memberikan kesan buruk bagi negara2 sahabat yg mengirim Duta Besarnya ke 🇮🇩, apalagi Dubes 🇮🇩 di luar negeri selalu dgn cepat menyerahkan surat kepercayaan kpd host country. Tanpa menyalahkan siapapun, Mohon masalah ini dapat segera dituntaskan Istana krn menyangkut reputasi diplomatik kita.
Ada yang sadar?
Saat Idul Qurban, yang paling sering dibuang justru bagian paling “hidup” dari sapi.
Namanya: rumen.
Padahal ini bukan sekadar isi perut.
Ini reaktor biologis hidup. 👇
Buat yang MALAS MEMBACA tapi BUKAN PARJO PARCOK. Saya bantu translasi article the Economist biar ga IKUTAN DUNGU teriak antek asing dan "semua akan hilang ketika IHSG bullish":
"Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, pernah menyaksikan negaranya hancur sebelumnya. Itu terjadi pada tahun 1998, saat krisis keuangan Asia. Kala itu, runtuhnya ekonomi memicu protes massa dan tumbangnya bapak mertua Pak Prabowo, Suharto, seorang diktator yang terkenal korup. Peristiwa itu juga melemparkan Pak Prabowo, yang sempat berharap bisa menggantikan Suharto, ke dalam pengasingan politik. Butuh waktu seperempat abad baginya untuk merangkak kembali, hingga akhirnya berhasil meraih kursi nomor satu pada tahun 2024.
Jadi, Anda mungkin berpikir dia akan sangat berhati-hati terhadap krisis fiskal lainnya: Anda salah.
Pemimpin negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia ini telah memusatkan kekuasaan dan mengelilingi dirinya dengan sekelompok penjilat. Dia mendepak menteri keuangan yang dihormati dan menggantinya dengan Purbaya Yudhi Sadewa, yang pernah menyebut IMF "bodoh" dan mengatakan kepada The Economist pada bulan April bahwa presiden tidak perlu khawatir tentang "perkembangan ekonomi global [atau] harga minyak dunia". Para pelaku bisnis di Indonesia takut untuk bersuara, mungkin karena Pak Prabowo adalah mantan jenderal antikritik dengan rekam jejak hak asasi manusia yang dipertanyakan, atau mungkin karena belakangan ini dia kerap mengintimidasi bisnis-bisnis besar.
Pak Prabowo tampaknya mengisolasi diri dari kenyataan. Jadi, dia mungkin tidak akan mendengarkan nasihat yang masuk akal. Namun, inilah beberapa masukan untuknya. Proyek-proyek kesayangannya tidak terjangkau. Sebelum perang Iran, menghabiskan proyeksi 10% dari anggaran hanya untuk dua proyek saja—makan siang gratis di sekolah dan jaringan 80.000 koperasi desa—hanya sekadar pemborosan. Sekarang, krisis energi telah menghapus semua ruang untuk melakukan kesalahan. Pak Prabowo harus mengubah arah atau menghadapi risiko krisis.
Dia harus memotong pengeluaran untuk proyek-proyek kesayangannya, atau memangkas subsidi bahan bakar fosil Indonesia yang sangat besar, atau melanggar undang-undang yang membatasi defisit anggaran sebesar 3% dari PDB. Setiap pilihan memiliki risiko. Memangkas proyek mubazirnya akan membuatnya tampak lemah. Membiarkan harga energi naik akan mengundang kerusuhan. Jadi, Pak Prabowo mungkin akan mengambil jalan ketiga: membiarkan defisit menembus batas hukumnya.
