Izin share, akhirnya ketemu yg menurut saya pas di lidah
Tong ji super teh 40gr
Dandang 20gr (1/2 Bks)
Gopek 20gr (1/2 Bks)
Masak air 1-1,5 L + teh 80gr
Masak air 5 L+ 1 kg gula
Setelah matang
air teh dicem2kan 1-2 jam
air gula ditaro wadah botol kaca ditutup
Kalian wajib tahu!
ternyata masak sayur itu nggak asal cemplang cemplung doang!!
Harus paham dulu sayur yg lagi kamu masak itu jenisnya tumbuh di atas tanah atau di bawah tanah, soalnya beda banget timingnya pas direbus.
Coba cek gambar di bawah ini yaa …
Kandungan Arang Kayu vs Abu Kayu Apa Saja yang Sebenarnya Diberikan ke Tanaman?
Sekilas sama² hasil pembakaran, tapi arang kayu dan abu kayu itu sangat berbeda secara kandungan dan fungsi.
1. Arang Kayu (Charcoal) bukan sumber hara, tapi pengelola tanah.
Arang kayu itu hampir tidak mengandung unsur hara langsung karena sebagian besar nutrisi sudah hilang saat proses pembakaran.
Kandungan utamanyav:
• Karbon tinggi (C) → bisa >70–90%
• Sedikit mineral sisa (sangat kecil)
• Struktur berpori (ini yang paling penting)
Perannya di tanah :
• Meningkatkan CEC (Kapasitas Tukar Kation) jadi “penyimpan” hara
• Menyerap air & nutrisi jadi tidak mudah hanyut
• Menjadi habitat mikroba baik
• Menstabilkan pH tanah (cenderung netral)
Arang itu bukan pupuk, tapi manajer tanah yang bikin pupuk lain jadi lebih efektif.
2. Abu Kayu (Wood Ash) sumber hara mineral
Nah kalau abu kayu, ini justru kaya unsur hara, terutama dari sisa mineral yang tidak terbakar.
Kandungan umumnya :
• Kalium (K) tinggi → ±5–10%
• Kalsium (Ca) tinggi → bisa 20–40% (seperti kapur)
• Magnesium (Mg) → dalam jumlah sedang
• Fosfor (P) → kecil (±1–2%)
• Mikro nutrien: Fe, Zn, Mn (dalam jumlah kecil)
Sifat penting :
• pH sangat basa (alkalis) bisa menaikkan pH tanah
• Cepat larut, efeknya relatif cepat terasa
Perannya :
• Merangsang pembungaan & pembuahan (karena K tinggi)
• Mengurangi keasaman tanah
• Memperkuat jaringan tanaman (Ca)
Perbandingan sederhana biar gampang dipahami :
• Arang kayu → memperbaiki “rumahnya” (tanah)
• Abu kayu → memberi
“makanannya” (unsur hara)
Catatan penting biar nggak salah pakai nggih....😚👇
• Arang sebaiknya tidak dipakai mentah dalam jumlah besar, lebih bagus “diaktifkan” dulu (dicampur kompos/pupuk kandang)
• Abu jangan berlebihan, bisa bikin tanah terlalu basa dan malah mengganggu penyerapan hara lain
• Jangan campur abu dengan pupuk nitrogen (seperti urea) bisa menyebabkan kehilangan nitrogen
Kalau dipahami dengan benar, kita jadi tahu bahwa tidak semua yang terlihat hitam dan sisa pembakaran itu sama.
Arang bekerja diam-diam memperbaiki sistem tanah,
sementara abu bekerja cepat memberi nutrisi.
Keduanya sederhana… tapi kalau tepat cara pakainya, efeknya bisa luar biasa untuk kesehatan tanaman.
