Cara termurah dari Medan ke Pelabuhan Belawan.
Jadi, bulan Januari lalu saya berangkat dari Medan ke Batam. Saya naik KM Kelud PELNI dari Pelabuhan Belawan ke Batu Ampar Batam. Kapalnya berangkat pagi hari, pukul 08.00.
Dari Medan, kita sebenarnya bisa saja naik Grabcar atau Gocar. Tapi, kalau pagi-pagi sekali jarang ada yang mau mengantar ke Belawan. Tahu sendiri, kan, jika kawasan Belawan terkenal angker dan rame preman. Belawan benar-benar tampak seperti kawasan kriminal.
Jika naik Grabcar atau Gocar dari Medan ke Belawan, harganya lumayan mahal, sekitar Rp120k. Tapi, jika kamu tipe orang yang suka journey, ada pilihan yang cukup murah. Caranya, naik bus listrik dari Medan ke Belawan. Ongkosnya cuma Rp5.000. Kamu bisa menunggu bus listrik di halte Lapangan Merdeka atau Tembung.
Karena kapal KM Kelud jadwalnya sering pagi hari (pukul 08.00), maka kamu perlu naik bus listrik yang berangkat pukul 06.00 atau 06.30. Sebab, perjalanan dari Medan ke Belawan memakan waktu 45 menit jika lancar atau 1 jam 30 menit jika macet.
Nah, jika mau cara termurah dari Medan ke Belawan, maka pilihannya ya naik Bus Listrik. Cukup bayar 5.000 bisa pake QRIS atau e-Money.
https://t.co/1xWrHJ3GEg
Mengapa Orang Aceh Butuh PASPOR?
Seperti kita tahu, harga tiket pesawat di Indonesia termasuk mahal dibandingkan di negara tetangga. Bahkan menjelang liburan panjang atau libur hari raya, harga tiket pesawat bisa melonjak lebih dari 300 persen. Saya pernah menemukan harga tiket pesawat dari Jakarta ke Aceh mencapai Rp12 juta, padahal biasanya cuma Rp1,8 juta-2,5 juta.
Karenanya, orang Aceh kerap 'berimprovisasi' jika ingin bepergian dengan pesawat ke luar Aceh atau pulang ke Aceh. Salah satunya dengan terbang ke negeri jiran terlebih dulu baru pulang ke Aceh atau ke luar Aceh. Orang Aceh secara berseloroh bilang, "untuk ke Jakarta atau pulau Jawa kita mesti punya paspor." Ini bukan dimaksudkan bahwa Aceh dan daerah di pulau Jawa sudah berbeda negara, melainkan hanya trik saja.
Tahun 2023, ketika berada di Surabaya dan hendak pulang ke Aceh, saya sempat membuat coretan kecil tentang berapa estimasi biaya yang mesti saya keluarkan untuk pulang ke Aceh melalui rute Surabaya-Banda Aceh dan rute Surabaya-Kuala Lumpur-Banda Aceh. Hasilnya, selisihnya bisa jauh sekali.
Jika saya pulang dengan rute penerbangan Surabaya-Banda Aceh, saya mesti mengeluarkan biaya Rp2,7 juta (harga tiket saat itu). Sementara jika memilih rute Surabaya-Kuala Lumpur-Banda Aceh, saya bisa berhemat setengahnya, dengan rincian: Surabaya-Kuala Lumpur Rp600.000; Kuala Lumpur-Banda Aceh Rp650.000. Selain murah, kita bisa ke luar negeri.
Jangan heran, jika orang Aceh kini banyak bikin paspor bukan karena semata-mata ingin traveling ke luar negeri, melainkan supaya mereka bisa berhemat jika hendak ke Jakarta atau kota lainnya di pulau Jawa. Mereka akan memilih rute Banda Aceh-Kuala Lumpur-Jakarta atau saat pulang pilih rute Jakarta-Kuala Lumpur-Banda Aceh.
Tahun 2025 kemarin saat memutuskan traveling ke pulau Jawa, saya pun memilih rute Banda Aceh-Kuala Lumpur-Jakarta. Biaya untuk tiket pesawat yang mesti saya keluarkan cuma Rp1,1 juta.
