Arsenal aura working classnya bukan cuma dari sejarah, tapi juga dari identitas suporternya.
Ada stereotype “Arsenal fans complain terus, tapi ga pernah benar-benar ninggalin Arsenal. The real working class 🥰
Kami dibangun dari kesabaran, bukan uang minyak....eh
#WeAreTheArsenal
@karirfess Privilege terbesar orang kaya itu bukan tas atau mobil, tapi kesempatan buat jadi versi terbaik dirinya.
Lebih gampang jadi “wanita lembut, sabar, humble” kalau hidup aman, ayah fungsional, ibu waras. Emosional dan financial terpenuhi, .
Virtue is easier when life is kind to you
makin dewasa makin sadar kalau :
- sore ga perlu ngabuburit
- sahur ga se ngantuk dulu
- ternyata tarawih ga selama itu
- tamatin 1 juz sehari ternyata mudah
- buka puasa ga harus banyak jajan
- bukber di rumah sama keluarga lebih enak
☝️Tim yang menyebut nominal daripada bilang seikhlasnya.
Pernah minta tolong orang untuk membetulkan genteng yang bocor di NK. Kutanya berapa upahnya, katanyanya nanti saja seikhlasnya.
Setelah selesai, kutanya lagi berapa upahnya. Lagi-lagi dia njawab seikhlasnya saja. Akhirnya kuulurkan selembar uang 5 ribuan.
"Lho, kok cuma 5 ribu, Pak?" tanyanya. "Lha katanya seikhlasnya," jawabku.
"Seikhlasnya ya jangan 5 ribu, Pak. Paling tidak ya 60 ribu," sahutnya. Aku tertawa, kemudian menyerahkan selembar uang seratus ribuan. "Itu buat njenengan semua, termasuk yang 5 ribu tadi" kataku.
Sejak itu, kalo aku minta tolong, dia menyebutkan upahnya.
Ben kapok :)
Kesimpulan dari match hari ini:
- Calafiori belum 100% fit untuk main.
- Sorry, tapi Gabjes kalau jadi starting di PL, agak kurang.
- Just give Gyokeres that ball and we’re good.
- Duo Gyo x Kai dalam beberapa match terkahir work banget, even mereka tadi main barengannya cuman bentaran.
- Martinelli better as sub masih valid, panggil dia tukang lari-nya Arsenal.
- Declan fucking Rice. Thats it.
🗣️ "WhatsApp itu pribadi banget, ga bisa buat bahas kerjaan. Semua harus pake Slack. Ogah banget gue diskusi urusan kerja di WA."
Yes, di perusahaan bermodal besar atau startup sudah punya valuasi, bisa.
Slack dipake buat urusan kerjaan. Ga nyentuh ke ranah pribadi di WA. Ga ada WA Group sampe banyak.
Tapi, ga semua orang kerja di perusahaan besar.
Di banyak bisnis kecil, WhatsApp itu adalah alat komunikasi paling mudah dan cepat. Ga tau mereka pake Slack lah, team lah, ga ada itu.
Ini bukan soal privasi, tapi ini tentang efektivitas kerja (I purposely type like ChatGPT 😂).
Makes sense ya.
FOOTBALL HAS A FUNNY WAY OF HUMBLING PEOPLE
Arsène Wenger once said finishing in the Top 4 felt like a trophy.
They laughed.
They mocked him.
They branded him “a specialist in failure.”
Fast-forward a few years…
Clubs now finish 4th
Fans throw parades
Pundits call it “progress”
Social media calls it “a successful season”
Same achievement.
Different badge.
Different energy.
When Wenger said it, it was excuses.
When others say it now, it’s vision and project building.
That’s not football debate.
That’s double standards.
Wenger was just ahead of his time.
Protecting a club, balancing finances, competing in Europe, and keeping Arsenal relevant when others were drowning in debt.
They laughed then.
They celebrate it now.
History keeps receipts.
Arsene Wenger signed Nicolas Anelka for £500k, won the Premier League and FA Cup with him and sold him for £22.3m.
Then used the money to buy Thierry Henry for £11m and build Arsenal London Colney Training ground for £10m.
We don’t appreciate this man enough. A true legend 💪🫡
Ada yg merasa standup comedy tuh ga utk smua kalangan.
