Kenapa dulu Fir'aun membunuh semua anak laki2 ? Karena dia takut akan tumbuh dari anak2 tersebut seseorang yg mampu meruntuhkan kekuasaannya.
Motif yg sama dilakukan z10n1s ketika membantai anak2 Palestina. Mereka khawatir dari anak2 Palestina nanti muncul seseorang seperti Umar bin Khattab atau Salahuddin Al Ayubi yg mampu membebaskan Baitul Maqdis.
Tapi mereka lupa Allah punya kuasa. Seperti halnya bayi Musa yg Allah selamatkan, kelak akan muncul juga Musa2 baru, para mujahid Palestina yg akan meruntuhkan tirani Fir'aun Israhell sang durjana.
*dulu Fir'aun hanya membunuh anak laki2 saja. Hari ini Israhell membunuh anak laki2, perempuan dan juga para manula. Jadi ternyata skrg kekejaman Israhell sdh mampu mengalahkan Fir'aun.
Biasanya, sepulang kerja, saya punya kebiasaan kecil. Yaitu, mampir di warung-warung kopi pinggir jalan.
Saya tidak tau sejak kapan saya menyukai hal-hal yg menurut saya di beberapa tahun lalu adalah hal yg aneh. Duduk sambil menghisap 234, atau marlboro kretek murah, dan satu gelas kopi jagung seharga 3000 rupiah.
Tapi, justru di tempat inilah saya menemukan banyak hal unik. Sesuatu yg dulu kerap saya lewatkan selepas lelah pulang bekerja.
Di tempat ini, saya bisa melihat gigih kerja keras orang2 yg selama ini selalu terlewatkan di mata saya. Mereka yg sebenarnya bisa tiba2 berubah menjadi seperti seorang karib lama hanya dari berbagi sebatang kretek.
Mereka yg berbagi masalah hidupnya sendiri, lalu menertawakannya; Seakan bagi mereka hidup ini hanyalah tentang bahagia, sedih, dan di sela-selanya diisi dengan numpang mampir minum kopi.
Di tempat ini, saya jarang sekali melihat keangkuhan, rasa ingin pamer jabatan, atau juga permintaan puji-pujian atas segala pencapaian di sela2 topik pembicaraan.
Di tempat ini, mereka justru membicarakan banyak hal yg jauh lebih menarik. Tentang kabar angin satpol PP yg akan razia di akhir pekan, tentang obrolan politik sekelas RT/RW, tentang sulitnya mengurus berkas di kelurahan, tentang customer ojek online yg kepalang keparat, dan masih banyak lagi.
Garis besarnya, mereka membicarakan tentang hidup mereka yg rasanya luar biasa keras jika dibandingkan dengan hidup saya. Namun mereka tampak sudah begitu terbiasa.
"Soal seragam, mungkin kita beda, Bang. Tapi soal kemampuan mencari nafkah, saya berani di-adu dengan abang."
Kata salah satu bapak tua yg duduk di sebelah karung besarnya yang berisi botol-botol pelastik, kepada saya.
Saya sangat senang mendengar kisah2 mereka yg tampak asing di hidup saya. Sebab, ketika mendengar cerita2 mereka, saya jadi semakin yakin bahwa sebenarnya kami semua ini sama. Hanya pelumas dari roda-roda bergigi yg bergerak tanpa henti di sebuah kota yg bernama, Jakarta.
Hanya robot yg bekerja tanpa henti demi bisa hidup satu hari lagi-- setiap hari.
Saya mungkin bukan motivator handal. Tapi jika suatu saat hidupmu sedang terasa kepalang keparat, cobalah berhenti sebentar, lalu mampirlah di warung-warung kopi pinggir jalan.
Duduk, lalu coba nikmatilah bagaimana cara kota ini bernapas di sela-sela keriuhannya.
Titik tertinggi wanita dalam mencintai adalah:
Ketika dia mundur dalam diam dan menyerah tanpa banyak drama. Ketika dia menyadari bahwa ada atau tanpanya (pria yang dia cintai) akan terasa sama saja. Ketika rasa cintanya mulai dikalahkan oleh rasa lelahnya dalam berjuang. -
Effort bisa hilang karena ga ada feedback
Sabar bisa hilang karena disepelein
Tulus bisa hilang karena ga ada perhatian
Dan sibuk itu ga ada, semua itu tergantung kamu prioritasnya atau bukan.
Dia baik, dia cantik, tapi hari-harinya berat. Tuhan tolong selalu lapangkanlah hatinya, dekatkanlah dia dengan orang-orang yang menyayanginya. Dan tolong beritahu semesta untuk selalu menghiburnya, jangan biarkan dia merasa kesepian.