Kini banyak masyarakat di pulau Sumatera memilih terbang lebih dulu ke Kuala Lumpur jika hendak terbang ke salah satu kota di Pulau Jawa. Sebab, harganya lebih murah dan bisa ke luar negeri.
Bangsa Barat atau Eropa yang kita anggap berperadaban hari ini, dulunya adalah bangsa perampok. Mereka menaklukkan wilayah jajahan dan mencuri apapun yang bernilai di negeri jajahan dan diboyong ke negeri mereka.
Inilah yang saya baca dalam tulisan "Catatan Kebudayaan" Mochtar Lubis di Majalah Horison edisi XV/327. Bagi teman-teman yang mau membaca Majalah Horison edisi lawas, bisa lihat di tweet yang sudah di-pin di akun ini.
SLIP Ini Bikin Saya Panik.
Jadi ceritanya, setelah belajar sebulan di Kampung Inggris Pare, saya memutuskan pulang ke Aceh via Kuala Lumpur. Selain ingin jalan-jalan di KL, juga lebih murah pulang ke Aceh via KL. Bisa hemat setengah harga. Saat itu, saya tidak punya firasat apa-apa dan berpikir penerbangan saya akan lancar-lancar saja.
Tapi, tanda-tanda masalah sebenarnya mulai terlihat di bandara Juanda, Surabaya. Ketika bagasi ditimbang, beratnya lebih sekitar 2 kg dari jumlah 7kg yang boleh dibawa ke kabin. Saya tidak pernah ambil bagasi, karena barang bawaan saya sedikit. Saya nekad masuk ke ruang tunggu, tapi petugas Air Asia melarang karena bawaan saya kelebihan berat. Saya diminta membeli bagasi, yang ternyata harganya sekitar 400k. Terpaksa saya beli.
Saat itu, uang rupiah yang saya pegang cuma cukup untuk bayar bagasi. Karenanya saya tidak jajan selama di bandara Juanda, padahal jadwal penerbangan saya pagi-pagi sekali. Bahkan saya tidak tarik uang rupiah untuk saya tukar ke ringgit. "Nanti sekalian saja tarik duit dan makan di KLIA," begitu pikir saya.
Dan, pukul 8 pagi pesawat yang saya tumpangi tiba di KLIA. Karena tidak pegang duit, saya bergegas ke mesin ATM yang ada di bandara. Selain untuk beli makanan/sarapan juga untuk ongkos naik bus ke KL Sentral dan kulineran di sana. Saya pun mengeluarkan kartu Permata VISA. Mesin ATM pertama minta maaf. Saya ulangi lagi prosesnya, juga hasilnya sama.
Saya belum panik. Saya pindah ke mesin ATM di sampingnya. Saya masukkan kartu Permata VISA. Hasilnya nihil. Saya ulangi lagi, hasilnya juga sama. Dari beberapa ATM yang saya pegang, cuma Permata yang berlogo VISA. BCA dan Bank Aceh masih menggunakan GPN. Jadi praktis tidak bisa saya gunakan: untuk tarik duit maupun untuk transaksi dengan QRIS.
Saya ingat, Bank Aceh sudah kerjasama dengan jaringan MEPS, yaitu jaringan switch ATM Bersama yang memungkinkan nasabah mudah untuk mengakses dana mereka di mana saja dari salah satu ATM bank mitra. Entah lagi sial, itu pun tidak bisa. Bayangkan, sejak pukul 5 pagi dari Juanda saya belum makan dan kini di KLIA saya tidak bisa tarik uang. Perut mulai berdemo. Tidak ada yang bisa saya lakukan.
Saya sempat mencoba peruntungan, meminta bantuan petugas di money changer, untuk memberi saya 300RM dan saya akan transfer uang ke rekening dia melalui mobile banking. Mereka tidak bisa membantu.
Apa yang saya lakukan? Saya duduk di kawasan bandara, bermain laptop, charge HP dan sesekali memantau keadaan. Sebab, saya tidak bisa ke mana-mana. Tidak pegang satu ringgit pun.
Akhirnya, pukul 1 siang, saya menghubungi adik teman dan menjelaskan situasi yang saya alami. Sebenarnya, beberapa jam sebelumnya dia sudah menawarkan untuk jemput langsung ke bandara. Saya menolak dengan halus karena masih mencari cara agar bisa secepatnya ke KL Sentral, tempat yang sudah sangat familiar dengan saya.
