Dari Oktober 2025 udah heboh bahkan ada bocoran siapa saja pengusaha yg beli Patriot Bond.
Kalo beneran dapet perlindungan khusus, jadi gak heran sih mereka-mereka mau beli Patrit Bond yang imbal hasilnya gak seberapa ini wkwkw.
Di bocoran itu udah ada nama-nama tersohor kayak :
> Anthony Salim (Salim Group)
> Sugianto Kusuma/Aguan (Agung Sedayu)
> Prajogo Pangestu (Barito)
> Franky Widjaja (Sinar Mas)
> Budi Hartono (Djarum)
Jadi, apa sih Patriot Bond itu?
Intinya, pembeli Patriot Bond itu minjemin uang mereka ke negara. Nah, nanti negara kasih imbal hasil per tahun. Kalo Bond pada umumnya kasih 5-6% imbal hasil, patriot bond ini cuma 2%.
Makanya dinamain Patriot. Mereka rela berkorban demi negara
Inilah para patriot itu guys. Duh, pengen deh jadi kayak para patriot ini ๐
@dimarsasongko98 Komisioner Komnas HAM itu dipilih dan di fit and proper oleh DPR. Ga mungkin terpilih kalo ga ada endorse dr Senayan. Keduanya saling memanfaatkan. Kalo ga suka cara itu berarti revisi dulu di UU HAM.
Two nights with Kings of Convenience. ๐ฎ๐ฉ
๐ 28 & 29 November 2026โจ๐ JIEXPO Convention Centre & Theatre, Jakarta
Ticket on Sale:โจ17 June 2026 | 11.00 AM (GMT+7)
Get your tickets at https://t.co/xFkF39Oo0Nโจ
Promoted by @akselerasi.ent
#KingsOfConvenience#KOCJakarta
Salah satu kesalahan paling umum dalam membaca data makro: terpaku pada angka absolutnya.
โข "Inflasi naik ke 4%."
โข "BI hike 25 bps."
โข "GDP tumbuh 5%."
Refleksnya langsung menilai bagus/jelek dari angka itu.
Padahal pasar bereaksi terhadap "Surprise Factor".
"Surprise Factor" adalah selisih antara REALISASI dan KONSENSUS.
Harga itu sudah mendiskon faktor2 yang forward-looking.
Sebelum sebuah data rilis, konsensus tentang data tersebut sudah priced in di harga.
Market sudah antisipasi data makro yang belum keluar based on konsensus.
Ketika datanya riilnya keluar, satu2 informasi baru adalah selisihnya terhadap ekspektasi, dan itulah yang menggerakkan harga, bukan angkanya sendiri.
Kalau inflasi keluar di 4% dan konsensus memang 4%, market price most likely tidak akan kemana2.
4% itu sudah priced in.
Yang menggerakkan pasar adalah kalau yang keluar ternyata 4,5% (di atas dugaan) atau 3,5% (di bawah).
Implikasinya adalah, angka "bagus" bisa menurunkan pasar kalau di bawah ekspektasi, dan angka "jelek" bisa menaikkan kalau lebih baik dari yang ditakutkan.
Di portfolio management, ini masuknya ke Macroeconomic Factor Model. (terlampir di gambar)
Di pasar global ada indeksnya: Citi Economic Surprise Index (Citigroup), yang mengukur data aktual vs konsensus.
Jadi kalau ada rilis data atau keputusan bank sentral, pertanyaan pertamanya bukan "angkanya berapa", tapi "angkanya berapa dibanding yang diperkirakan."
Yang sesuai ekspektasi, sekencang apa pun headlinenya, sebagian besar sudah priced in di harga.
ada yg kenal dengan wajah ini?
kenalin, bu hendri saparini.
ekonom ugm yang melanjutkan ke tsukuba.
jika ditanya soal MBG, bu hendri sudah merumuskan hal ini sejak 2007-2008 bersama prabowo.
pak sumitro orang banyumas. demikian juga bu hendri. ada garis kedaerahan yg sama.
namun konsep MBG bu hendri beda dengan Prabowo. Bu Hendri menyalin tempel konsep makan siang bagi siswa jepang, tempat dia sekolah dulu.
konsep otonom sekolah dan komite sekolah
menghindari adanya food waste berlebihan dan keracunan makanan. proses hidangan yang juga dibersihkan secara mandiri oleh siswa untuk membentuk karakter siswa. "dimulai dengan pilot project dulu ya mas", ujarnya
implementasi mbg prabowo berbeda dengan yang ia diskusikan bersama bu hendri saat baru saja mendirikan @Gerindra
bu hendri saat ini masih aktif di Core, tebet. lembaga thinktank yang mumpuni.
bu kenapa jarang nulis lagi?
"serba salah mas, kalau tulisan opini saya di media ada yang dipuji dengan policy, nanti dikira saya sedang nitip CV. kalau saya terlalu keras, nanti utusan Dasco datang lagi".
saya dan beliau akhirnya menikmati sushi, di sebuah kedai jepang yang berada tepat di atas kantornya.
nyam nyam nyam