Salah. Seperti musik, standup comedy-nya justru utk semua kalangan.
Tapi standupnya Pandji yg ga utk smua.
Standupnya Radit yg ga utk smua
Sama seperti ERK juga ga utk smua
SO7 ga utk smua.
Krn tiap seniman punya segmen & penikmat masing2
🗣️ Gabriel Jesus: Aku SANGAT senang saat Vik [Gyökeres] masuk dan mencetak gol. Seorang striker tanpa gol itu selalu sulit, aku tahu betul hal itu—aku sudah berjuang dengan masalah ini sepanjang karierku. Dan aku 100% yakin, ketika Kai [Havertz] mendapatkan peluang, dia akan mencetak gol juga. ❤️
Saliba tentang dirinya dan Magalhaes: “Saya pikir kami patner terbaik di dunia. Tentu saja kami harus membuktikannya dengan gelar. Jika kami mengatakan kami yg terbaik dan kami tidak memenangkan apa pun, itu tidak berarti apa-apa!”
Valdi. Bisa yok soon!
Indonesia adalah negara yang unik: ratusan suku dan bahasa disatukan oleh satu payung politik yang relatif stabil dalam waktu lama. Ini sebuah anomali. Banyak negara lain gagal melakukannya. Belgia, misalnya, pernah berbulan-bulan tanpa pemerintah karena konstituensi berbahasa Flemish/Dutch, Prancis, dan Jerman tak kunjung mencapai kesepakatan.
Salah satu “antibodi” istimewa yang membuat Indonesia dapat mempertahankan kesatuan ditengah perbedaan, I would argue, adalah komedi: kefasihan warganya dalam mentertawakan perbedaan. Orang Sunda meledek Batak, orang Padang meledek Jawa, dan sebaliknya. Kemampuan menertawakan perbedaan adalah daya tahan terhadap perpecahan.
Sejak kecil, kita secara alami saling menggoda dan melempar canda; it's part of growing up cognitively. Namun, anak kecil belum mampu membedakan mana candaan dan mana agresi. Jadi kadang2 suka ngeledek aib keluarga :D. Salah satu kemampuan halus yang mahal — dan baru diperoleh saat benar-benar dewasa — adalah kemampuan membedakan keduanya. Karena ledekan, dalam dosis yang tepat, bukan sekadar humor, melainkan mekanisme pertahanan kolektif dan cara sebuah bangsa menyaring karakter pemimpinnya. And that's why comedian, kalau lucu tentu, are truly special people and have a vital role in a society.
Dalam budaya Inggris, orang saling melempar sindiran (teasing/banter), bahkan saat baru bertemu, untuk menguji: apakah kamu tipe yang narsistik dan mudah tersulut saat ditekan; sejauh mana kamu bisa mentolerir sindiran; atau justru orang yang mampu ikut tertawa, mengalir dengan candaan, bahkan membalas dengan humor. Ini penting, karena orang yang mudah tersinggung sulit dipercaya dengan tanggung jawab ketika krisis datang.
Seorang perdana menteri di Inggris bisa “dihabisi” di parlemen dengan cemooh dan sindiran. Kemampuannya merespons tanpa kemarahan bukan kelemahan, melainkan sinyal bahwa ia masih layak dipercaya untuk memegang kendali.
Kemampuan suatu bangsa untuk saling melempar canda tanpa tersinggung dan mengadu pada kekuasaan, adalah bentuk kedewasaan, dan ketahanan sosial.
Indonesia punya itu.
Lest we lose it.
i have no desire to be rich so i can buy a rolex or a lamborghini.
i want to be rich so i can control my time and go to the gym at 3pm on a monday.
sit at a cafe and relax for an hour on a rainy afternoon.
so i can cook meals at home with fresh ingredients.
spend on my family and friends without worrying about a budget.
that's my idea of a rich life, not the fake consumerist idea shoved down my throat.
“Mikel, lihat tabel. Saat kami terus berjalan, mereka mulai terpeleset.
Hasil City hari ini bukan kebetulan—itu tanda bahwa tekanan bekerja.
Jangan menoleh ke belakang, jangan tunggu siapa pun jatuh lagi.
Kalian yang tentukan takdir ini.
Finish the job !.”