Itu akan menjadi sebuah kesalahan. Memang benar, batas 3% adalah angka sewenang-wenang yang disalin-tempel dari Perjanjian Maastricht Eropa. Namun sejak krisis 1998, angka itu telah menjadi sinyal bahwa pemerintah Indonesia serius menjaga disiplin fiskal. Sekarang para investor mulai cemas. Pembayaran bunga sebagai bagian dari pendapatan pemerintah melonjak tajam. Lembaga pemeringkat kredit sedang bersiap untuk menurunkan peringkat. Di bawah kepemimpinan Pak Prabowo, modal asing senilai $6 miliar telah keluar dan rupiah telah melemah sebesar 11% terhadap dolar ke rekor terendah. Menjebol batas anggaran akan mendorong biaya pinjaman menjadi lebih tinggi.
Bahkan saat dia membuat ekonomi menjadi lebih genting, Pak Prabowo juga mengikis demokrasi Indonesia. Oposisi legislatif hampir sepenuhnya dilumpuhkan, dan proposal untuk mengakhiri pemilihan langsung gubernur provinsi bukan merupakan pertanda baik. Masyarakat sipil diintimidasi. Ruang untuk berbeda pendapat sangat sedikit, dan jika ada, minim pergulatan kreatif antar-gagasan yang saling bersaing. Terlalu banyak hal yang bergantung pada naluri seorang mantan tentara tunggal yang mendapat saran buruk.
Dia perlu mendengar kebenaran yang pahit. Ya, bahan bakar murah memang populer. Namun hal itu mendorong konsumsi di tengah situasi kelangkaan. Ya, orang-orang menyukai makan siang gratis di sekolah. Namun memberikannya kepada semua orang adalah pemborosan. Lebih bijaksana untuk fokus pada ibu hamil dan balita dari keluarga miskin, yang membutuhkan nutrisi lebih baik guna mencegah stunting (tengkes). Ya, petani Indonesia kerap diperas oleh tengkulak saat membeli pupuk. Namun ada cara yang lebih murah untuk mengatasi hal ini ketimbang membangun 80.000 koperasi desa, yang kemungkinan besar justru rentan korupsi. Dan ya, batas defisit 3% bisa saja dinaikkan suatu hari nanti. Namun pertama-tama, Pak Prabowo harus meyakinkan pasar bahwa keuangan Indonesia berada di tangan yang aman.
Persimpangan jalan baru
Indonesia telah membuat kemajuan besar dalam seperempat abad terakhir. Di bawah serangkaian pemerintahan yang cukup pragmatis, pendapatan per kapita telah meningkat lebih dari dua kali lapor dan demokrasi mulai berakar. Pak Prabowo bukanlah penguasa kleptokratis seperti mendiang bapak mertuanya, tetapi dia sedang mengikis kemajuan yang telah dicapai negaranya sejak masa-masa kelam dulu.
Presiden harus berhenti mencoba membungkam oposisi di legislatif, media, dan masyarakat sipil. Perbedaan pendapat yang tidak menemukan saluran dalam politik akan tumpah ke jalanan, seperti yang terjadi dalam kerusuhan tahun lalu. Bersikeras bahwa oposisi harus "sopan" adalah resep yang suatu hari nanti justru bisa mengubahnya menjadi kekerasan.
Masih ada harapan. Pak Prabowo peduli dengan warisan kepemimpinannya. Jadi, dia perlu menyadari bahwa negara kepulauan yang sangat besar, luas, dan multi-etnis seperti Indonesia tidak bisa begitu saja diberi perintah layaknya sebuah unit tentara. Indonesia membutuhkan seorang panglima tertinggi yang mendengarkan banyak suara, bukan yang mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang hanya bisa berkata "ya""
Pernah ngrasain kopi legend Golda, isoplus, atau mie sedap? itu semua produksi dari Wings Group.
Wings Group ini bukti nyata kalau jadi pengikut bukan berarti nggak bisa sukses. Dimulai dari bengkel kecil di Surabaya tahun 1948, strateginya nggak neko-neko, mereka konsisten pakai rumus amati, tiru, terus buat yang lebih murah. Strategi ini bikin mereka santai saja meski masuk belakangan di produk yang sudah ada market leadernya, kayak waktu mereka ngeluarin Mie Sedaap buat nantang Indomie atau Floridina buat saingan sama merek sebelah.
