@empty__core Padhal yg julid, yg gasuka, yg iri hati kalau prempuan berhasil itu biasanya sesama juga
Woman support woman is the biggest lie of humanity
Ketika laki-laki melecehkan perempuan secara verbal, akan dilihat sebagai bentuk kekerasan berbasis gender (power imbalance), ancaman, atau objektifikasi tubuh. Ini akan langsung mendapat perhatian besar dari aktivis, media, dan lembaga seperti Komnas Perempuan.
Sebaliknya, ketika perempuan melakukan hal serupa ke laki-laki (misalnya komentar vulgar tentang tubuh, rayuan paksa, atau lelucon seksual), masyarakat cenderung menganggapnya ringan, "basa-basi", atau bahkan "laki-laki harus kuat". Ini adalah contoh double standard yang masih kuat di banyak budaya, termasuk Indonesia.
Laporan dari laki-laki akan lebih jarang diproses serius oleh polisi/masyarakat, meski hukum memungkinkan. Korban laki-laki malah akan diremehkan atau ditertawakan.
Laki-laki diajarkan sejak kecil untuk "kuat", "tidak cengeng", dan "menanggung sendiri" (konsep masculine gender role stress atau discrepancy stress).
Ketika mengalami pelecehan verbal dari perempuan, banyak laki-laki merasa malu atau "tidak maskulin" jika melapor. Mengakui diri sebagai korban dianggap sebagai kelemahan yang mengancam identitas diri.
Stereotip di masyarakat memiliki kecenderungan bahwa perempuan dianggap lebih pasif, emosional, atau "lemah" sehingga pelecehan verbal dari mereka dianggap "hanya kata-kata" atau "reaksi defensif", bukan kekerasan serius.
Sementara laki-laki dianggap lebih kuat secara fisik dan emosional, pelecehan terhadap mereka dianggap "tidak mungkin menyakiti" atau bahkan "layak" jika ada alasan (misalnya, dianggap "salah sendiri").
Di dunia secara umum, norma patriarki masih kuat, tapi justru memperkuat paradoks ini. Laki-laki diharapkan dominan, sehingga menjadi korban pelecehan verbal dianggap "memalukan" dan jarang diangkat sebagai isu serius.
Persepsi masyarakat terhadap kekerasan terhadap laki-laki masih dipengaruhi stereotip maskulinitas, sehingga korban enggan bicara karena takut kehilangan citra diri atau dianggap "bukan laki-laki sejati".
Ini juga menunjukan bahwa konsep laki-laki dan perempuan setara mesti dilihat dari berbagai bidang. Di mata hukum, ekonomi, dan HAM sudah. Tapi di bidang sosial dan norma masih harus dilihat kembali.
Kl ada yg marah-marah ketika ada pertanyaan valid atas suatu isu hukum, percayalah kalian ga akan lebih baik pas jadi pemimpin negara ini karena mentalitasnya sama aja: marah ketika ada dialog.
Bagus bgt yg udah jawab/mengutarakan pendapatnya secara civil di reply/QRT 👍
@ghozyulhaq@tirta_cipeng setuju bgt. justru alumni lulusan beasiswa ini kan emg yg diharapin buat balik ke indo dan bisa nyiptain lapangan kerja atau terobosan baru buat negeri ini…
@tirta_cipeng Kalau mau cari income yang layak silakan, tapi jangan pakai LPDP dong.
Silakan apply pakai jalur beasiswa yang lain.
Kalau udah dibiayain LPDP milyaran, terus jadi gak mau pulang, itu namanya rakus.
@tirta_cipeng gabisa serta merta gt jg bang. kan dr awal emg udah agreement buat setelah selesai perkuliahan harus balik ke indo, dgn durasi yg sudah ditetapkan. kalo ga nurut maunya stay di LN, ya jangan pake lpdp lah dr awal.. banyak beasiswa lain.
coba koreksi gue nih ya…
gue beli ke abang2 jual kelapa “bang beli es degan 1”. terus dia kebingungan. terus gue ralat “beli air degan 1”. terus yg dikasih beneran pure air degan doang polos ga pake es ama isiannya. ini gue yg salah apa abang2nya newbie yak?😭