Saat kita sudah menemukan sudut pandang yg tepat atas sebuah kehilangan; kepergian tidaklah seburuk itu.
Ketika kita sudah menemukan makna yang baik atas sebuah kekecewaan; luka tidaklah semenyakitkan itu.
Jadi, aku duduk lagi di tepi tempat tidurku. Lampu dimatikan. Hening mengisi ruangan. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi esok. Segalanya terasa membingungkan. Entah kapan terakhir kali aku menjalani hari tanpa rencana, tanpa ancang-ancang, tanpa ... api.
Dan rasanya, sedih.
Yang patah akan menemukan cara untuk kembali tumbuh. Yang hancur akan menemukan tujuan untuk kembali terangkai. Terkadang yang kita perlukan sedikit bersabar hingga jawaban itu tiba.
Namun, jika mereka datang hanya untuk menanamkan ketakutan dalam kepalaku, mengajakku membenci, mengingatkanku pada segala yang sudah berlalu, meremehkan, dan membahas keburukan orang lain atas dasar kebencian tanpa sebab,
maaf, aku tak punya tenaga dan waktu.
Satu hal yang kini membuatku bangga: aku berani membangun dinding untuk membatasi diriku dengan orang-orang yang hanya memberatkan kepalaku. Tak mudah, tapi pada akhirnya harus kulakukan.
Jika mereka membutuhkanku, aku akan berusaha untuk ada—akan kulompati dinding itu.
Kalau emang kamu belum siap dituntut buat menghargai, mengabari, mengerti, atau diribetkan oleh seseorang yang selalu nungguin kabarmu, selalu kangen denganmu, maka jangan memutuskan untuk berpasangan
dunia belum jahat kalo lu belum pernah ngerasain udah percaya banget sama orang, tapi taunya orang itu ngelakuin hal yang bahkan lu gapernah duga kalo dia bakal kaya gitu.