Rahasia kenapa harga mereka bisa murah karena mereka mainnya dari hulu ke hilir, Wings bikin bahan bakunya sendiri sampai kemasannya pun diurus sendiri, alias integrasi vertikal. Karena nggak banyak tangan kedua atau ketiga, biaya produksinya bisa ditekan sampai titik paling rendah, makanya mereka punya ruang buat pasang harga miring tapi tetap punya modal buat jor-joran iklan di TV biar orang-orang nggak lupa.
Selain soal harga, Wings juga jago banget urusan distribusi, mereka paham kalau di Indonesia, percuma jual barang murah kalau susah dicari di warung. Jadi mereka pastikan produknya ada di mana-mana, dari supermarket gede sampai kios kecil di gang sempit, mereka tahu banget karakter orang kita yang kalau fungsinya sama tapi harganya lebih murah, ya pasti bakal bungkus yang lebih murah. Jadi, ketersediaan itu kunci utama mereka buat nempel terus di keseharian masyarakat.
Intinya, Wings Group punya prinsip kalau barang bagus harusnya bisa dibeli sama siapa saja tanpa bikin dompet tipis, meski sering dibilang cuma ikut-ikutan, nyatanya eksekusi mereka di lapangan memang jempolan. Mereka nggak perlu jadi yang pertama buat menangin hati konsumen, cukup jadi yang paling murah dan paling mudah ditemuin.
Gue pernah saat jaga IGD ketemu pasien yang buta mendadak setelah minum alkohol oplosan, gak tau deh dioplos apaan itu. Pas dicek ternyata juga sepaket datengnya sama acute kidney injury (cedera ginjal akut).
Untung akhirnya setelah ditangani dan dilakukan hemodialisis (cuci darah), penglihatan dan fungsi ginjalnya berangsur-angsur perbaikan.
Keluarganya sempet denial juga, bilang anaknya kena santet, lumayan lama tuh jelasinnya sampe akhirnya keluarganya bisa nerima kalo itu efek alkoholnya.
Emang alkohol itu berpotensi merusak mata, baik secara akut (jangka pendek), maupun kronik (jangka panjang. Lebih bahaya lagi kalau ada metanol di situ, bisa ngerusak saraf mata, terus bisa buta permanen dalam kurun waktu 6-48 jam, kalo gak segera ditanganin.
Dahlah, kurang-kurangin itu minum alkohol, terutama yang oplosan!
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
We are outraged. An Indonesian peacekeeper is murdered. Another is fighting for his life. Israel bombed the base where they served.
This is clearly not an accident, nor a collateral damage. This is Netanyahu’s regime showing, once again, that they don’t care about international law, about UN personnel, and about the lives of those who dedicate themselves to peace.
Indonesia has gone above and beyond. We have sent over 1,200 of our troops to serve under the UN flag. The Indonesian government also joined the Board of Peace to push for a just and lasting resolution in the Middle East. We extended our hand in good faith. Yet the answer to that good faith is a bomb dropped on our soldiers’ base. They spat on every effort Indonesia has made for peace.
But let us be honest, this is not surprising. Netanyahu’s regime has shown time and again that they are indifferent to the world’s calls for restraint. They ignore UN resolutions. They strike UN facilities. They kill civilians, journalists, aid workers, and now peacekeepers. No one is off-limits. No one is safe. Sadly, it keeps going because the world keeps allowing it.
To the UN Secretary-General, we appreciate your condemnation and your condolences. But words are not enough anymore. The UN must move beyond statements. Concrete, enforceable, and urgent action is what this moment demands. The credibility of the UN is on the line. If the world body cannot protect its own peacekeepers, what exactly is it protecting?
