Jadi keinget ucapan salah satu dokter spesialis bedah anak sekitar empat tahun lalu.
Beliau masuk ke ruangan anakku, terus bilang,
π¨πΏββοΈ: "Udah nggak bisa diapa-apain lagi, percuma. Nggak bakal panjang umur."
Aku sama suami cuma bisa saling pandang. Begitu dokternya keluar ruangan, kami langsung nangis.
Padahal FYI, beliau bukan dokter yang menangani anakku, cuma visit aja.
Bahkan nggak ada kalimat kayak, "Semangat ya Pak, Bu. Kita usahain yang terbaik. Nanti kalau dirujuk semoga operasinya lancar dan Ade bisa sembuh."
Belum juga diusahakan apa-apa, tapi sudah langsung divonis "nggak bakal panjang umur."
Setidaknya sebagai orang tua, kami sudah berikhtiar semaksimal mungkin buat pengobatan anak.
Akhirnya anakku dirujuk ke rumah sakit yang fasilitasnya lebih lengkap dan ditangani profesor terbaik.
Selama di rumah sakit, beliau selalu menjelaskan semuanya dengan detail. Mulai dari efek samping, tindakan operasinya, sampai kemungkinan terburuknya. Semua dijelaskan dengan baik, jadi kami bisa lebih legowo menerima apa pun hasil akhirnya.
Bahkan waktu anakku kritis, para tenaga kesehatan berjuang mati-matian. Mereka juga sempat memelukku sambil bilang,
"Sabar ya, Bu. Ikhlaskan ya. Ade sekarang sudah nggak sakit lagi."
Empat tahun sudah berlalu, tapi setiap kali aku dan suami lewat depan tempat praktik dokter spesialis bedah anak itu, luka karena ucapannya masih tetap terasa.
Turut berduka cita atas berpulangnya almarhum yurizaltrich.
Selamat beristirahat. Sekarang sudah nggak perlu nunggu kamar lagi ya, Kak.
Titip salam untuk putriku.
Aku berdoa semoga Allah memindahkan pahala dari orang-orang yang berkomentar jahat di utasmu kepadamu. Semoga Allah meringankan hisabmu dan memberimu tempat di Surga Firdaus atas kezaliman yang kamu alami.
Sampai bertemu nanti dengan para pemilik komentar jahat itu di yaumul akhir.
Bagi rekan-rekan yang mau jadi peserta penyimak di acara konferensi internasional yang akan diadakan @ParamadinaPiec ini, sila mendaftar melalui kolom komentar di bawah ini. Catat tempat dan waktunya, serta hadir. Thanks.
Cara untuk menangkal munculnya radikalisme harus dimulai dari keluarga, terutama dalam memberikan pengertian utk saling menghormati perbedaan agama, budaya, dan suku yg sangat majemuk.