Inter pernah nolak Franco Baresi. alesannya badannya terlalu kecil.
hari yg sama, kakaknya Giuseppe diterima. dua bocah dateng bareng, satu dipulangkan.
Baresi meninggal pagi ini di Italia, umur 66.
Milan yg nampung. di tim muda dia dipanggil "Piscinin", bahasa Milan buat si kecil.
1980 Milan kena skandal Totonero, turun ke Serie B. Baresi ikut turun, nolak semua tawaran yg masuk.
1982 Milan turun lagi. dia nolak pindah lagi. dua kali dia ikut bawa Milan balik ke Serie A.
taun itu Italia juara Piala Dunia. Baresi ada di skuadnya, gak main semenit pun. umurnya 22, dan di tahun yg sama dia jd kapten Milan. ban itu dia pegang 15 musim.
bareng Maldini, Costacurta, Tassotti dia bangun lini belakang yg masih dipake jd patokan sampe skrng. musim 1993/94 Milan kebobolan 15 gol dari 34 laga.
1994, Piala Dunia. laga kedua lawan Norwegia, meniskusnya robek. operasi.
25 hari kemudian dia main di final lawan Brasil.
120 menit. clean sheet. Brasil gak nembus.
adu penalti, tendangannya gagal. kram, tenaganya abis. Italia kalah. dia nangis di lapangan.
20 tahun karier, satu klub. 719 laga, 6 Scudetto, 3 Piala Champions, 81 caps.
nomor 6 nya dipensiunkan Milan sejak 1997. belum ada yg makenya lagi.
bocah yg dulu dipulangkan Inter gara2 kekecilan.
Riposa in pace, Franco 🥀
(Sumber wikipedia,These Football Times,acmilan .com)
Sebagai Guru Besar Teknik Sipil di UI..
Saya sudah haqqul yakin, penghasilan Prof. Ali Berawi ini sudah dua digit.
Apalagi keilmuan dia sangat laris di industri. Bisa jadi penghasilan beliau dari konsultasi, proyek dan penelitian menyentuh tiga digit.
Tapi dia tetap punya empati terhadap sesama sejawatnya. Dia tahu, ga semua dosen punya penghasilan yang sama kek dia.
Mayoritas penghasilan dosen ya 3,3 jutaan.
Dan dia pun ikut memperjuangkan kesejahteraan dosen dengan menjadi saksi ahli di MK.
Supaya bisa membatalkan UU Dosen yang bikin dosen saat ini gajinya di bawah UMR.
Applause untuk beliau!
Tidak seperti pihak tertentu yang nyudutin dosen UNAIR yang curhat di MK karena gajinya di bawah UMR.
"Infomu ga utuh, dosen penghasilannya di luar banyak"
"Kan ada serdos"
"Kan ada tunjangan, belum lagi proyek dan insentif penelitian"
"Coba cek tuh, jangan-jangan bukan alumni UNAIR"
Masalahnya, GA SEMUA DOSEN PUNYA ITU.
Bahkan kalaupun ada, NUNGGU BERTAHUN-TAHUN.
Giovani Lo Celso: Dari Mengunci Diri di Kamar Mandi hingga Mencetak Gol di Piala Dunia. Ini Tentang Takdir yang Menunda, Bukan Menolak. 🇦
Kalau ada satu pemain yang paling pantas menikmati momen ini, jawabannya adalah Giovani Lo Celso.
Empat tahun lalu, dia adalah jantung permainan Argentina. Di era awal Lionel Scaloni, Lo Celso bukan sekadar gelandang. Dia adalah penghubung antara lini tengah dan Lionel Messi. Hampir semua serangan Argentina mengalir lewat kakinya. Kombinasinya dengan Rodrigo De Paul dan Messi menjadi fondasi yang membawa Argentina menjuarai Copa América 2021, Finalissima 2022, sekaligus memulai rekor tak terkalahkan yang luar biasa.
Lalu, hanya beberapa pekan sebelum Piala Dunia Qatar dimulai
Semuanya runtuh.
Cedera hamstring membuatnya harus menjalani operasi. Dokter menyampaikan kabar yang tak ingin didengar pemain mana pun: mimpi bermain di Piala Dunia telah berakhir.
Lo Celso mengaku dirinya langsung hancur. Dia menangis, mengunci diri di kamar mandi, dan tidak sanggup menerima kenyataan. Bertahun-tahun bekerja keras, ratusan latihan, ribuan menit bersama tim nasional, semuanya terasa sia-sia hanya karena satu cedera.
Yang lebih menyakitkan lagi
Argentina kemudian menjadi juara dunia.
Seluruh negeri berpesta. Messi akhirnya mengangkat trofi yang selama ini dikejar. Rekan-rekan setimnya menari, bernyanyi, dan menciptakan sejarah.
Lo Celso ikut tersenyum.
Dia ikut merayakan.
Tapi jauh di dalam hatinya, pasti ada satu pertanyaan yang terus menghantui.
"Bagaimana kalau aku tidak cedera?"
Banyak orang lupa bahwa sebelum Qatar, Lo Celso adalah starter mutlak. Bahkan banyak yang percaya absennya dia memaksa Scaloni mengubah struktur lini tengah. Enzo Fernández memang muncul sebagai bintang baru dan Argentina tetap menjadi juara, tetapi itu tidak menghapus rasa sakit yang harus ditanggung Lo Celso.
Empat tahun berlalu.
Dia terus bekerja dalam diam. Tidak pernah mengeluh. Tidak pernah meminta belas kasihan. Tidak pernah menggunakan cedera sebagai alasan.
Lalu tibalah Piala Dunia 2026.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Giovani Lo Celso akhirnya benar-benar bermain di panggung yang sempat direnggut darinya.
Dan seperti skenario film
Dia sempat mencetak gol.
Namun bendera hakim garis terangkat.
Offside.
Rasanya seperti takdir sedang mempermainkannya lagi.
Seolah dunia berkata, "Belum. Belum sekarang."
Tapi Lo Celso tidak menyerah.
Beberapa menit kemudian, Argentina mendapatkan tendangan bebas.
Dia maju.
Menatap gawang.
Mengambil ancang-ancang.
Lalu...
GOOOL!
Bola meluncur sempurna ke gawang. Kali ini tidak ada bendera. Tidak ada VAR. Tidak ada yang bisa mengambil momen itu darinya.
Itulah gol Piala Dunia pertamanya.
Empat tahun setelah mengunci diri di kamar mandi karena merasa mimpinya telah berakhir, Lo Celso akhirnya mencetak gol di panggung terbesar sepak bola dunia.
Mungkin bagi sebagian orang, itu hanya satu gol.
Bagi Lo Celso, itu adalah penebusan.
Bukti bahwa takdir memang bisa menunda mimpi seseorang, tetapi tidak selalu merampasnya.
Dari kamar mandi yang dipenuhi air mata, menuju sorak sorai satu stadion Piala Dunia.
Giovani Lo Celso. Deserve. Sangat pantas.