To the nations of the world, now is the time to act together. Push for accountability. Refer those responsible to international courts. Enforce the rules that you all signed up to uphold. International law is only as strong as the willingness of nations to defend it. That willingness has been tested over and over again by Netanyahu’s regime. For countless of times, the world has failed the test.
Do not let this death be forgotten in a news cycle. Do not let this become just another statistic in a long list of violations. Demand justice. Demand accountability. Make clear that those who attack UN peacekeepers will face real consequences.
Kepada prajurit TNI yang gugur, selamat jalan, Pahlawan. Doa kami menyertai, juga bagi keluarga yang ditinggalkan. Kepada yang terluka, semoga lekas pulih. Indonesia berduka, tapi kita yakin, Indonesia tidak akan diam.
💙 like this post and be the first to see what’s coming.
Join us at Samsung Galaxy Unpacked on February 25, 2026 to discover how easy and effortless your day can be with Galaxy AI. Keep watching this space for more Galaxy Unpacked updates!
@SamsungMobile Finally, no more 'accidental' screen-sharing with nosy strangers in elevators or trains. Now, if only the S26 could also block my relatives' personal questions during the holidays, it would be 10/10. #GalaxyUnpacked always makes a difference! 🚀 #Samsungunpacked#GalaxyAI
Dear Gen Z,
Buat kamu yang sudah mati-matian nyelesain pendidikan, pontang-panting cari kerja, sampai rela ikut bootcamp dan magang gratisan buat nambah pengalaman, bahkan harus keluarin uang lagi cuma buat memoles CV supaya dilirik perusahaan.
Kamu yang berbulan-bulan berjuang, akhirnya diterima kerja.
Tapi ternyata tempat kerjanya toxic dan punya atasan yang bikin mental breakdown.
Setiap hari harus desak-desakan di transportasi umum, berangkat subuh, pulang malam, kamu tetap bertahan. Karena kamu tahu, cari kerja sekarang susahnya bukan main.
Semua dijalani demi gaji yang sebenarnya nggak seberapa, mengingat harga-harga sekarang semua serba mahal.
Kamu lalui hari-harimu sambil pura-pura kuat, meski kadang duduk di pojokan buat nenangin kepala yang rasanya mau pecah.
Saat terima gaji, kamu merasa senang tapi sedikit mengelus dada, karena nominalnya berkurang agak lumayan akibat potongan pajak.
Kamu coba ikhlas sambil berdoa, semoga pajakmu benar-benar terpakai untuk pembangunan. Kamu sedikit bangga karena ikut berkontribusi.
Sampai di bulan Januari 2026, kamu baca berita:
Indonesia memutuskan bergabung dengan Board of Peace, dan Indonesia ikut iuran Rp17,9 triliun, uang dari sebagian besar APBN untuk disetor ke Trump.
Ya, sebagian yang disetor itu adalah uang kamu.
Gimana perasaan kamu?
SEMUA
I repeat,
SEMUA
zat yg kita konsumsi itu ada yg namanya LD50 (Lethal Dose, 50%) atau dosis dimana 50% populasi binatang percobaan yg kita kasih itu meninggal.
LD50 eugenol
- Mice (Oral): >1,500 mg/kg body weight (bw)
- Rats (Oral): >2,000 mg/kg bw (OECD Guideline 423)
Makanan yg umum kita konsumsi sehari2 saja kalo dikonsumsi dalam jumlah banyak jg bersifat lethal.
Contoh:
LD50 kafein adalah 150-200mg/kg berat badan. Jika berat badan manusia rata2 misalkan 70-80kg, maka dosis kafein sekitar 10 gr s/d 16 gr itu bisa mematikan.
1 gelas kopi (sekitar 230-240ml) mengandung kurang lebih 95 mg kafein yang berarti kalo kita minum 105 gelas kopi (24 liter kopi) sekaligus, maka kandungan kafeinnya cukup tinggi untuk mencapai LD50.
Kesimpulannya apa?
Lebih kritis dalam menyingkapi informasi seperti ini, jangan ditelan bulat2.