Baru saja menerima keluhan dari mahasiswa terkait tulisannya yang dituduh sebagai AI, karena setelah dicek, tulisannya terdeteksi pengguna AI dengan tingkat probabilitas tinggi.
Atau dengan kata lain, dia dituduh menggunakan AI berdasarkan hasil penilaian AI.
Banyak dari kita yang belum paham bahwa AI text detector hanya bekerja berdasarkan kemiripan pola bahasa, bukan bukti siapa penulisnya.
Sistem hanya membaca ‘statistik’ teks, seperti: tingkat keterprediksian kata dan konsistensi struktur kalimat.
Sementara konteks, argumen, atau proses berpikir penulis sama sekali tidak dinilai, padahal itu sebenarnya yang menjadi poin penting dalam sebuah tulisan.
Penulis non-native atau yang bahasanya lugas akhirnya sering tertuduh karena tulisan yang rapi, jelas, dan terstruktur justru sering terlihat mirip output AI.
Sebaliknya, teks AI yang diedit dan dipoles sedikit bisa saja lolos dari deteksi.
Di saat yang sama, model AI berkembang sangat cepat.
Gaya tulisannya makin variatif, sehingga makin sulit dideteksi dan membuat tingkat false positive serta false negative semakin tinggi.
Menurut saya, sebenarnya sah-sah saja jika detektor dipakai sebagai sinyal awal.
Namun akan lebih baik jika penilaian juga dikombinasikan dengan diskusi, penelusuran proses penulisan, dan evaluasi pemahaman dari mahasiswa itu sendiri.