Paulo Dybala: Ketika Messi dan Cedera Mengubur Karier Timnasnya
Paulo Dybala adalah salah satu talenta terbaik yang pernah dimiliki Argentina. Tapi ironisnya, dia juga menjadi salah satu pemain paling kurang beruntung dalam sejarah Timnas Argentina.
Bukan karena kualitasnya kalah, justru sebaliknya. Masalahnya, Dybala lahir di era yang sama dengan Lionel Messi.
Posisi terbaik Dybala adalah second striker atau nomor 10 yang bebas bergerak di belakang penyerang. Masalahnya, itu juga wilayah kekuasaan Messi selama hampir dua dekade. Hampir semua pelatih Argentina—Martino, Bauza, Sampaoli, hingga Scaloni—berusaha mencari cara agar keduanya bisa bermain bersama. Hasilnya? Tidak pernah benar-benar berhasil.
Saat Messi dimainkan di tengah, Dybala harus mengalah ke sayap, posisi yang membuat permainannya jauh berkurang. Saat Dybala diberi kebebasan, Messi justru kehilangan ruang favoritnya. Argentina akhirnya lebih sering memilih pemain yang karakternya saling melengkapi Messi, seperti Ángel Di María, Julián Álvarez, atau Lautaro Martínez.
Belum selesai sampai di situ. Cedera juga berkali-kali datang di momen yang salah. Saat sedang tampil luar biasa di level klub, tubuhnya justru tidak bersahabat ketika jeda internasional atau menjelang turnamen besar. Akibatnya, ia tak pernah punya kesempatan membangun kontinuitas di tim nasional.
Namun Dybala tidak pernah membuat masalah. Dia menerima perannya, tetap datang setiap dipanggil, dan menunggu kesempatan tanpa mengeluh. Ketika momen itu tiba di final Piala Dunia 2022, dia masuk sebagai pemain pengganti, membantu bertahan di menit-menit akhir, lalu maju sebagai algojo penalti. Tanpa ragu, bola dikirim ke tengah gawang. Gol.
Satu tendangan itu mungkin menjadi momen paling penting dalam karier internasionalnya. Dia mungkin bukan bintang utama, bukan pula pemain inti, tetapi ikut mengantarkan Argentina mengangkat trofi yang paling didambakan setiap pesepak bola.
Sejarah mungkin tidak akan mengingat Dybala sebagai legenda terbesar Timnas Argentina. Namun banyak yang akan sepakat bahwa dia adalah salah satu pemain paling berbakat yang harus mengorbankan karier internasionalnya karena lahir di generasi yang sama dengan pemain terbaik sepanjang masa.
Kalau Dybala lahir 10 tahun lebih awal atau 10 tahun lebih lambat, besar kemungkinan kita sedang membicarakannya sebagai nomor 10 utama Argentina, bukan sekadar "pemain yang kebetulan satu generasi dengan Messi."
Come on Pak @prabowo masa Raja Ampat mau dihancurin hanya demi hilirisasi dan tambang nikel? Yang benar aja!
Katakan kepada Menteri ESDM @bahlillahadalia untuk segera cabut izin tambang nikel di Raja Ampat. Jangan biarkan Raja Ampat hancur! https://t.co/PZxA4NUQRd
Dulu ada sekumpulan pemuda yang janjian di pom bensin biasanya ketika jumat malam tiba, tujuannya basecamp pendakian di jawa dan sekitarnya
Seperti planet kini mereka sudah hidup dalam poros putarannya masing-masing