Semoga Bermanfaat....🙏
Jadi begini warga yang Budiman dan budiwati menurut data BMKG ( bar mangan kudu guyon )
Tak jelaskan sedikit kenapa petani lebih memilih membuang hasil panen nya daripada memberikan ke orang lain yang kalian anggap lebih bermanfaat ,karena ini efeknya jangka panjang ,jadi jangan hakimi petani yang melakukan hal tersebut
Saya kasih tahu sebab dan alasannya
Saat panen melimpah, pasokan banjir tapi permintaan tidak ikut naik , harga bisa jatuh sangat rendah,saya kasih contoh ,misalnya harga Rp5.000–Rp15.000 per keranjang besar, sementara biaya keranjang + tali saja sudah Rp9.000–Rp11.000,
Membuang lebih murah daripada memanen, mengangkut, dan menjual karena
Biaya panen tenaga kerja+ transportasi ke pasar sering lebih besar daripada uang yang diterima.alias petani tambah merugi
Memberikan Gratis Justru Bisa Merusak Harga Lebih Parah (Efek Pasar Jangka Panjang)
Kalau petani bagi-bagi gratis dalam jumlah besar, masyarakat atau pedagang akan mengharapkan harga murah/gratis di masa depan.
Ini membuat harga di pasar sulit naik kembali, bahkan saat pasokan normal. Petani rugi berkepanjangan karena pasar "terbiasa" dapat barang murah.
Membuang sebagian hasil bisa mengurangi pasokan di pasar membantu harga stabil atau naik sedikit di kemudian hari,meski ini bukan solusi ideal.
Biaya Logistik dan Penanganan yang Tinggi untuk Donasi
Hasil tani seperti sayur dan buah sangat mudah busuk ,umur simpan pendek, butuh pendingin
Memberikan gratis memerlukan akan biaya lagi
Panen manual (biaya tenaga kerja).
Pengemasan yang layak.
Transportasi ke tempat distribusi (masjid, panti asuhan, atau kota).
Petani kecil biasanya tidak punya infrastruktur itu. Kalau dipaksakan, biayanya bisa lebih besar daripada nilai barangnya.
Di daerah terpencil, akses pasar saja sudah susah, apalagi distribusi donasi.
Tidak Ada Pembeli Tetap atau Infrastruktur Penyimpanan
Banyak petani bergantung pada tengkulak atau pasar lokal. Saat harga anjlok, tengkulak pun enggan beli.
Tidak ada gudang pendingin skala kecil yang murah , barang cepat rusak kalau ditahan.
Memberi gratis dalam volume besar juga tidak realistis karena orang yang mengambil biasanya terbatas, sementara hasil panen bisa puluhan ton.
Petani Harus Tetap Hidup dan Bayar Hutang
Petani punya biaya tetap pupuk, bibit, sewa lahan, hutang ke tengkulak/bank, kebutuhan keluarga.
Kalau terus rugi karena bagi gratis, mereka tidak bisa tanam musim berikutnya bisa bangkrut total.
Membuang adalah cara "mengurangi kerugian lebih besar" agar bisa bertahan untuk musim depan. Dalam case ini contoh timun itu dibuang disungai ituungkin hanya sebagian saja ,karena mereka juga harus berpacu dengan waktu untuk pengolahan lahan untuk ditanami kembali dan mengurangi kerugian dari mengeluarkan biaya transportasi
Petani bukan mau membuang hasil kerja kerasnya. Mereka terpaksa karena ekonomi yang keras,biaya > pendapatan, plus risiko merusak pasar jangka panjang kalau dibagikan gratis secara masif. Ini masalah struktural pertanian Indonesia , fluktuasi harga, ketergantungan tengkulak, infrastruktur lemah, dan rantai pasok yang tidak fleksibel.
Solusi jangka panjang hilirisasi (olahan makanan), koperasi petani yang kuat, gudang penyimpanan, kontrak langsung dengan buyer besar, atau program pemerintah yang serap surplus saat panen raya. Tanpa itu, fenomena ini akan terus berulang setiap musim panen melimpah.
Paham ya sampai disini ,atau ada tambahan lagi ?
Your Nails Are Warning You❗️😳
White spots may reflect mineral imbalances.
Yellow nails can point to fungal or respiratory concerns.
Spoon-shaped nails are often linked with low iron...... Show more
BREAKING NEWS:
Kemarau 2026 lebih awal, lebih panjang, lebih kering.
Petani yang tidak siap sekarang sama dengan petani yang menyesal Agustus nanti.
Ini 5 hal yang harus dilakukan HARI INI 🧵👇
Pagi …
Setelah 2 minggu di tinggal mudik, ternyata pepaya di pot daunnya kuning.
Jika dia bisa bicara, sebenarnya ini adalah kode.
