Ikhlaskanlah hal ini! Kita sudah banyak melewatkan atau dilewatkan oleh beberapa orang di kehidupan, artinya mereka memang bukan untuk kita, pun sebaliknya, atau waktu kita untuk mereka memang sudah dicukupkan.
Kata mereka, seharusnya aku mampu melakukannya, sebuah niat yang baik, namun di dalam diri, suara hati kalut berkecamuk, langkah kaki seperti tertahan, dan nampak tak ada jalan, sebuah tanda awal keputus-asaan yang seharusnya ku lawan.
Ujung dari ikhtiar itu seperti mengarungi luasnya lautan yang pasti bertepi, hanya di antara pantai yang berpasir atau berkaranglah yang akan kita temui.
Sekuat-kuatnya insan sendiri mengarungi lautan kehidupan, tetap saja butuh berlabuh, bukan untuk berhenti, tapi untuk mengajak satu orang, yang semoga mau & mampu untuk saling meneguhkan layar, selama di perjalanan melawan arus gelombang dan badai kehidupan.
Jangan sampai terlambat menyadari, bahwa yang benar terbaik nyatanya sudah lama menanti, bukan melarang mengejar yang jauh berlari, tapi ingatlah bahwa hati yang penuh ambisi, terkadang lalai dalam menilai. #
Kita mungkin kadang berada di kondisi yg seolah dikhianati semua manusia. Sedih atau bahagia? Kisah Habib Umar bin Hafiz, ketika Nabi Ibrahim ditanya kpn hari terbaikmu? Beliau jawab, βSaat berada di dalam api, putus semua harapan pd manusia, tp Allah bersamaku.β
Sebagai manusia, target fokus masing-masing kita adalah berkembang ke versi terbaik dari diri sendiri, bukan membanding-bandingkan antarversi dengan manusia lain. Kecuali jika anda sedang membicarakan sungsang dan ipong. Silahkan! π
Pentingnya menjadi diri sendiri walaupun mesti menjadi berbeda dari arus utama, sangat penting menjadi diri sendiri dengan catatan perubahan ke arah kebaikan. Kata kuncinya: Jadilah diri sendiri dengan nilai-nilai kebaikan!
Untuk sekadar mengucap salam pun sungkan, apatah lagi bila mesti mengetuk pintu hati, seperti tamu yang berdiri di depan pagar, tuan rumah tak bersedia keluar, termenung didiamkan tanpa penegasan, walau tak diusir pun sudah nasib baik, ternyata hanya perlu tahu diri, pulanglah!
Hanya dengan lewat doa, dua telapak tangan manusia di bumi mampu menjangkau tahta langit, berharap ketidakmungkinan di akal manusia di-amin-i Sang Pencipta.
Kita tidak bertanggungjawab atas kebahagiaan siapa pun, tugas kita satu-satunya adalah menebar kebaikan dengan bingkai ketulusan kepada semua orang, tidak lebih, sebab ingin disukai semua orang adalah tujuan yang konyol.
Tidak ada yang sia-sia percuma, sungguh semuanya, selalu ada hikmah bagi yang mau berpikir dan berserah diri, pun ketika sebuah duri tak sengaja menancap di telapak kaki. #muhasabah
Langit masih akan tetap menjulang tanpa tiang, bumi pun masih akan tetap terhampar meski tak berpermadani. Hikmah: Dunia masih akan selalu baik-baik saja meski ada dinding yang runtuh di sudut hatimu. #olahrasa
New Normal diakui sebagai istilah yang salah konsep. Diganti Adaptasi Kebiasaan Baru. Sudah betulkah konsep ini? Adakah Kebiasaan Baru?Namanya kebiasaan pasti sudah lama bahkan turun temurun. Terhadap sesuatu yg baru, namanya pembiasaan, agar lama2 jd terbiasa, lalu jd kebisaan.