2-2 vs Newcastle (yang skuadnya kempes), kebobolan 2 via transisi (lemah banget), dan tak mampu benar-benar berbahaya via open play selama 90 menit.
Dari 1-10, berapa kalian (fans Liverpool) nge-rate debut Iraola?
TOLOL , mungkin kata yg paling tepat ngebuka post gue ini.
Gue ga nonton match nya, jadi ga liat momen tepatnya pas bagian Szobo nyerahin ban kapten ke Tsimi instead Jones.
But, apapun itu this sh1t3 moment ga harusnya ada. Friendly match, seperti kata Shankly, adalah momen ketika fans tu bisa merasa dekat ke klub, ke pemain, embrace moment hangat, di game yang less intensity, less pressure. Apalagi abroad. Jelas fans, di era sekarang berusaha dokumentasiin buat jadi konten. Jadi momen kek gini ya pasti kerekam.
Semua yang ada di lapangan, TOLOL.
Iraola lewat, staff juga ada, pemain lain yg ga terlibat ada di deket yang lagi ribut. Bukannya usaha utk paling ga nyuruh jan ribut di situ karena pasti ada puluhan atau ratusan kamera nyorot.
Balik lagi, gue ga tau Szobo emang ga mau effort nyari Jones, apa emang terlalu jauh posisinya, jadi milih yang deket. But I dare to say, Szobo ini emang ada NPD NPD nya dikit.
Tsimikas, di video ini juga ga perlu banget kesel sampe buang itu ban kapten. Friendly match aside, itu tetep ban kapten Liverpool FC. Sesuatu yang harus dijaga dengan pride. Gak dibuang buang seenaknya. Taik !
Jones, akamsi, selama masih ada TAA selali ada dibalik bayang bayang Arnold. Umur ga beda jauh. Ngerasa sebagai akamsi paling senior, ngerasa layak dapet tempat utama, dan ga kesampean. Mungkin jadi trigger. But still, its shite mentality. Gak gitu caranya.
Kecuali emang mreka emang dah bener" ga mau di klub. Jog on then.
Ini insiden akan jadi test pertama dalam handle pemain, dalam aspek ketegasan. They must be punished. Kita tunggu aja mau gimana.
Inget insiden Sakho, juga di pre season. Frozen out by Klopp, for his antics.
Walk on!
Dalam satu hari, ada dua AIB BESAR terbongkar.
Pertama pengakuan peserta demo dukungan MBG yg menerima uang Rp. 100.000 dan juga beberapa hadiah.
Kedua terbongkarnya para mahasiswa yang menerima sejumlah uang ketika bertemu wapres gibran.
Dan ga ada yang bisa kita lakukan..
Masih ingat mahasiswa yg di ajak gibran masuk ke istana?
Ternyata mereka menerima suap pas ketemu gibran sebesar 300 juta.
Bayangin banyaknya relawan yg nunggu berjam-jam menunggu hasil rapat mereka dengan wapres, tapi ternyata semuanya udah di setting
Malam ini mereka lagi di Introgasi oleh mahasiswa UBK
Top mistakes last Summer :
1) Failed to sign a recognised right-back.
2) Didn’t sign Marc Guéhi
3) No defensive midfielder was targeted or signed.
4) Sold Tyler Morton with zero midfield depth
4) The Elliott loan deal (Villa reportedly won’t play him to avoid triggering the obligation to buy)
5) Sold Luis Díaz, the biggest mistake.
6) Sold Darwin Núñez
7) Signed both Isak and Ekitiké (far too similar as strikers) and ignored Isak injury issues.
8) Signed Giorgi Mamardashvili (questionable with his feet and not a modern sweeper-keeper)
Hughes and Edwards are every bit as big a problem as Slot — they all need to go.
They were handed a generational war chest and instead of building a dynasty, they set the club back years.
And these guys are called visionaries? 😂
Secara khusus, saya dan istri berdiskusi soal alasan di balik pertarungan Usopp dan Luffy.
Kondisi Going Merry memang “pemicu”-nya, tapi bukan itu akar masalahnya.
Bagi Usopp, Going Merry adalah manifestasi dirinya. Sesuatu yang dianggap “rusak” tapi tetap ingin dipertahankan.
“Kalau Merry yang rusak saja dibuang… apakah suatu saat aku juga akan dibuang?” Itu mungkin pertanyaan yang menghantui Usopp
Saya pun melihat konflik ini dari trauma Usopp di masa kecil. Saat ibunya tengah berjuang melawan sakit, tidak ada yang menemani kecuali anaknya, Usopp.
Begitu pun kondisi Merry yang terlihat “sakit” dan ditinggalkan begitu saja, sendirian. Usopp tak ingin itu terjadi, untuk kedua kalinya. Terlebih Going Merry adalah pemberian Kaya, perempuan yang berarti bagi hidup Usopp.
Trauma ini juga mungkin yang membentuk inferiority complex ketika melihat nakama lainnya yang punya peran penting. Usopp menganggap dirinya sering kalah, sering takut, dan merasa paling lemah.
Keputusan menggantikan Going Merry seolah membuktikan mereka yang lemah akan tertinggal dan ditinggalkan.
Di sisi lain… Luffy bukannya tidak punya ikatan emosional dengan Going Merry. Akan tetapi, ia adalah seorang Kapten yang juga memikirkan keselamatan nakamanya.
Mempertahankan Going Merry artinya membahayakan nakama dalam mengarungi lautan Grand Line yang ganas. Mempertahankan Going Merry berpotensi memupus mimpinya dan juga nakamanya.
Keputusan rasional Luffy sebagai pemimpin itu bertabrakan dengan luka emosional Usopp. Di titik ini, Usopp tahu akan kalah, tapi dia memilih bertarung.
Persis seperti budaya siri, Usopp bertarung untuk menunjukkan harga dirinya: dia tidak ingin pergi sebagai “yang dibuang”, tetapi sebagai orang yang memilih dan memutuskan untuk pergi.
Di titik ini, Usopp sejatinya tengah melawan dirinya sendiri. Luffy memang menang secara fisik, tapi Usopp berhasil mengalahkan dirinya sendiri dan mempertahankan martabatnya.
Terbukti di Enies Lobby Arc, Usopp sebagai Soge King menunjukkan peran dan eksitensinya yang berharga. Inferior Complex-nya mulai terkikis saat bisa menembak jarak jauh di tengah angin kencang. Tembakan yang juga membebaskan Nico Robin dari borgol yang melemahkannya.
Selain itu, Luffy pun menunjukkan sisi emosional bahwa jauh di dalam dirinya, Going Merry adalah nakama yang ingin dipertahankan. Usai berhasl kabur dari Enies Lobby, Luffy benar-benar berharap Going Merry yang terbelah dua itu bisa diselamatkan.
Pada akhirnya, Merry pergi bukan karena gagal atau rusak, tetapi karena ia telah menunaikan seluruh perjalanannya dengan utuh.
Dan mungkin, dalam hidup kita sendiri, ada hal-hal yang juga seperti itu. Ada hal-hal yang datang bukan untuk selamanya. Mereka datang untuk mengajarkan kita arti bertahan dan makna mengikhlaskan.
A Tajwid rule that we CANNOT hear!
The imam of Mecca recited Surah Yusuf this week during Tarawih, making this movement with the mouth right in the middle of the verse.