Seru juga yaa film The Odyssey. Suka banget kata-katanya yang,
“The most we want is what the most we can’t have, and what the most we can’t have is what we already had and lost”.
Wong lanang yen isih iso misuh berati situasi masih terkendali.
Tapi yen wes meneng wae, nglamun karo udud nyawang tanduran, trs tangane ngusek usek ndas....., berati situasi sudah genting, komandan!!
How introvert you are?
Aku:
Aku kalo bawa kendaraan ga pernah mencet klakson. Aku lebih memilih untuk membatin, "JANE WONG IKI ISO NUMPAK MOTOR PORA JE?! RA NGUTEG!! JINGAN!!"
ini salah satu statement dari bang Raditya Dika yang menurutku kena banget
“aku tidak mau berhubungan lagi dengan orang itu selama lamanya, dengan cara aku menganggap dia tidak ada. jadi yang lebih parah dari membenci orang adalah dengan menganggap dia tidak pernah ada wujudnya. ini lebih menyakitkan daripada dibenci, untuk dianggap tidak ada”
kalo cewe udah bilang:
"aku mau tanya, boleh gak?"
percayalah, penyelidikan telah selesai.
yang tersisa hanyalah persidangan dan verifikasi 2 langkah.
sebaiknya jangan berbohong
“You will lose friends, you will lose lovers, you will lose comfort. But if in losing them you find yourself, you have gained more than a king.”
— Marcus Aurelius
TERNYATA HOBI BISA
BOCORIN KARAKTER
ASLIMU LOH...
📚 membaca
tipe yang tenang, suka mikir dalam, empatinya tinggi, dan nyaman dengan dunia sendiri.
⚽ olahraga tim
energik, kompetitif, gampang bergaul, dan berani ambil peran di depan.
🔍 memasak
kreatif, solutif, suka melayani, dan nggak takut coba hal baru.
📷 fotografi
peka, detail-oriented, cinta keindahan, dan jago nangkap momen.
🌱 berkebun
sabar, kalem, perfeksionis, dan penuh kepedulian.
🎮 main game
adaptif, terbuka, cepat nyatu di lingkungan sosial.
✍️ menulis
imajinatif, eksploratif, dan suka memperluas koneksi.
🚴 bersepeda
ceria, petualang, suka tantangan, dan menyenangkan.
gue suka banget kalimat ini:
“Orang yang gak terbiasa komunikasi sehat, tiap masukan kerasa kayak sindiran.
Orang yang kurang tanggung jawab, tiap kritik kerasa kayak disudutkan.”
Ego itu harus dikontrol, bukan diturutin.
Karena kalau ego yang selalu pegang kendali, semua hal bakal diputer jadi soal harga diri.
Dikit-dikit ngerasa diserang, dikit-dikit pengen ngebela diri, padahal belum tentu orang lain punya niat seburuk itu.
Ego bikin kita susah denger, susah nerima, dan akhirnya susah berkembang.
Padahal gak semua masukan itu jatuhin kadang itu cara orang lain biar kita bisa jadi versi yang lebih baik.
Kalau ego terus diturutin, yang ada kita bakal stuck di situ-situ aja.
Gak belajar, gak berubah, cuma makin pinter ngehindar dan nyalahin keadaan.
Kartini dipermasalahkan karena menjadi istri keempat.
Kartini dipermasalahkan karena Jawa.
Kartini dipermasalahkan karena hanya menulis surat-surat kepada seorang perempuan Belanda.
Kartini dipermasalahkan karena tidak berjuang memegang pedang seperti Cut Nyak Dien dan Kristina Martatiahahu, atau membuat sekolah seperti Dewi Sartika, atau menerbitkan koran seperti Roehana Koedoes.
Apakah kita pernah berdebat tentang Pangeran Diponegoro dan Teuku Umar terutama siapa yang paling pantas disebut pahlawan? Apakah kita pernah memperdebatkan mereka karena suku atau tipe perjuangan yang melekat pada mereka?
Sejarah dipenuhi berbagai tokoh laki-laki. Pahlawan bangsa dikerubuti oleh laki-laki. Foto-foto pahlawan kita di sekolah-sekolah dipenuhi oleh foto laki-laki. Tetapi kita tak pernah memperdebatkan tokoh-tokoh itu satu dengan lainnya.
Apa yang terjadi pada tokoh-tokoh perjuangan perempuan, pada setiap Hari Kartini: dipermasalahkan, diperdebatkan.
Apakah kita tahu bahwa Kartini adalah anak perempuan yang dinikahi di usia belia, yang reproduksinya belum sempurna, dan mengalami kematian saat melahirkan? Tahukah bahwa masa itu menjadi seorang perempuan Jawa itu lebih mengerikan daripada menjadi seorang perempuan Minangkabau?
Atau tahukah bahwa menjadi seorang perempuan bangsawan Jawa di masa feodal-konial abad ke-19 adalah tidak lebih baik daripada menjadi perempuan rakyat jelata ketika bicara soal kebebasan diri? Tahukah bahwa menjadi seorang kutu buku seperti Kartini, dengan wawasannya yang mendunia itu, dia tak bisa berbuat apa-apa karena posisinya waktu itu?
Kartini ibarat hidup dalam penjara. Sebagaimana tahanan penjara politik macam Pramoedya Ananta Toer, Kartini hanya bisa melawan dengan menulis. Menulis surat adalah salah satu cara supaya pemikiran-pemikirannya tentang pembebasan didengar. Kartini bersuara lewat surat-surat, sebagaimana orang-orang tahanan politik yang dipenjara.