Ada yang tahu apa yang dia omongkan? 👇
Daun melon muncul bercak di umur 35 HST ?
Jangan langsung panik, apalagi asal semprot ya lur....
Di fase umur 30–40 HST, tanaman melon memang sedang berada di masa rentan stres. Pada fase ini, munculnya bercak daun itu hal yang cukup sering terjadi.
Tapi… penyebabnya tidak selalu sama.
Bercak bisa dipicu oleh :
Serangan jamur
Infeksi bakteri
Kekurangan unsur hara
Atau stres lingkungan (cuaca ekstrem, kelembaban tinggi, dll)
Kalau salah diagnosis dan penanganan, dampaknya tidak main-main,fotosintesis terganggu, pertumbuhan melambat, bahkan potensi hasil buah bisa turun drastis.
1. Penyebab bercak daun di umur 35 HST
Di fase ini tanaman lagi aktif vegetatif + awal generatif, jadi sensitif banget.
Penyebab utama :
Jamur → kelembaban tinggi, sirkulasi jelek
Bakteri → biasanya masuk dari luka/percikan air
Defisiensi hara → terutama K, Mg, Ca
Stres lingkungan → panas ekstrem, hujan terus, atau fluktuasi suhu
Fase ini rawan goyah, bukan berarti tanamannya gagal.
2. Perbedaan ciri bercak (WAJIB bisa bedain)
Jamur :
Bercak bulat/tidak beraturan
Ada lingkaran konsentris / seperti cincin
Bisa muncul serbuk/spora (abu-abu/kecoklatan)
Cepat menyebar saat lembab
Bakteri :
Bercak terlihat basah/ seperti berminyak
Tepi tidak jelas
Kadang ada halo kuning
Cepat menyebar saat hujan/terkena air
Defisiensi hara :
Pola simetris (antar daun mirip)
Tidak menyebar seperti penyakit
Warna cenderung kuning/coklat tanpa luka basah
Contoh :
K → tepi daun gosong
Mg → klorosis di antara tulang daun
Ca → daun muda rusak
3. Cara bedakan bercak ringan vs berat
Ringan :
Bercak masih sedikit
Tidak cepat meluas
Daun masih dominan hijau
Masih bisa recovery cepat
Berat :
Bercak banyak & menyatu
Daun mulai menguning/mengering
Menyebar ke daun lain
Harus segera tindakan serius
4. Langkah penanganan yang tepat
Jangan asal semprot semua fungisida!
Lakukan ini dulu :
Identifikasi penyebabnya
Pangkas daun yang parah
Perbaiki sirkulasi udara & kurangi kelembaban.
Baru lakukan tindakan spesifik :
Jamur → fungisida sesuai target
Bakteri → bakterisida + sanitasi
Hara → koreksi nutrisi (bukan obat penyakit!)
5. Tips pencegahan biar aman sampai panen
Jaga jarak tanam & sirkulasi udara
Hindari penyiraman mengenai daun
Rutin inspeksi daun bawah (awal munculnya penyakit)
Seimbangkan nutrisi (jangan dominan N saja)
Gunakan agen hayati / preventif ringan.
Semoga Bermanfaat...🙏
Alpukat ini mau ngomong sebentar.
“Iya. Saya tahu. Saya jelek.”
“Kulit saya luka. Bekas coklat di mana-mana.”
“Kalau di supermarket, saya pasti dibuang ke tong sampah.”
boleh saya cerita dulu kenapa saya begini?” 🧵👇
Jamur ini lebih ke indikator tanah aktif & kaya organik, bukan tanda bahaya kak...
Tinggal dijaga saja supaya kelembabannya seimbang, jangan terlalu basah.
Ini tanda bahwa tanahnya cukup kaya bahan organik dan aktivitas mikroorganismenya hidup.
Jamur seperti ini umumnya termasuk kelompok jamur saprofit, yaitu jamur yang tugasnya menguraikan sisa-sisa organik (daun gugur, kayu lapuk, kompos, dll).
Artinya apa buat tanaman?
-Tanah punya kandungan bahan organik
-Kelembaban cukup tinggi
-Aktivitas biologis tanah berjalan baik
Bisa dibilang tanahnya hidup, bukan tanah mati
Tapi perlu diperhatikan juga
Jamur seperti ini sering muncul kalau :
Media terlalu lembab / sering basah
Drainase kurang bagus
Banyak bahan organik belum terurai sempurna
Perlu dikoreksi atau tidak?
