"Apakah benar Persib bukan bagian dari budaya dan identitas masyarakat Sunda dan cuma sekedar klub bola biasa?"
Menurut Koentjaraningrat melalui bukunya dalam Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia yang diwariskan secara sosial dalam kehidupan bermasyarakat dari generasi ke generasi. Definisi ini penting sebagai titik awal, karena dari sinilah kita bisa mulai mempertanyakan "apakah Persib memenuhi syarat itu?"
Sebagai klub, Persib yang lahir di tanggal 14 Maret 1933 ini merupakan peleburan dari BIVB (Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond, 1919) yang dibentuk di era kolonial Belanda sebagai salah satu wadah sepakbola Pribumi (bumi putera) di Bandung.
Fakta historis ini yang membuat Persib tidak bisa disebut sekadar klub bola biasa dan secara tidak langsung menjadikan Persib menjadi simbol perlawanan dan persatuan melawan penjajah di era itu yang mencerminkan "nilai & kepercayaan" serta "perilaku kolektif" dalam definisi budaya.
Suka tidak suka, pada akhirnya dukungan dan rasa yang muncul untuk Persib (lewat Bobotoh) ini sudah menjadi warisan keluarga untuk mayoritas warga Jawa Barat.
Dari kakek ke ayah, ayah ke anak, anak ke cucu, rasa yang diturunkan sudah menjadi seperti adat. Dari buku PERSIB: Sepak Bola dan Identitas Sunda menyebut Persib sebagai "episentrum kebudayaan" dan "warisan yang terus beregenerasi".
Klaim ini juga bukan klaim yang berlebihan, mengingat betapa dalam Persib tertanam dalam rutinitas sosial mayoritas masyarakat Jawa Barat yang bukan hanya saat pertandingan, tapi dalam bahasan sehari-hari, dalam mural, dalam lagu, bahkan dalam pilihan warna baju.
Lalu secara akademik, jurnal karya Tisna Prabasmoro (2020) dan penelitian lain melihat Persib sebagai medium pembentukan identitas kolektif Sunda yang mirip bagaimana Clifford Geertz bicara soal "sistem makna dan simbol" yang hidup dalam masyarakat.
Pada akhirnya hal-hal tersebut membuat Persib bukan hanya olahraga, tapi cara mayoritas orang Sunda mengekspresikan diri, melepas penat, dan menjaga harga diri daerah.
Dari sini, dengan sejarah yang begitu panjang, rasanya sulit untuk tidak menganggap Persib sudah menjadi bagian dari Budaya mayortias masyarakat Sunda pada umumnya, dan Jawa Barat pada khususnya.
Perihal konvoi dan sebagian masyarakat yang kelewat batas dalam melakukannya memang tidak bisa dihindarkan. Pun untuk hal-hal yang amat merugikan dan menuju anarkis, amat sangat tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun.
Makannya, saya bilang di awal kalo hal-hal kaya gini tuh sudah masuk ranahnya pihak keamanan. Karena penertiban dan pencegahan sudah seharusnya menjadi tanggung jawab aparat keamanan, yang memang tugasnya menjamin agar ekspresi kolektif seperti ini tidak melebar ke arah yang merugikan.
Dan jangan dilupakan kalau ada bagian yang sering luput dari diskusi perihal konteks ini. Di mana banyak dari mereka yang turun ke jalan adalah bagian dari kelompok rentan. Orang-orang yang tidak punya banyak pilihan hiburan yang terjangkau yang menjadikan Persib jadi salah satu dari sedikit hal yang mereka punya. Dan itu bukan sesuatu yang seharusnya dikriminalisasi begitu saja.
Terlalu banyak variabel di sini untuk bisa disederhanakan dalam satu narasi yang sejalan.
Yang bisa kita sepakati pada akhirnya adalah...
"Persib bukan sekadar klub bola. Ia adalah bagian dari cara masyarakat Sunda mengenali dirinya sendiri."
-
Sumber:
1. Koentjaraningrat. Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Gramedia, 1974.
2. Dadan Kurniawan. PERSIB: Sepak Bola dan Identitas Sunda. Afdan Rojabi Publisher
3. Tisna Prabasmoro & Randy Ridwansyah. "Fan Culture and Masculinity: Identity Construction of Persib Supporters." Gender Studies, 18(1), 2019
4. Tisna Prabasmoro et al. "Baster dan Identitas Penutur." Metalingua, Vol. 18 No. 1, 2020
5. Clifford Geertz. The Interpretation of Cultures. Basic Books, 1973.
Begitu juga kalau ada yg bakar polsek dan koramil, itu pasti sekedar kenakalan remaja yg ingin menjadi individu yg unik, gak ada niat meruntuhkan negara dan kapitalisma
Capitalism has truly killed the art of having a hobby and doing an activity for the sole purpose of enjoying it. Now everything has to be a side hustle, or you feel like it's a waste of time.
12 Mei 1998, empat mahasiswa Universitas Trisakti ditembak mati di kampus mereka saat melakukan demonstrasi menuntut reformasi.
Tragedi Trisakti ini menyulut gelombang kerusuhan Mei 1998. Sembilan hari kemudian Presiden Soeharto menyatakan berhenti dari jabatannya.
📽️ BBC