Selamat Natal dari tanah Kalimantan—bumi yang sekian lama diperkosa oleh korporasi dan penguasa lalim. Hutan-hutan kita kini berganti seragam menjadi sawit, tanahnya berlubang dipahat tambang, dan langitnya menghitam tertutup asap pembukaan lahan. Semua itu dilakukan atas nama "pembangunan".
Di sini, siapa pun yang bersuara dianggap musuh negara; dituduh anti-pemerintah atau melawan hukum. Maka tak heran jika para pejuang alam justru dikriminalisasi dan dibungkam. Suara mereka ditenggelamkan oleh hiruk-pikuk "panglima gadungan" yang meninabobokan bangsa Dayak dengan atraksi sulap yang mendungukan. Di tengah kehancuran ini, semua orang berebut ingin diakui sebagai raja dan panglima.
Betapa kontrasnya mereka dengan Sang Raja yang sesungguhnya. Ia yang turun ke dunia mengambil rupa sebagai hamba, lahir di palungan yang hina di tengah sunyi malam yang dingin.
Masyarakat Dayak menyebut Natal sebagai Pesta Alem Barasih—Perayaan Malam Kudus. Secara harfiah, Natal berarti 'kelahiran', namun bagi kita hari ini, ia bukan sekadar peringatan hari lahir, melainkan perayaan akan kesucian di tengah dunia yang kotor.
Tak perlu terjebak dalam debat remeh soal boleh-tidaknya merayakan Natal sebelum 25 Desember. Sejarah kita punya ceritanya sendiri. Dahulu, karena sulitnya transportasi dan medan Kalimantan yang menantang, para Pembrita Injil harus menempuh perjalanan panjang untuk menjangkau setiap jiwa. Satu pendeta melayani belasan kampung. Itulah mengapa sejak awal Desember, Natal dirayakan secara bergilir dari hilir hingga ke hulu, memastikan sukacita tetap sampai ke pedalaman meski harus menembus jeram dan hutan.
Kini, tugas kita adalah membawa semangat Alem Barasih ke dalam perjuangan nyata. Natal memanggil kita untuk tidak tinggal diam melihat ketidakadilan di depan mata. Sebagaimana pesan firman Tuhan dalam Amsal 31:8:
"Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang menderita."
Mari kita rayakan kelahiran Sang Raja dengan keberanian untuk menyuarakan kebenaran bagi hutan yang tak bisa bicara, dan bagi saudara-saudara kita yang hak-haknya dirampas. Selamat Natal dari Kalimantan. Semoga terang-Nya menyinari hati yang berani.
Apa sebenarnya hubungan antara Perayaan Natal Nasional dengan deklarasi bantuan untuk Palestina?" Jika jawabannya “karena Natal identik dengan kasih universal” – saya akan bertanya lebih dalam:
"Bukankah kasih itu seharusnya dimulai dari halaman rumahmu sendiri–pada jutaan anak negeri yang masih menanti kepedulian paling dasar: pendidikan, pangan, tempat tinggal yang layak, dan perlindungan dari ketidakpastian hidup?"
Mengapa yang muncul justru pernyataan bantuan secara eksplisit ke sebuah negeri asing nun jauh di sana tanpa nuansa empati ke dalam negeri?
HT
Patty Smyth, Seorang Penyanyi Dan Penulis Lagu Amerika. la Pertama Kali Mendapat Perhatian Melalui Grup Musik Rock Scandal Di Tahun 1981. "Sometimes Love Just Ain't Enough" Lagu Yang Dirilis Di Tahun 1992 Yang Berduet Dengan Vocalis The Eagles Don Henley
THE LAST OF 🐯 SUMATRAN TIGER
Apakah Anda menyukai Durian? Ini bukan cerita ttg durian. Ini kisah pilu yg tak terlupakan. Saat bekerja di Sumatera Barat (1993-1999) sy khusus berkunjung ke Painan dan menjadi saksi bisu bagaimana 🐯HARIMAU SUMATERA liar harus 'bertarung' dengan..