Tidak wajib dihilangkan, kecuali kalau :
Jumlahnya sangat banyak
Media jadi terlalu lembek / becek
Tanaman mulai menunjukkan gejala busuk akar
Kalau mau lebih optimal, bisa lakukan ini :
Kurangi penyiraman berlebihan
(biar tidak terlalu lembab terus)
Perbaiki drainase media
Bisa tambah sekam bakar / pasir
Aduk ringan permukaan tanah
Supaya aerasi lebih baik
Ambil jamurnya kalau mengganggu estetika.
(ini opsional banget nggih, bukan wajib)
Semoga Bermanfaat...🙏
JERUK NAGAMI KULITNYA BISA DIMAKAN
Jeruk nagami memiliki bentuk buah yang menarik dan mungil. Selain daging buah yang bisa dimakan secara langsung, kulitnya juga bisa dimakan. Uniknya rasa kulit jeruk nagami lebih manis dari isi daging jeruknya.
Alhamdulillah....di rumah jeruk nagami ku juga lagi berbuah....💚💛❤️
Buat dashcam, pakai sdcard tipe endurance. Seperti yg biasa dipakai CCTV.
SDcard tipe endurance fokus pd daya tahan hapus - tulis data berulang2 tanpa henti dalam jangka waktu lama & lebih tahan suhu panas.
Bbrp merk yg pernah minnov pakai :
How to Build a Simple DIY Water Filter Using a Plastic Bottle 💧🌿
Clean drinking water is essential for health, but in outdoor situations or emergencies, safe water may not always be available.
A simple DIY water filter made from a plastic bottle and natural materials can help remove many sediments and impurities from water collected from rivers, lakes, or rain.
The image above demonstrates a basic filtration system that uses layered materials to gradually clean water as it passes through the filter.
Why Water Filtration Matters
Natural water sources often contain dirt, debris, and microorganisms that can cause illness.
While a simple filter cannot remove every harmful pathogen, it can significantly improve water clarity and remove many visible impurities.
A homemade water filter is useful for:
Camping and hiking trips
Survival or emergency situations
Outdoor education
Rural or off-grid living
After filtration, water should still be boiled or disinfected before drinking.
Materials You Need
To build this basic filter, you will need common materials that are easy to find:
A large plastic bottle
Cotton or cloth
Activated charcoal
Sand
Gravel
Medium stones
Large rocks
A container to collect filtered water
The bottle acts as the filter housing, while the different layers trap particles of different sizes.
Filter Layer Order
To build the filter correctly, the materials must be placed in layers.
When the bottle is turned upside down, the layers should be arranged from bottom to top as follows:
Cotton or cloth
This acts as the first barrier, preventing small particles from leaving the filter.
Activated charcoal
Charcoal absorbs odors, chemicals, and some impurities.
Fine sand
Removes smaller dirt particles and sediment.
Gravel
Helps with water flow and traps larger debris.
Medium rocks
Large rocks
These top layers help distribute water evenly as it enters the filter.
Water poured into the top flows slowly through each layer before dripping out at the bottom.
How the Filtration Process Works
Each layer performs a specific role in cleaning the water:
Rocks and gravel remove leaves and larger debris
Sand traps smaller dirt particles
Charcoal absorbs chemicals, odors, and organic materials
Cotton or cloth acts as a final filter before the water exits
This step-by-step filtration improves water clarity and removes many impurities.
Important Safety Tip
Although this DIY filter improves water quality, it does not guarantee safe drinking water because harmful bacteria and viruses may still be present.
To make the water safe to drink:
Boil the filtered water for at least one minute, or
Use water purification tablets, or
Apply UV purification methods
Combining filtration with purification is the safest approach.
A Valuable Outdoor Skill
Learning how to build a simple water filter is a valuable skill for outdoor enthusiasts and emergency preparedness. Using everyday materials like stones, sand, charcoal, and cloth, you can create an effective filtration system that improves water quality when clean water is not readily available.
This simple method shows how basic natural materials can work together to provide cleaner water in survival situations or outdoor environments. 🌱💧