Penyiksaan yang dialaminya adalah bagaimana kebahagiaan intelektualnya dipenggal. Bagaimana kecerdasannya dikerdilkan, karena dia seorang anak perempuan Jawa yang bangsawan, yang dipelihara di penjara bertembok keraton dan diharuskan berjalan dengan sangat pelan atau berjongkok-jongkok kepada yang lebih tua, atau bahkan kepada saudara laki-lakinya sendiri. Kartini sedemikian dibatasi karena dia seorang perempuan Jawa. Kartini demikian karena ia ingin menjaga Bapaknya. Bapaknya adalah pengantar kebebasannya pada apa yang disebut buku atau bacaan, wawasan, dan pendidikan.
Kartini mengungkapkan ketakutannya yang amat sangat dalam hal poligami, dimana Hukum Islam mengijinkan laki-laki kawin dengan empat perempuan. Dan masa menikah inilah yang paling dibencinya. Apa yang dibencinya adalah ketika tradisi Islam bercampur dengan Jawa, bahwa Jawa mengharuskan anak gadis menikah dengan laki-laki yang dipilihkan ayahnya, dan Islam membolehkan laki-laki berpoligami. Kartini tidak punya pilihan apa-apa dan merasa perkawinan akan membunuh dia sedalam-dalamnya dan memang masa itu pun terjadi.
“Aku tidak akan pernah, tidak akan pernah bisa mencintai. Bagiku, untuk mencitai, pertama kali kita harus bisa menghargai pasangan kita. Dan itu tidak kudapatkan dari seorang pemuda Jawa. Bagaimana aku bisa menghargai seorang laki-laki yang sudah menikah dan sudah menjadi seorang Ayah hanya karena dia sudah bosan dengan yang lama, dapat membawa perempuan lain ke rumah dan mengawininya? Ini sah menurut hukum Islam. Kalau seperti ini, siapa yang tidak mau melakukannya? Mengapa tidak? Ini bukan kesalahan, tindak kejahatan ataupun skandal; Hukum Islam mengizinkan laki-laki beristri empat sekaligus.
Meski banyak orang mengatakan ini bukan dosa, tetapi aku, selama-lamanya akan tetap menganggap ini sebagai sebuah dosa. Bagiku semua benih perbuatan yang menyakitkan orang lain (termasuk menyakiti hewan) adalah dosa. Bisa kau bayangkan derita seorang istri yang melihat suaminya pulang membawa perempuan lain yang kemudan harus diakuinya sebagai istri sah suaminya? Sebagai saingannya? Jika demikian, suami itu bisa ‘membunuh’ istrinya... Mustahil rasanya sang suami memberi kebebasan padanya!”
Kartini lahir sebagai feminis bukan dilahirkan dari teori-teori feminisme, karena seorang feminis adalah dilahirkan, bukan diciptakan. Kartini dan pikirannya bukan sesuatu yang terpisah, atau tidak memisahkan antara pengalaman dengan persepsi, pengalaman dengan diskursus.
---
Tulisan di atas adalah cuplikan dari artikel yang sangat bagus & kuat dari mbak @marianamiruddin yang versi lengkapnya bisa dibaca di web @jurnalperempuan.
Selamat Hari Kartini
21 April 1879–17 September 1904
Damai di surga, Perempuan yang mendahului zaman 🙏💜
Trik 👀 Yang Membuat Siapa Pun Jatuh Cinta Pada Anda,
1. Senyum dulu: Kemudian pertahankan kontak mata hanya 3 sampai 5 detik.
2. Aturan 50/70: 50% saat berbicara, 70% saat mendengarkan.
3. Memutus kontak: Lakukan dengan mulus ke samping atau ke atas, jangan pernah ke bawah.
4. Sedikit mengangkat alis = menunjukkan minat tanpa kehilangan fokus.
5. Beralih di antara kedua mata: Agar terasa alami.
Cara aku deep talk ke pasangan, untuk cari tau traumanya, tanpa maksa atau nyenggol egonya adalah..
Misal pas lagi santai depan TV,
“Bekas luka di tangan kamu itu kenapa?”
Dia bakal mulai cerita.. “Oh iya, dulu waktu kecil aku jatuh, bla bla bla..” lalu ceritanya bisa ngalir ke mana-mana.
Atau misalnya aku pengen tau kenapa dia boros banget, daripada langsung nyecer, “Kok kamu beli barang itu terus sih?” itu malah bikin dia defensif.
Aku mulai dengan percakapan,
“Ada gak barang impian yang kamu pengen banget dari kecil? Udah kesampaian belum?”
Dari situ biasanya dia akan cerita sendiri,
“Dulu aku pengen banget ini itu, tapi belum bisa beli. Baru kebeli pas…”
Nah, dari cerita-cerita kecil begitu, kita jadi bisa lebih paham alasan di balik kebiasaan, kesukaan, bahkan luka lama yang mungkin selama ini gak pernah dia ungkapkan.
Deep talk itu gak dimulai dari maksa cerita, tapi dimulai dari obrolan ringan, tanya dengan santai, klo dia mau jawab ya bagus, klo enggak juga gpp, klo dia mau cerita, tolong dengerin tanpa menghakimi.
Klo mau tau soal ketakutan, trauma, atau pengalaman masa kecilnya, bisa mulai dari pertanyaan yang santai juga, misalnya:
“Waktu kecil kamu paling bandel ngapain?”
“Atau ortu kamu dulu galak gak?”
Lalu bikin dia merasa aman, dengan cara kamu bisa sharing sedikit tentang masa kecilmu misalnya, “Oh gitu… aku dulu waktu kecil juga…”
Jadi suasananya bukan kayak wawancara, tapi kayak saling buka diri pelan-pelan. Biasanya justru dari situ timbul rasa percaya, dan dia juga merasa aman buat cerita, karena tau dia dingertiin. Hubungan jadi makin dalam setelahnya.