Selamat untuk fans persib di manapun kamu berada.
Threepeat di liga itu sangatlah susah, rayakan.
Karena ini momen yg akan diceritakan terus menerus di waktu yg akan datang.
๐ค๐ค๐ค๐ค๐ค
Ini jokes tapi nyelekit banget karena terlalu nyata.
2021 semua orang bilang WFH adalah masa depan. Produktivitas naik. Work life balance membaik. Tidak perlu buang 3 jam sehari di jalan cuma buat duduk di depan laptop yang sama.
2024 komprominya hybrid. Dua tiga hari di kantor. Sisanya dari rumah. Semua orang bisa hidup dengan itu.
2026 tiba tiba balik lagi. Empat hari seminggu di kantor. Dan alasannya satu kata yang tidak bisa dibantah tapi juga tidak bisa dibuktikan.
Kultur.
Kita butuh kultur yang kuat. Kita butuh kolaborasi. Kita butuh energy yang cuma bisa ada kalau semua orang ada di satu ruangan.
Dan realitanya di ruangan itu?
Semua orang pakai noise cancelling headphones. Kepala menunduk ke layar masing masing. Tidak ada yang ngobrol. Tidak ada yang brainstorming spontan. Tidak ada magic kultur yang dijanjikan.
Yang ada cuma orang orang yang sama, ngerjain pekerjaan yang sama, yang bisa mereka kerjain dari rumah, tapi sekarang harus buang waktu dan uang buat transport dulu sebelum bisa mulai.
Dan ini relate banget di Indonesia.
Macet Jakarta rata rata 3 jam pulang pergi. Itu 60 jam sebulan. 720 jam setahun. Tiga puluh hari penuh dalam setahun habis di jalan.
Bukan buat meeting penting. Bukan buat kolaborasi yang tidak bisa dilakukan secara digital.
Tapi buat duduk di kantor sambil pakai headphones supaya tidak terganggu rekan kerja.
Yang paling ironis keputusan balik ke kantor ini hampir selalu datang dari orang yang kantornya punya parkir khusus, ruangan sendiri, dan tidak merasakan macet yang sama dengan karyawannya.
Kultur yang mereka maksud itu nyata.
Tapi kulturnya adalah bos bisa lihat lo duduk di kursi. Dan kalau bos bisa lihat lo duduk berarti lo kerja.
Bukan soal produktivitas. Bukan soal kolaborasi.
Soal kontrol.