Karena tidak ada solusi lain, akhirnya saya bersedia dijemput. Lagi pula saya memang akan menginap di flat miliknya selama di KL. Sebelum tiba di flat, dia membeli banyak sekali makanan dan nasi. Dia tahu saya belum makan sejak pagi. Tidak cuma itu, dia juga memberi saya 300RM, jumlah yang cukup untuk 3 hari di KL.
Apa yang sebenarnya terjadi? Rupanya rekening saya sudah dormant, tidak memiliki aktivitas transaksi (seperti setor, tarik, atau transfer) dalam jangka waktu tertentu. Sejak punya rekening Bank Aceh dan BCA, saya memang tidak pernah lagi menggunakan Permata VISA. Hanya saya gunakan jika ke luar negeri, seperti ke Kamboja dan Vietnam pada 2018. Rekening ini baru saya isi ketika di Surabaya. Jadi, karena lama tidak digunakan, rekeningnya cuma bisa terima dana, tidak bisa kirim keluar.
Setelah kejadian itu, pas dapat tugas liputan dari National Geographic Indonesia ke Payakumbuh, Padang, saya mengganti kartu BCA dari GPN ke MasterCard. Kartu ATM Permata VISA juga saya aktivasi kembali ke kantor Permata yang ada di Banda Aceh.
Tahun 2025 kemarin pas ke Kuala Lumpur, saya tidak lagi mengalami masalah seperti tahun 2023.
Sudah lama saya penasaran dengan Gang Dolly. Hanya saja saat masih beroperasi, saya belum sempat ke sana. Baru pada pertengahan Agustus tahun lalu, saya datang ke Dolly. Suasananya jauh berubah, tidak tampak tanda-tanda bahwa tempat ini pernah menjadi komplek pelacuran terbesar di asia tenggara. Memang beberapa bekas wisma masih ada, tapi sebagian sudah beralih fungsi.
Siapa di sini yang punya kenangan dengan Gang Dolly, silakan berbagi pengalaman di kolom reply.
Dulu pernah dengar ungkapan “bawalah luka ke Jogja”, semacam ungkapan puitis untuk menunjukkan bahwa Kota Yogyakarta sebagai tempat yang tenang untuk mencari ketenangan, meredakan kesedihan, atau memulihkan diri dari patah hati dan kekecewaan.
Itulah kenapa di Jalan Malioboro selalu ramai, terutama saat musim libur panjang
Jejak bioskop di bumi Serambi Mekkah. Meski sekarang ini di Aceh tidak ada lagi bioskop, tapi dulunya beberapa kota di Aceh memiliki bioskop https://t.co/c6DdZpXIe6
Semoga postingan ini dapat HIT TWEET. Kenapa? Saya berpose di bajaj yang pernah digunakan Jokowi dan JK saat mendaftar ke KPU pada Pilpres 2014. Dua bajaj biru ini sekarang ada di hotel Tentrem Yogyakarta
#wisatajogja#backpacker#traveling
Bagi kalian yang di Surabaya dan kangen mie Aceh tapi dengan citarasa tidak biasa, bisa mampir ke Suk Asin Mie Kocok Aceh. Pemiliknya seorang Tionghoa yang mengaku pernah lama tinggal di Meulaboh, Aceh Barat.
Oh ya, pak Suk Asin ini masih bisa bahasa Aceh. Dia paling senang kalau tamunya dari Aceh, bisa bercakap-cakap bahasa Aceh.
Tahun 2018 saya berkesempatan traveling ke Kamboja, sempat mampir ke Choeung Ek Genocidal Center, salah satu lokasi pembantaian oleh rezim Khmer Merah, Polpot.
Choeung Ek Genocidal Center adalah bekas ladang pembunuhan massal terkenal di Kamboja yang kini menjadi [UNESCO World Heritage] guna mengenang korban rezim Khmer Merah. Tempat ini berada di dekat kota Phnom Penh.
Setelah Google melakukan update algoritma pd Agustus lalu, artikel saya yg sebelumnya muncul di halaman satu pencarian utk keyword review pintu all in one crypto app tiba2 hilang dari serp
https://t.co/hNf2oVeDXq